Wanita Malam

Wanita Malam
Dua Pelindung


__ADS_3

"Tidak, jangan berterimakasih, kesalahanku bahkan sangat besar"


"Jadi kamu melakukannya karena rasa bersalah?"


Leon mengeryit "Bagaimana bisa kamu masih berfikir begitu"


"Aku mencintaimu, aku akan lakukan apapun untukmu, bukan karena rasa bersalah.. tapi karena aku menyadari aku sudah menyakiti wanita yang aku cintai dan menyianyiakan nya, dan aku sangat menyesal. Maka mulai detik ini aku akan memenuhi hidupmu dengan cinta, jadi jangan pernah berterimakasih selama kamu juga mencintaiku, maka kita sama- sama bahagia.. "


"Bagaimana jika aku tidak mencintaimu..?" mata Angel berkaca- kaca, dia sungguh terharu dengan kata-kata Leon, bukankah dia juga bersalah pada Leon.


"Aku tahu kamu mencintai ku bahkan saat Tuan Jo, menghajarku kamu menangis dan memintanya menghentikannya.. "


Angel menunduk "Pasti saat itu sakit sekali" Angel mengusap rahang Leon.


"Aku lebih merasakan hatiku yang sakit, saat tau bahwa aku sudah menyakitimu.."


"Tapi benar juga kamu belum mengatakannya?" Tambahnya.


"Meng.. mengatakan apa?" tangan Angel yang sejak tadi di rahang Leon segera terlepas.


"Mengatakan kalau kamu mencintaiku..ayo cepat katakan aku ingin mendengarnya!"


Angel mengerjap beberapa kali lalu berkilah "A..ku harus segera mandi" Angel akan bangun namun Leon menahan dan menghalanginya.


"Aku tidak akan melepaskanmu sebelum mendengarnya.."


"Ayolah Honey.." Tangan Angel bergoyang di genggaman Leon, mata Leon berbinar seperti anak kecil yang meminta permen.


Angel menggigit bibirnya "Aku Mencintaimu.."


Cup..


Angel segera melesat pergi. sebelum Leon menyadarinya, dia sudah berlari ke arah kamar dan memasuki kamar mandi.


Angel menyandarkan dirinya di balik pintu, lalu dengan berdebar tangannya menyentuh bibirnya.


Tak lama setelahnya, Angel merasakan pipinya terasa panas, "Astaga.. malu sekali.." Tapi Angel langsung tersenyum lega "Semuanya sudah selesaikan?, aku dan Leon bisa bersama.. dan kalian bisa hidup dengan baik bersama Daddy kalian" Angel mengusapi perutnya, dia bahagia setidaknya anak- anaknya kelak tidak akan mengalami apa yang dia alami, hidup tanpa Ayah sangat menyedihkan.


Leon masih duduk berjongkok di depan sofa dengan tertegun, baru setelah dia menyadari apa yang baru saja terjadi Leon terkekeh..


Leon tak menyangka Angel akan mencium bibirnya, meski hanya kecupan tapi itu sudah luar biasa..


Leon kembali terkekeh.. "Tahan Leon, jika kau singa.. maka kau harus melawan dua singa jantan pelindungnya.." Leon ingin melakukan sesuatu yang membuatnya melambung bersama Angel, melambung karena kebahagian juga kenikmatan.. sial baru kecupan saja dia sudah tidak tahan.


.


.


.


Siang harinya Angel dan Leon menemui dokter Carol untuk memeriksa lebih lanjut keadaan Angel sekarang.


"Jadi kamu tidak bermimpi beberapa hari ini?"


"Ya, tepatnya saat Leon selalu menyelinap masuk ke kamarku"


Leon mengelus rambut Angel "Benarkan aku adalah obatnya" kata Leon dengan bangga.


Dokter Carol mendengus kearah Leon, Dokter Carol sudah mengenal Leon, dia datang tempo hari untuk menanyakan kondisi Angel. Dokter Carol tersenyum kearah Angel "Jadi berhati-hatilah.. obat pun jika terlalu banyak di konsumsi maka kita akan mengalami over dosis, jangan sampai kau over dosis karenanya ya!" Angel tersipu.

__ADS_1


Sedangkan Leon mendengus, "Aku akan terus memberikan cintaku, bila perlu sampai cintaku tak tertampung olehnya"


Dokter Carol menuliskan sesuatu, tak perduli dengusan Leon " Seberapa pun tuan Leon menjadi obatmu, kamu tetap tidak boleh bergantung pada obat itu sendiri, Jadi mulai sekarang kamu tak perlu obat lagi? fokuslah pada bayimu.. dan jaga kesehatan kalian."


"Apa aku sudah sembuh?"


"Itu tergantung dirimu Nona, ketakutan itu tidak akan muncul jika kamu tak membiarkannya masuk, suatu hari nanti jika kamu membiarkannya masuk kamu akan ketakutan lagi."


"Maka buang jauh- jauh ketakutanmu.."


.


.


"Aku tidak menyukai dokter itu.."


Angel mengeryit, "Kenapa?"


"Apa- apaan dia bilang kamu tidak boleh terlalu bergantung padaku.."


Angel tersenyum.. "Dokter Carol benar, jika aku tergantung padamu, lalu bagaimana jika kamu tidak ada.." Leon menghentikan mobilnya, dan melihat kerah Angel dengan raut keberatan.


"Memang aku akan kemana?"


"Kamu tidak akan pulang?"


Leon menghela nafasnya "Jika pun aku pulang aku akan membawamu.. lagipula kita akan menikah" Leon melajukan mobilnya kembali, beruntung mereka masih disekitar klinik Dokter Carol hingga tak menghalangi laju kendaraan lain.


"Ingat ini, kita akan selalu bersama"


Angel tersenyum "Bagaimana dengan tunangan mu?" dia ingin tahu tentang kelanjutan pertunangan Leon, setelah dihancurkan Daddy Jo.


"Kamu tak peduli tapi bercinta dengannya..?" Angel memalingkan wajahnya saat mengingat adegan Leon menunggangi Emily tempo hari.


Leon tertegun, hampir saja dia tak fokus.. Leon memilih menghentikan mobilnya dan masuk kesebuah parkiran mini market.


"Kenapa berhenti, kamu mau beli sesuatu..?"


Leon tak menjawab dan meluruskan duduknya menghadap Angel.


"Mari bicarakan ini, dan jangan berfikir buruk lagi.."


"Aku minta maaf, sudah kubilang kesalahanku sangat besar bahkan aku melakukannya dihadapamu, namun tak ada cinta sama sekali, bahkan aku hanya memikirkanmu saat itu, maaf karena kemarahan ku aku melakukan hal bodoh itu, kamu memang pantas marah padaku, bahkan kamu juga tak perlu memaafkanku, cukup beri aku kesempatan untuk merubahnya, untuk bersama mu dan mencintaimu."


"Tak ada siapapun, tak ada yang lain, hanya ada kamu di sisa hidupku.." Leon menunduk kedua tangannya masih menggenggam tangan Angel.


"Jadi kita akan menikah?"


Leon mengangguk pasti "Tentu saja"


"Kapan itu?" tantang Angel.


"Aku harus mempersiapakan diriku dulu, kamu tahu aku haru melawan dua singa jan tan jika aku ingin selamat dan mendapatkan putri mereka"


Angel tertawa "Kamu singa yang takut singa.."


"Ini berbeda, pertaruhannya adalah wanita paling berharga, salah sedikit saja aku bisa di tendang hingga tak bisa melihatnya lagi.. mana berani aku gegabah.."


Angel semakin tertawa "Kamu senang sekali melihat ku frustasi.."

__ADS_1


"Itu seharusnya menjadi pembuktian untukmu"


"Ya, akan ku buktikan lihat saja.. tapi bisakah aku minta sesuatu untuk penyemangatku " Leon menarik Angel hingga jatuh duduk di pangkuannya.


"Apa yang kau lakukan..?" Angel melihat sekitarnya, mereka masih ada di parkiran mini market.


"Ayo berikan!"


"Apa"


"Seperti tadi pagi.."


"Apa?"


"Kamu pura-pura lupa apa yang kamu lakukan padaku tadi pagi.."


"Eh..? Leon kamu tak punya malu, ini dimana" Angel memukul bahu Leon.


"Kacanya gelap dari luar jadi kita akan aman.."


"Aku tidak mau.." Angel berusaha melepaskan diri.


"Aku tidak akan melepasmu sebelum kamu memberikannya.."


Leon bahkan memberikan wajah datar, hingga Angel meneguk ludahnya karas.


"Aku harus melakukannya..?"


"Hum"


"Disini?"


"Hum"


"Baiklah, pejamkan matamu"


"Kenapa?"


"Mau tidak..?"


Leon mendengus "Baiklah" Leon memejamkan matanya.


Angel menarik nafasnya lalu mendekatkan wajahnya ke bibir Leon, saat jarak semakin dekat Angel memejamkan matanya.


Saat merasakan nafas Angel semakin dekat, Leon mengangkat sudut bibirnya, tepat saat Angel menempelkan bibirnya dan hendak menarik diri, tangan Leon meraih tengkuknya dan menekannya kembali merapatkan bibir mereka.


Leon melu mat nya lembut, memberikan sapuan pada bibir Angel yang berwarna merah cerry.


.


.


.


Like..


Komen..


Vote..

__ADS_1


__ADS_2