
Angel mengerutkan keningnya saat melihat seorang perawat masuk dengan sebuket bunga mawar putih, sudah dua hari perawat terus membawakan buket bunga untuk nya namun ketika ditanya, pemberian dari siapa, sang perawat menjawab.
"Saya hanya menerima dari seorang kurir Nona dan kurir itu tak menyebutkan nama pengirimnya"
Angel kembali meneliti jikalau ada sebuah kartu ucapan terselip hingga dia tahu siapa pengirimnya.
Angel mendesah tak ada kartu ucapan sama sekali, Angel masih memegang bunga mawar putih tersebut hanya ada segelintir orang yang tahu Angel suka mawar putih, Ada Mom, Daddy Axel dan Matteo.
Sedangkan Mommy, dan Daddy Axel baru saja keluar untuk bicara dengan dokter mengenai kondisi Angel.
"Apakah Daddy Jo, Mom Lily.. ?" Angel mengambil ponselnya lalu menekannya, dan meletakkannya di telinga hingga terdengar suara di sebrang sana.
"Ya Honey? Daddy akan segera kesana, mau Dad membawakan sesuatu untuk mu.." Angel tercenung sesaat, dia kira mungkin Daddy Jo, yang mengirimnya tapi jika mereka setiap hari akan datang ke rumah sakit untuk apa meminta kurir untuk mengirimnya?.
"Tidak Dad, aku kira Daddy dan Mom tidak datang aku menunggu.."
"Daddy dan Mommy akan segera sampai, Daddy juga membawa seseorang yang ingin bertemu denganmu"
"Baiklah Dad, aku menunggumu.."
Setelah Angel mematikan ponselnya dia kembali merenung, Jika bukan orang-orang terdekatnya lalu siapa?
Tiba-tiba jantungnya berdebar kencang mengingat satu nama yang dia harap pemberi bunga tersebut, namun ketika Angel mengingat sesuatu, dia hanya bisa menunduk lesu.
"Lupakan dia Angel, dia sudah bertunangan.." Angel mengingat Leon, apakah dia?
"Lagi pula untuk apa dia mengirimkan mu bunga, dia begitu membencimu.." Jonathan dan Axel sepakat tidak akan membicarakan apapun lagi tentang Leon, mereka takut Angel kembali bersedih, maka Jonathan memutuskan untuk tidak menceritakan tentang apapun yang terjadi pada Leon setelah acara pertunangan yang dia hancurkan.
Angel kembali mengingat perlakuan Leon padanya, juga kata kata Leon yang membekas di hatinya Leon yang mengatakan bahwa dirinya hanya seorang ja lang.. membuat hatinya terasa amat perih.
Angel menunduk merasa sedih, mengapa ini menimpanya, disaat Angel ingin meminta maaf dan mengakui kesalahannya dia malah melihat Leon ber cinta dengan ganas bersama wanita lain, yang Angel tahu kini bahwa wanita itu tunangan Leon.
Apa Leon mempermainkannya jika Leon mempunyai tunangan, mengapa dia masih mendekati Angel untuk bersamanya..
"Mengapa kamu melukaiku.."
"Jika tidak mau, kenapa memaksaku.."
__ADS_1
"Aku bukan Ja lang.." Angel menyeka air matanya "Bukan salahku jika aku sudah tak suci lagi.."
"Aku.. aku..." Angel semakin terisak. "Aku tidak bersalah"
"Ini salahnya.. salah orang itu.." Jika saja Angel tak di le cehkan mungkin dia juga tak akan di katai Ja lang oleh Leon, dan mungkin jalan mereka akan berbeda, mungkin dia dan Leon akan hidup bahagia.
Tapi, seandainya dia tak mengikuti dendamnya dan memanfaatkan Leon, mungkin Leon tak akan marah, dan menyakitinya, Ya.. ini adalah salahnya.
Angel mulai meremat rambutnya..
Angel belum sembuh, hatinya masih sering menyalahkan diri sendiri atau orang lain, tentang apa yang terjadi padanya. Angel memang sudah bertekad untuk sembuh, namun alam bawah sadarnya masih terus sering membisikinya, seperti luka yang membekas, bisikan itu belum pergi.
Tiba-tiba Angel melihat sekelebat bayangan, seorang pria berwajah merah, dengan mata yang juga merah menyala.. menatapnya dengan tatapan lapar dan menakutkan.
["Anak manis kau tak perlu takut, aku tidak akan membunuhmu" ]
[ "Mau ku ajarkan sebuah permainan, ini permainan yang seru"]
["Ayolah.. anak manis"]
"Tidak.. tidak... Aku tidak mau.. pergi!!" Angel beringsut duduk mengerut di ranjang, lalu Angel menutup telinganya.
Angel melempar barang- barang di nakas sembarang arah,hingga berhamburan, Angel meraih apa saja yang ada di dekatnya, melempar ke arah suara suara itu datang..
["Aku benar- benar bodoh, menganggap mu polos, rupanya kau tak seperti yang ku kira.. Ja lang"] lalu suara Leon terdengar.
["Ayolah anak manis"]
[ "Mau ku ajarkan sebuah permainan, ini permainan yang seru"] suara pria menyeramkan itu terdengar lagi.
Berganti kembali dengan suara Leon..["Aku benar- benar bodoh, menganggap mu polos, rupanya kau tak seperti yang ku kira.. Ja lang"]
["Ayolah.. anak manis"]
Suara itu terus bergantian dan terus menghantam Angel.. Angel turun dari ranjang dan berlari ke sudut ruangan, tak peduli jarum infus yang menempel ditangannya tercabut, tak dihiraukan pula ketika darah mengalir dari bekas jarum infus yang tercabut paksa.
Angel- hanya terus membenamkan dirinya dikedua lututnya di sudut ruangan.
__ADS_1
"Akhhh tidak.. ku mohon menjauh.. tidak mau.. Akhhh.."
Pintu ruangan terbuka dengan cepat menciptakan suara debuman, gerakan panik pun tercipta kala melihat situasi di kamar Angel yang berantakan, namun fokusnya beralih pada Angel yang masih duduk sambil berteriak histeris, dengan darah segar di tangannya yang mengalir dan mengotori wajah Angel.
"Astaga, Angel..!" teriaknya, dia mendekat dan memeluk Angel.
"Tidak.. tidak jangan mendekat..pergi!!!"
"Pergi..!!"
Tak peduli apa kata Angel, dia hanya mendekap Angel dan berusaha menenangkan meski dipukul di jambak dan di cakar, satu tangannya berusaha menghentikan pendarahan di tangan Angel dengan menekannya, dan sebelah tangan lagi memeluk Angel, tak di pedulikan darah Angel yang mengotori kemejanya, dia hanya harus menenangkan Angel.
"Tidak aku bukan Ja lang..!!" teriaknya lagi.
"Ya, bukan. Kamu bukan Ja lang.."
"Dengar aku.. lihat aku.. aku disini"
Angel melihat mata itu, mata yang penuh kesakitan, lalu tiba-tiba pandangannya memburam dan... Gelap.
Angel tak sadarkan diri.
.
.
.
Like..
komen..
vote..
๐น๐น๐น๐น๐น
Karena tadi ada kesalahan, dari Ntoon nya. gak tahu kenapa part yang aku buat jadi nyelip di tengah.
__ADS_1
tapi sekarang udah aku benerin, cuma sekarang komentarnya jadi kebalik, yang part kemarin jadi hari ini๐คง mau kesel juga gimana ya๐ข
Ya,, sutralah..๐