
Setelah Jonathan pergi kini tinggal Leon, dan Angel yang berdiri canggung.
Namun kecanggungan itu tak lama, karena pelayan datang membawa menu yang sudah mereka pesan.
Angel melihat Leon menatapnya dengan senyuman yang tak lepas, Angel kira Leon orang yang ramah hingga dia terus tersenyum padanya, senyum yang menambah ketampanan pria itu, tapi ternyata Leon tak terlalu menunjukan itu saat ada Jonathan tadi, Leon hanya tersenyum ke arahnya saja dan nampak biasa saat bicara dengan Jonathan apalagi saat Jonathan mengatakan bahwa dia akan mengambil Angel untuk Alcio anaknya, tatapan Leon berubah tajam.
Angel menyadari Leon berlaku spesial hanya padanya ,dan membuatnya semakin dilanda rasa bersalah..
"Emm Leon aku mau ke toilet.."
"Perlu ku antar?"
Angel menggeleng "Tidak, aku bisa. "
"Yah, hati hati"
Angel pergi dari meja mereka dan menghampiri seorang pelayan perempuan untuk mengarahkan nya ke toilet.
Angel meremas tangannya, lalu beberapa kali menghela nafasnya, untuk menenangkan gejolak dihatinya.
Tidak apa, yang dilakukannya sudah benar..
dia terus meyakinkan hatinya,, setidaknya Jonathan harus sedikit terpuruk.. agar dia tahu cara untuk tak membuat orang lain menderita karena ulahnya.
Setelah beberapa saat rautnya kembali seperti semula, Angel memutuskan untuk kembali, cukup untuk sekarang se
tidaknya dia sudah dikenal Jonathan dan keluarganya, akan sangat dicurigai jika dia terlalu banyak bicara.
Saat akan keluar dari toilet, Angel berpapasan dengan wanita paruh baya "Angel?"
Angel menoleh tak disangka akan bertemu lagi secepat ini "Nyonya Michael" Angel tersenyum menyapa.
"Sudah selesai?"
"Ah, iya nyonya silahkan" Angel mempersilahkan istri Jonathan untuk masuk kedalam toilet.
"Bisakah tunggu sebentar aku tak akan lama" Angel mengeryit namun mengangguk.
Setelah beberapa saat menunggu istri Jonathan sudah keluar "Maaf apa kamu kesal menunggu?" Tanyanya tak enak.
Angel menggeleng "Sama sekali tidak nyonya"
"Tolong jangan panggil Nyonya,aku merasa tak enak.."
"Panggil saja aku Aunti Lily ya?"
Angel mengangguk "Baiklah Aunti, jika begitu apa yang ingin anda bicarakan"
"Beberapa hari lalu temanku menghadiri pameran lukisan dan aku ikut, sepertinya aku juga melihat mu,apa kau seorang pelukis..?"
"Ah, ya.. saya salah satu pelukis yang ikut serta dalam pameran.."
"Ah, itu bagus.. begini, beberapa hari lagi kami akan merayakan Anniversary, maukah kau melukis untuk hadiah ku untuk suamiku"
__ADS_1
Angel menelan ludahnya kasar, semakin dia mendekat pada keluarga Jonathan kenapa rasanya semakin ragu.
Tapi ia tak bisa menyia-nyiakan kesempatan ini, dia bisa langsung masuk ke dalam keluarga Michael.
"Saya akan sangat tersanjung melakukannya Aunti"
"Ah, terimaksih..aku akan meminta supir menjemputmu nanti, beritahu aku kamu menginap di hotel mana.."
.
.
.
Angel berjalan kearah meja Leon yang sedang menunggu "Lama sekali, aku fikir jika lima menit lagi kamu tidak keluar aku akan menyusul"
Angel mencebik lalu tersenyum "Maaf.. Leon bisakah keliling kota nya kita tunda aku sedikit merasa pusing"
"Kamu sakit, Apa kamu baik baik saja?" Leon terlihat khawatir, Angel menggelengkan kepalanya.
"Aku baik baik saja, hanya pusing sedikit.."
"Oke, sekarang kita pulang" Leon memanggil pelayan untuk membayar tagihan, lalu menyerahkan kartu platinumnya, namun Angel mencegahnya.
"Biar aku saja" katanya namun Leon juga mencegah Angel..
"Tidak aku laki-laki aku yang membayar"
Angel bersikeras "Tapi aku yang mengajakmu, dan merepotkan mu, jadi aku yang bayar.."
Leon terdiam, baiklah dari pada dia kehilangan kesempatan untuk pergi bersama Angel.
"Oke" Angel tersenyum lalu mendorong kartunya.
"Begitu baru bagus.."
Leon hanya menggeram dalam hati 'Gadis ini.., membuatku gemas saja'
Mereka memutuskan kembali ke hotel, Leon sempat menanyakan apakah Angel ingin ke klinik untuk memeriksa pusingnya, namun Angel menggeleng dan meyakinkan Leon dia baik baik saja dan hanya perlu istirahat, Akhirnya Leon pasrah dan melanjutkan perjalanan kembali ke hotel.
Tiba di hotel, Leon kembali mengantar Angel hingga masuk kedalam kamar..
"Selamat malam, istirahatlah.." Leon tersenyum lalu berbalik hendak pergi ke kamarnya, sebenarnya moodnya sedikit turun karena jalan jalan mereka tidak berjalan mulus, tapi bisa makan berduaan dengan Angel juga menyenangkan meski di sepanjang mereka makan ,Angel hanya diam dengan ekspresi yang tak bisa Leon tebak.
"Leon.." Leon berbalik dan melihat Angel masih berdiri di depan pintu.
"Ya..?"
"Maaf karena kita tidak jadi pergi.."
Leon tersenyum "Tak masalah, masih ada lain kali, aku dengan senang hati akan mengantarmu nanti"
Angel tersenyum lalu melangkah kearah Leon, tangannya mengepal menahan gemetar yang ada di sekujur tubuhnya, dia melangkah hingga mereka hanya berjarak satu langkah saja, Leon menatap Angel dahi nya mengeryit dengan heran lalu bertanya.
__ADS_1
"Ada ap.."
Cup..
Suara Leon teredam oleh sebuah kecupan yang mendarat di pipinya, hingga membuatnya mematung.
"Terima..kasih, se..lamat malam" katanya sambil terbata, Angel berlari kearah pintu dan menutup nya kencang..
Brak..
Angel menyandarkan punggungnya di pintu, dan meraba mulutnya yang tadi mencium pipi Leon.
Dadanya bergemuruh hebat, apa ini? kenapa rasanya seperti ini, kedua tangannya menahan dadanya yang seolah akan melompat keluar, dia hanya ingin membuktikan apakah mimpinya akan datang lagi nanti malam, jika dia mencium Leon, atau kejadian kemarin hanya kebetulan saja.
Angel kira Leon akan menciumnya kembali, namun Leon tak melakukannya hingga dia berbalik akan pergi, maka dengan mengumpulkan keberaniannya Angel mencium Leon, dan sekarang dia jadi menyesal sendiri.
Angel menggeleng lalu merutuki sikap bodohnya mencium Leon, bagaimana jika Leon menyalah artikan sikapnya barusan, dan menganggapnya memberi harapan, Angel menggeleng lagi, tidak.. tidak mungkin seperti itu kan, Angel yakin Leon hanya mengangggap nya sebagai sikap yang biasa orang lakukan, bahkan di negara mereka laki-laki dan perempuan terbiasa dan lumrah jika hanya sekedar ciuman di pipi, apalagi Leon juga terbiasa dengan perempuan bahkan lebih dari sekedar ciuman pipi saja.
Angel tak tau jika tingkah impulsifnya membuat Leon melambung tinggi, seolah harapan untuknya terbuka lebar.
Leon masih belum bergerak dari tempatnya, tangannya terulur menyentuh pipi dan mengusapnya pelan, "Astaga aku tidak akan cuci muka sampai besok.."
Leon berteriak tertahan saking senangnya dia berjingkrak sambil berlari kearah kamarnya.
Tidak masalah tidak jadi jalan- jalan, yang penting Leon sudah punya sinyal bagus dari Angel, dan dia tak akan menyia-nyiakan nya, perjuangannya baru akan dimulai.
Saat tiba di depan pintu kamarnya Leon mengeryit melihat seorang perempuan tengah menekan bel pintu kamarnya.
"Emily..?"
Perempuan tersebut berbalik dan langsung tersenyum lebar saat mendapati Leon dihadapannya.
"Leon aku merindukanmu" perempuan itu menghambur memeluk Leon.
.
.
.
Mohon maaf kalau ada Typo, aku ngetik sambil ngantuk, semalam abis begadang nungguin Bayi kecilku..
jangan lupa mampir ke karya baruku.
First love
Like..
komen..
vote..
__ADS_1
🌹🌹🌹