
Axel tak melupakan janjinya pada Angel namun karna sejak semalam Dion sudah memperingatinya hari ini ia akan sibuk maka Axel bersiap pagi pagi sekali hari ini adalah waktunya melancarkan rencananya menguasai Mich corp.
Sebenarnya Axel enggan keluar rumah ia ingin menghabiskan waktunya dengan Baby dan Angel ia mulai merasa nyaman dengan Angel, Baby benar Angel anak yang manis,ah anak itu mungkin marah padanya karna Axel mengingkari janjinya,namun Axel ingin semuanya cepat selesai dan memberikannya kebebasan untuk menjalani hidupnya dengan Baby.
Ami terus menghubunginya mungkin karna Jonathan mulai kelabakan karna direktur keuangannya telah lari dan menggelapkan uang perusahaan yang jumlahnya tak main main, Jonathan pasti meminta adiknya untuk membujuknya agar tak melaporkan Jonathan ke polisi akibat kerugian yang juga pastinya di alami Axel, apalagi dana yang di gelontorkan Axel pada Mich corp cukup besar.
Benar saja begitu tiba di kantor Jonathan dan Ami sudah ada diruangan Axel.
"Ada apa dengan mu tuan Jonathan aku menginvestasikan uang yang tak sedikit padamu dan kau bukan hanya menghancurkan proyek kita tapi menghilangkan uangku, aku dengar sudah tiga hari pembangunan mall yang kau bilang akan jadi mall terbesar di negeri ini mangkrak,kemana janji manis mu itu" Axel membanting berkas di atas meja sampai sampai Ami pun terjengit kaget.
"Ayolah sayang, ini baru tiga hari belum satu bulan" Ami mencoba membujuk Axel.
"Tiga hari kau bilang.. dengar dalam tiga hari berapa miliyar uang yang aku hasilkan, dan dalam tiga hari karna kalian berhenti aku mengalami kerugian besar" Axel menghela nafasnya mencoba mengendalikan emosinya "Maafkan aku.. tapi ini masalah pekerjaan" Axel menunjukan rasa bersalahnya pada Ami,lalu menggenggam tangannya.
Ami hanya mengangguk mengerti, ia juga tak menyangka kakaknya menghubungi pagi pagi sekali dan memintanya bertemu di kantor Axel, Ami mengerti Axel mungkin juga lelah ia baru tiba dari luar negeri dan harus mendengar kabar buruk ini.
"Tidak masalah sayang aku mengerti"
Axel memang pergi keluar negeri, namun beberapa hari ini sudah pulang untuk mencegah kepergian Baby dan memastikan kesepakatan mereka belum berakhir.
Jonathan masih terpekur ia tak menyangka saat ia mempercayakan Mega proyek mereka pada sahabatnya sendiri tapi orang itu justru berhianat dan lari dengan semua uangnya, yang Jonathan tak habis fikir orang itu seolah hilang di telan bumi pergi tanpa jejak sedikit pun,belum lagi direktur keuangannya juga menggelapkan dana perusahaan dan sekarang dirinya yang harus menerima konsekuensinya, Jonathan merasa ada yang janggal,kenapa semua terjadi bersamaan, namun ia harus fokus dulu agar kerja sama dengan Axel tak di batalkan apalagi kerugian Axel juga tak sedikit dan akan menyeretnya kedalam bui.
"Aku akan bertanggung jawab, aku akan menemukannya kembali.."
Axel terkekeh, "Sampai kapan? bahkan orang itu hilang tanpa jejak, kau harus tau tuan Jonathan semakin lama kau membuang waktuku semakin banyak kerugian yang kuterima"
"Aku akan menjaminkan semua sahamku" putusnya.
"Kak.." Ami hendak protes namun Jonathan kembali bicara.
"Tenanglah Ami, apa yang kau takutkan Axel suamimu"Jonathan yakin jika Axel bisa dipercaya terlebih Axel terlihat begitu mencintai Ami adiknya.
__ADS_1
Axel kembali terkekeh lucu sekali si brengsek Jonathan ini "Aku sudah tekankan padamu tuan Jonathan ini pekerjaan dan aku tak pernah mencampurkan urusan pekerjaan dengan personalku.." Axel menjeda sebentar lalu melihat kearah Ami, dan menatapnya dengan penuh rasa bersalah "Maaf Ami tapi kakak mu harus bertanggung jawab.."
Ami dan Jonathan membulatkan matanya
"Apa maksudmu..?" mereka bertanya serentak.
Axel menghela nafasnya "Aku mungkin bisa memaafkan mu tapi, para direksi tidak mungkin semudah itu dan aku juga harus bersikap netral bukan"
"Axel maksudmu kau akan menuntut kakak ku.." Axel mengangguk "Axel, sayang ayolah.." Ami merengek dan mencoba meyakinkan Axel.
Tanpa mereka sadari Axel sedang mengumpat dalam hati ia harus berusaha mempertahankan wajah malaikat nya di hadapan mereka dan Axel sudah tak tahan, Axel mengusap wajahnya kasar, Axel yakin jika ia masuk nominasi penghargaan aktor berbakat ia pasti akan menang mengingat aktingnya yang meyakinkan Ami dan Jonathan.
Ami sudah menangis "Axel sayang tolonglah dia kakak ku..apa kamu tega pada keluargaku,bukan kah keluargaku keluargamu juga" ia berharap Axel akan luluh.
"Baiklah, hanya kali ini saja, aku akan meyakinkan mereka tapi sebagai gantinya kamu harus menjaminkan sahammu karna itu satu satunya cara meyakinkan mereka "
"Benarkah?" Axel mengangguk "Terimakasih.. aku mencintaimu Ax" Ami pun menghambur ke pelukan Axel, posisi Axel membelakangi Jonathan maka ia tak perlu menyembunyikan rautnya lagi, ia hanya bisa menahan diri agar tak melempar Ami, ia sungguh muak dengan kedua saudara ini sama sama penjilat.
Dan benar saja Ami mengangkat jari jempolnya kearah Jonathan di balik punggung Axel, yang di balas anggukan puas oleh Jonathan.
Axel mengurai pelukannya "Baiklah aku harus menemui para direksi untuk meyakinkan mereka, kau bisa tunggu disini jika kau mau, hari ini kita akan bertemu Nenek dan kau juga tuan Jonathan aku akan minta sekertarisku untuk membuat surat perjanjiannya" Jonathan mengangguk puas, cukup untuk saat ini, ia lumayan lega karna kerja sama nya masih berlanjut, dan mulai sekarang Jonathan harus turun tangan sendiri agar tak terjadi kerugian lebih besar lagi.
Jonathan juga akan mencari kemana larinya direktur keuangannya itu.
"Baiklah.."
Axel keluar ruangan untuk menghadiri rapat direksi yang sengaja diadakan mendadak karna kondisi yang di ciptakan Mich corp cukup mengguncang mereka, Axel memang pemegang saham terbesar tapi tetap saja Axel tak boleh mengabaikan mereka untuk mengambil keputusan.
Axel masih berdiri di depan pintu dan mendengar perkataan Ami dan Jonathan..
"Kau benar Axel ternyata begitu mencintaimu,buktinya dengan mudah dia mengalah hanya karena kau yang berbicara"
__ADS_1
"Aku sudah bilang kan, Axel sudah berubah dia lebih perhatian akhir akhir ini jadi kakak tenang saja semuanya akan berjalan dengan lancar"
"Ya, aku tak perlu khawatir lagi, karna dengan mudah Axel akan takluk dengan pesona adikku ini, aku yakin setelah ini kau bisa menguasai perusahaan ini, kau hanya perlu membujuknya dan memperlakukannya dengan baik..seperti kata Papa.." mereka tertawa dengan puas, tak menyadari Axel masih mendengar di balik pintu dengan rahang terkatup dan tangan terkepal menahan amarah.
Sialan.
Dua jam berlalu Axel sudah keluar dari ruang rapat di ruangannya masih ada Ami, yang menunggu dengan senyum yang masih tersungging di bibirnya tangannya memegang berkas yang sudah di tanda tangani oleh Jonathan.
"Kakak sudah tanda tangan, sekarang giliranmu, maaf tak menunggu kakak langsung pergi ke lokasi proyek"
"Hmm" Axel duduk di kursinya dan meraih berkas di tangan Ami.
Ami memeluk Axel dari belakang dan memberi gerakan menggoda "Sayang bisakan kita lakukan itu, aku sungguh merindukanmu" Tangan Ami membelai dada Axel dan mulai merambat turun kearah selang kangan Axel, namun Axel menahan tangan Ami..
"Tidak sekarang Ami, kita akan kerumah Nenek sekarang.. dia pasti sudah menunggu.." Ami mencebik tapi ia bangkit dan menuruti Axel.
Ami mengumpat dalam hati 'Nenek tua sialan katanya ingin cicit,tapi terus mengganggu' Ami mulai bingung jika terus begini kandungannya akan semakin besar, sedangkan Axel sudah satu bulan tak menyentuhnya terakhir kali Axel melakukannya Axel selalu membuang sp*rma nya diluar,dan selalu begitu.., dia pasti tak akan percaya jika anak yang di kandung adalah anaknya mengingat usia kandungan dan Axel tak pernah memasukan sama sekali sp*rmanya di rahim Ami.
Baiklah Ami harus membujuk Axel lebih keras lagi..
.
.
.
Like
komen
vote..
__ADS_1