
Baby masih meringkuk sambil terisak, lalu ia merasakan sebuah tangan melingkar di pinggang nya, begitu hangat dan erat.
"Jangan bersedih lagi.." Baby merasakan dirinya tercekat, mengapa ia bisa lupa diri, mengapa ia tidak ingat dengan sosok ini, sosok yang selalu menemaninya, Baby sungguh egois mengapa ia mengurung diri di kamar, bergelung dalam kesedihannya sedangkan ada sosok kecil yang membutuhkannya..
"Mom..?" panggilan dari gadis bertangan kecil yang masih memeluknya erat."Angel ada disini.."
Baby berbalik dan melihat tatapan sedih Angel "Maafkan mom, sayang.. maaf" Baby membawa kedua tangan mungil itu untuk di kecup, Angel duduk menyilangkan kakinya lalu membungkuk memberikan kecupan di pipi Baby.
"Mom, jangan bersedih lagi, mom tidak sendiri ada Angel yang akan selalu menemani Mom, Angel janji Angel tak akan kemana mana, Angel juga gak akan tinggalin mom" Benar hanya ada Angel, hanya mereka berdua, dan Baby harus bangkit ia harus terus berjuang demi putri kecilnya, Baby harus cepat berfikir setelah ini ia harus apa,mulai sekarang Baby harus berfikir apa yang akan ia lakukan untuk mencari uang,mengingat Axel sudah membuangnya. yang jelas ia tak boleh kembali ke dunia malam, ia tak ingin Angel tumbuh dengan uang yang tak baik lagi.
"Maafkan mom, Angel. Baiklah mom tak akan bersedih lagi, mulai hari ini kita akan membuka lembaran baru, hanya ada kita..mom dan Angel" Baby mengusap air matanya, harapan untuk tinggal dan bahagia dengan Ibunya telah terhapus kini hanya ada dirinya dan Angel saja.
"Dan om tuan..?" mata Angel memancarkan sebuah harapan, sejak Axel bersikap baik Angel jadi tak takut lagi pada Axel,dan dia mulai menyukai Axel, Baby menggeleng sambil tersenyum kecil.
"Tidak Angel tidak ada Tuan Axel, hanya ada kita.." Angel mengerucutkan bibirnya,padahal dia baru saja menemukan ide untuk menjadikan Axel Daddy nya, tapi sepertinya tidak bisa, anak itu harus menekan lagi keinginan nya untuk mempunyai Daddy.
"Mom, apa om tuan tidak bisa menjadi Daddy?"
Degh..
Baby merasakan jantungnya berdebar kuat saat mendengar pertanyaan Angel, Baby tak ingin Angel banyak berharap karena Baby menyadari itu tak akan terjadi maka ia harus mengatakan nya pada Angel..
"Angel mengapa bertanya seperti itu?"
"Angel suka om tuan, sepertinya om tuan juga suka mommy.. pasti.. bagus kalau om tuan jadi Daddy.." beberapa kali Angel melihat tatapan om tuan pada mommy nya dan om tuan selalu tersenyum saat melihat mommy nya, sebuah rencana yang bagus tapi sayang itu tak akan terjadi, Baby menggenggam tangan Angel lalu berkata..
__ADS_1
"Maaf mom tidak bisa berikan Daddy untuk Angel.. tapi.. mom berjanji mom akan menjadi mommy sekaligus daddy untuk Angel.." Angel menunduk, ia tak ingin menambah kesedihan untuk mommynya maka semuanya ia telan kembali.
"Mommy hanya bekerja disini, dan tuan Axel tak akan bisa jadi daddy nya Angel karna dia sudah punya keluarga.. apa Angel mengerti.." Angel mengangguk, rupanya begitu. "Juga.. mungkin kita akan segera pergi dari sini" Baby merasakan lidahnya tercekat saat mengatakan itu, ia sudah mulai nyaman tinggal di villa Axel ini dan Angel juga baru masuk sekolah baru nya, namun ia menyadari masanya segera berakhir.
"Kenapa mom, Angel suka disini, Angel juga suka sekolah nya bagus dan besar.." dan Angel baru memilik teman baru.
"Maaf sayang, tapi tuan Axel sudah tak membutuhkan mom lagi.. jadi.. kita harus segera pergi..."
"Ya sudah mommy, tidak apa.. Angel akan ikut kemanapun mommy pergi, tidak apa tidak ada daddy asalkan mommy jangan bersedih lagi.."
Baby memeluk Angel "Angel mau jalan jalan gak?"
"Kemana mom..?"
"Kemana saja asal Angel senang" Angel mengangguk.
"Okey sekarang kita bersiap" Baby menurunkan Angel dari ranjang dan memintanya menunggu Baby butuh menyegarkan dirinya matanya pasti bengkak karna terlalu lama menangis.
Baby membasuh wajahnya lalu melihat wajahnya di cermin begitu mengenaskan
"Baiklah Baby kau harus bangkit, ingatlah ada Angel bersamamu" untuk sesaat Baby mungkin memang hanyut dalam pesona Axel tapi kali ini Baby tak boleh terlalu dalam tenggelam, Baby mengira perasaan ini akan bilang dalam sekejap jadi ia tak perlu khawatir lagi.
Kesedihan itu masih ada, kematian ibunya, dirinya yang dibuang Axel, namun ia tak boleh lemah.
Tepat saat Baby keluar dari kamar mandi ponselnya berdering.
__ADS_1
Nama Dion tertera, ada apa Dion menghubunginya, apa ini tentang dirinya yang masih di villa Axel, apa Axel memintanya untuk segera pergi.
"Hallo Dion?"
"Nona ku baik baik saja?" di sebrang sana Axel mendengarkan suara Baby dengan berdebar, setelah berfikir banyak akhirnya ia biarkan Dion menghubungi Baby dan kini ia sedang mendengar suara Baby dari pengeras suara di ponsel Dion,rasa rindu pun menyeruak begitu mendengar suara Baby, ia merindukan Baby.
"Aku baik Dion.." namun Axel tau dari nadanya Baby tak baik baik saja.
"Aku turut berduka untuk ibu mu nona.."
Disebrang sana Baby tersenyum getir Dion saja mengucapkan bela sungkawanya lalu Axel? bahkan dia seperti hilang ditelan bumi, atau Axel sengaja menyuruh Dion..? apakah Axel benar benar tak sudi sama sekali untuk bicara dengannya.
"Terimakasih"
"Nona mengenai tuan Axel, aku ingin menyampaikan-" namun belum selesai Dion berkata Baby sudah menyela.
"Aku tau,,"
"Apa" Dion tak mengerti ia bahkan belum mengatakan bahwa tuannya sekarang tak bisa menghubunginya karna sedang sibuk dan berada diluar negeri, tapi Baby bilang dia tau?
"Ya, aku tau.. aku akan segera pergi, katakan pada tuan Axel, tenang saja aku ingat kesepakatannya,semuanya sudah selesai aku akan segera pergi dari sini.. aku hanya minta waktu beberapa hari untuk mencari rumah dan terimakasih untuk semuanya.." Axel mengeryit mendengar ucapan Baby, apa maksudnya? Baby akan pergi?
Axel merebut ponsel di tangan Dion lalu bertanya "Apa maksudmu..?" namun Baby sudah mematikan ponselnya.
"Sial.. kenapa dia bicara seperti itu, mau kemana dia" Axel tak ingat kesepakatan saat istri nya tau maka kesepakatannya selesai, tapi Dion ingat.. Dion tau isi perjanjian itu, karna dirinya yang membuat surat kontrak yang diinginkan Axel,dan Baby.
__ADS_1
"Tuan sepertinya,.." dengan takut takut Dion melihat ke arah Axel yang masih menunggu suara Dion " Nona mengira kesepakatannya sudah berakhir" Axel membelalak tak percaya, namun ia kembali memutar ingatannya baru lah dirinya menyadarinya.
"Dion aku ingin pulang sekarang juga, tak peduli apapun- berikan kompensasi besar pada semua korban- siapkan pesawat" Axel segera bangkit dan bersiap ia tak boleh membiarkan Baby pergi tidak begitu kesepakatannya, semuanya sudah berubah harusnya Baby mengingatnya mengingat semuanya.