
"Nona anda yakin akan pergi sendiri?" Bertha tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya, meski rautnya selalu datar tapi kali ini yang dia hadapi adalah musuh tuan Axel, meski dia adalah ayah biologisnya tetap saja Jonathan tak mengetahui.
Angel tau dia akan masuk sarang singa, jika Jonathan tau dia adalah Alonzo dia akan murka, tapi andai dia tau bahwa Angel adalah anaknya apakah Jonathan akan mengakuinya..
"Aku akan kirim lokasi ku nanti kamu bisa datang untuk menjemputku"
"Baik Nona saya akan siaga"
"Nona bagaimana jika tuan tau, apa yang anda lakukan, dia pasti akan marah, Nona bisakah batalkan saja, untuk apa semua itu anda punya tuan Axel, anda tak perlu siapa pun lagi" Bahkan Bertha tau bagaimana Axel menyayangi Angel meski hanya putri sambung.
Angel tercenung benar dia punya Daddy harusnya dia bersyukur dengan itu dan menghapus rasa sakitnya, tapi bagaimana jika rasa sakitnya tak bisa pergi.. Angel sudah berusaha, dia selalu diam, tapi semakin hari rasa sakitnya semakin besar.
Angel hanya ingin Jonathan tau bahwa ada Angel yang kesakitan karena ulahnya, jika saja Jonathan tak memulai tak akan ada semua ini.
Angel terus menanam dalam hati bahwa semua salah pria itu,jika dia tak memperkosa Baby, Angel kecil yang menyedihkan tak akan ada, tak akan ada yang membebani Baby dengan hidup kejam diusia muda dan harus menjadi seorang ibu,tak akan ada Baby sang wanita malam, yang rela menjual dirinya demi Angel, dan neneknya, tak akan ada Angel dan Baby yang diculik hingga dirinya mendapatkan trauma.
Bahkan mungkin tak akan pernah ada dirinya di dunia ini.
Angel lupa bahkan Baby tak pernah menganggap Angel kesalahan, dia bahkan menyayangi Angel lebih dari dirinya sendiri, Bagi Baby, Angel adalah nyawanya.
"Aku ingin memastikan sesuatu Bertha.." Angel berjalan menghampiri supir yang dikirim oleh Lily.
Tiba di rumah Jonathan, Angel di sambut Lily dengan tak sabar "Aku sudah menunggumu"
Lily memeluk Angel, wanita separuh baya itu merasa sudah akrab dengan Angel meski mereka baru sekali bertemu, itupun dalam ketidak sengajaan.
Lily mengajaknya masuk "Aku ingin lukisan keluarga.. bolehkah kamu membuatnya"
"Aku akan berusaha Aunti, semoga tidak mengecewakan anda"
Lily tersenyum lembut "Tentu saja, aku tau dan semua lukisanmu begitu mengagumkan"
Lily membawa Angel ke ruang keluarga, disana terpampang foto keluarga ada Jonathan,Lily, dan Alcio.
"Duduklah aku akan buatkan minuman" Angel mengangguk lalu setelah Lily pergi , Angel kembali menatap foto keluarga itu dengan pandangan menerawang jauh.
"Kau?" Angel menoleh ke arah sumber suara, Jonathan baru saja masuk dengan Alcio di belakangnya, sepertinya dia baru pulang bekerja. "Kau adalah?"
"Hallo tuan saya Angel"
"Ah, ya kekasih Leon?" Angel hanya tersipu, dia tak mengiyakan atau membantah, bukankah dia memang memanfaatkan kedekatannya dengan Leon.
"Sayang kau sudah pulang" Lily kembali dengan pelayan dibelakangnya yang membawa minuman.
"Oh ya, aku sudah bilang kita akan membuat lukisan keluarga bukan"
Jonathan mengangguk "Ya, aku tak tau anda berbakat Nona Angel"
"Aku akan berusaha yang terbaik tuan"
"Ya, baiklah.. kapan kita mulai?"
"Hari ini aku belum membawa peralatanku, dan kedatanganku juga untuk mengabarkan bahwa aku tak bisa melukis kalian sekarang, besok malam juga aku ada pelelangan jadi bisakah kita mulai lusa, maafkan aku, aku juga harus fokus pada malam puncak pameran"
__ADS_1
Lily mengangguk "Ya, tak masalah.. Anniversary nya juga akhir pekan, kamu bisa ambil waktu mu, dan kami akan menyesuaikan dengan waktu kami"
Angel mengangguk " Baiklah jika begitu, aku izin pulang tuan"
"Kenapa buru buru, bagaimana jika makan malam bersama"
"Tidak Aunti aku punya janji dengan seseorang"
"Ah, sayang sekali"
"Sudahlah sayang mungkin dia akan makan malam dengan Tuan Mckenzi" Angel hanya tersenyum menanggapi ucapan Jonathan.
"Baiklah, Al.. bisakah antarkan Nona Angel kembali ke hotel?"
"Aku, mmm baiklah" gumam Alcio.
"Tidak perlu Aunti, aku bisa memanggil asistenku.. lagi pula anakmu baru saja pulang"
"Ah, tidak, tidak.. Alcio yang akan mengantarmu, dia tidak keberatan benarkan Nak?" Angel tak bisa menolak lagi, lagipula begitu juga lebih bagus.
Di sepanjang jalan Angel merasakan Alcio menatapnya diam-diam, maka Angel tak bisa mengabaikannya.
"Hmm, kamu sudah bekerja?"
"Ya, membantu Daddy"
"Itu bagus, diusia kamu sudah bisa membantu, itu sangat keren"
"Aku hanya merubah hobi ku menjadi uang"
"Mommy bilang lukisan- lukisanmu sangat bagus"
" Mommy mu berlebihan"
Alcio lagi-lagi tersenyum lalu melihat dengan ragu kearah Angel dan bertanya "Apakah kamu benar kekasih tuan Mckenzie"
Angel mengangkat alisnya "Kami memang dekat tapi belum ketahap itu" Angel berkata jujur, dan sedetik kemudian Angel melihat raut Alcio berubah sembringah.
"Ah, begitu.. oh mengenai malam puncak pameran aku juga akan datang.."
"Oh,ya..itu bagus"
"Hmm Daddy punya undangan dan katanya biar aku yang mewakili"
"Aku melelang lukisan ku, dan sangat spesial.."
"Bolehkah aku ikut menawar?" tanyanya antusias.
"Tentu, setiap orang yang punya kartu undangan bisa melakukannya"
"Aku kira mendapat izin dari pelukisnya lebih bagus"
Angel tertawa "Aku akan sangat tersanjung, jika begitu selamat berjuang" akhirnya mereka tiba di lobi hotel dan Alcio memberhentikan mobilnya tepat di depan wajah masam Leon yang menatap mereka tajam.
__ADS_1
"Sepertinya aku akan punya saingan untuk mendapat lukisan mu"
Angel terkekeh "Terimakasih Alcio" Angel mengusak rambut Alcio lalu turun dari mobil, sejak tadi dia menahan tangannya ingin mengusak rambut adiknya itu, dia gemas sendiri, dia tak seperti Matteo yang hanya diam dan dingin, Alcio lebih ramah dan banyak bicara.
Di perlakukan seperti itu membuat Alcio semakin tersipu, dia tersenyum dan melambaikan tangannya kearah Angel.
Angel balas melambaikan tangannya hingga mobil Alcio pergi, Angel bukan tak menyadari jika Alcio menaruh perhatian lebih padanya, namun Angel hanya ingin tertawa lucu dalam hati, akan bagus bukan jika dia memanfaatkan Alcio...juga.
Angel terus melamun hingga tak menyadari Leon yang berjalan mendekat "Kamu menolak aku antar rupanya ingin diantar anak ingusan itu" Leon memicingkan matanya.
Angel menyadari tatapan Leon yang penuh amarah, sama seperti Daddynya jika sendang cemburu pada Mommynya.
Dia mengulum senyum tiba tiba merasa lucu dengan raut Leon, dia pergi seolah tak mendengar ucapan Leon.
"Angel?"
Angel masih tak menghiraukan dan memasuki lift, dengan cepat Leon masuk dan mencecar Angel dengan pertanyaan nya "Sebenarnya kau menganggapku apa?"
Angel memiringkan wajahnya "Memang kamu mau di anggap apa, kita teman bukan?"
"Apa?"
"Kamu seperti kekasih yang sedang cemburu Leon" Angel berusaha tenang saat Leon semakin mendesaknya.
Leon mendengus "Kamu tidak menyadari perasaanku?" Leon kira Angel sudah menyadari bahkan tadi pagi sepanjang jalan mereka saling menggenggam, dan Angel tak menolak. "Ya, aku cemburu, melihat mu dengan anak ingusan itu, rasanya aku ingin mencekik lehernya saat dia tersenyum padamu" Leon mendesaknya kedinding, tatapannya sangat tajam menyiratkan kemarahan.
Untuk sementara Angel membatu, melihat rahang Leon yang mengeras dan mata memerah membuatnya bergidik namun dengan cepat dia mengatasi ketakutannya.
"Kamu menyukaiku?"
"Ya, aku menyukaimu, sejak pertama kali kita bertemu"
Angel bisa melihat mata Leon berkilat penuh kesungguhan, Angel menunduk sesaat lalu kembali mendongak "Jika begitu mau lakukan sesuatu untukku?"
Leon berkerut bingung.
"Jika besok kamu bisa dapatkan lukisan ku, aku akan menjadi kekasihmu"
"Ap.." Belum selesai Leon bicara pintu lift sudah terbuka dengan segera Angel melesat keluar meninggalkan Leon yang masih terpaku.
.
.
.
Angel hanya namanya saja ya yang berarti malaikat, nyatanya dia dipenuhi recana jahatš¤§
Like..
Komen..
Vote ...
__ADS_1