Wanita Malam

Wanita Malam
Serangan Axel


__ADS_3

Leon dan Angel bergandengan tangan saat keluar dari lift, mereka bahkan terus tersenyum sepanjang jalan menuju Apartemen Angel.


Mereka sama sekali tidak menyangka bisa mengalami ini, berjalan berdua, bergandengan dan berpelukan, bahkan berciuman.


Mereka sama- sama menyerah saat berada di titik terberat mereka, namun ternyata sesuatu yang tak terduga hadir dan menyatukan mereka kembali.


Leon membuka Apartemen Angel dengan kartu akses miliknya yang di dapatnya dari Bertha, hinga pintu terbuka dan menampilkan suasana di depannya.


Angel dan Leon menggeryit saat melihat empat orang paruh baya yang sedang terduduk di sofa ruang tamu.


Angel yang pertama menyadari dan memeluk Baby "Mom, kalian kemari?" Angel beralih ke Lily, lalu Axel dan Jonathan.


"Kami khawatir setengah mati saat Bertha mengatakan kau sudah bertemu Leon"


"Bertha pasti tak bicara hingga selesai atau Daddy tak mendengarkan nya?"


Baby melihat Axel, yang meringis "Mana Daddy tahu, yang Daddy tahu adalah kau takut dengan cecunguk ini"


"Aku tidak pernah bilang takut Leon"


"Ya, tapi kamu terus bergumam kata kata yang dituduhkannya padamu"


Leon hanya bisa menatap Angel nanar, lagi-lagi dia teringat kesalahannya.


Angel melihat kearah Leon, yang tersenyum miris.


"Dan kau! aku bilang jangan dulu temui Angel" Axel mendekat namun Leon mundur menjauh, dan bersembunyi di balik punggung Angel.


"Beraninya kau menghindariku, apa kau tak punya malu bersembunyi di balik punggung wanita!"


"Bukan maksudku tuan sungguh", Leon menutup hidungnya saat aroma parfum Axel tercium olehnya.


"Apa maksudmu kau menutup hidung, kau fikir aku bau"


Jonathan terkekeh melihat Leon gelagapan, dia sudah tahu tentang ini, dan Axel juga, tapi sepertinya Axel ingin mengerjai Leon.


"Kau sungguh tidak sopan.."


Axel menyingkirkan Angel dan langsung mendapat protes "Dad.." Angel memelas saat Axel tak menyerah dan memojokkan Leon yang sudah berwajah pucat.


Leon menahan dirinya agar tidak muntah di depan calon mertuanya, ini akan memalukan, namun seberapa kuatnya dia bertahan tetap saja, perutnya memberikan reaksi.

__ADS_1


"Maafkan aku tuan.." Leon menutup mulutnya dan berlari kearah kamar mandi lalu setelahnya diikuti suara muntahan.


"Dad, kau keterlaluan" Angel berniat membantu Leon yang masih muntah.


"Mau kemana?"


"Dad.." Angel khawatir mendengar muntahan Leon.


"Diamlah, ini belum seberapa dibanding penderitaan mu"


Angel mengigit bibirnya, saat Axel bergerak maju dan memasuki kamar mandi, lalu terdengar muntahan semakin lama, sepertinya Leon memuntahkan semua yang ada di perutnya, atau bahkan sudah tak ada lagi yang keluar dari perutnya karena Leon sudah muntah sejak tadi.


"Mom, hentikan Daddy" Baby hanya bisa meringis sambil menggeleng.


Axel benar-benar menyiksa Leon saat Leon tak bisa mengendus bau parfum, dia sengaja mengenakan parfum yang banyak, Baby bahkan hanya bisa menggeleng pelan melihat tingkah Axel.


"Daddy kumohon hentikan.." Angel sudah akan menangis saat melihat Leon pucat dan lemas.


"Daddy, Leon sudah sangat lemas.."


Axel mendengus "Kau ini lemah sekali sih.." sekali lagi Axel mencondongkan tubuhnya hingga parfum Axel yang banyak serasa menyerap hidung Leon, Dan Leon kembali muntah.


Axel mengakhiri serangannya, dia tersenyum penuh kemenangan ternyata tak perlu berkeringat untuk menghajar Leon.


Angel masuk ke kamar mandi dan menemukan Leon terduduk lemas, "Kamu baik-baik saja..?" Angel menangkup pipi Leon yang terlihat pucat, "Kamu harus di infus kamu bisa kehabisan cairan, Aku akan memanggil dokter kemari" Angel hendak pergi namun Leon mencegahnya dan memeluk pinggang Angel dan menyandarkan kepalanya di perut Angel.


"Aku hanya butuh kau"


Angel mengelus rambut Leon "Daddy keterlaluan, maafkan aku"


Leon menggeleng "Tidak, benar katanya ini bahkan hanya sedikit saja dari penderitaanmu"


"Maafkan aku.." Leon semakin menenggelamkan kepalanya di perut Angel.


"Kita sudah membahasnya bukan, jadi jangan bicara masalalu lagi.." Leon mengangguk.


.


.


Dan akhirnya Leon hanya terbaring dengan tangan tertancap jarum infus untuk mengganti cairannya yang terkuras.

__ADS_1


Leon melihat Angel yang terbaring di sebelahnya dan tertidur pulas.


Sebelah tangannya mengusap rambut Angel dan menyampirkannya kebelakang telinga.


Leon melihat ponselnya yang berdering, Leon hanya menghela nafasnya lalu menekan tombol hijau.


"Nak, kau kemana saja , Mom mengkhawatirkanmu?" terdengar suara di sebrang sana.


"Aku baik-baik saja, Mom tidak perlu khawatir"


"Tapi dimana kau berada, kapan kau akan pulang"


"Nanti, Mom. aku akan pulang nanti"


"Hmm terimaksih Mom" Leon menutup telponnya, lalu menoleh melihat Angel yang sudah bangun dan terduduk.


"Kamu terbangun, apa aku berisik?"


Angel menggeleng "Kamu akan pulang?"


"Ya, aku akan pulang, kamu mau ikut dengan ku, aku bisa mengenalkan mu pada Mom, dan Daddyku"


"Apa mereka akan menyukaiku?"


"Semua orang akan selalu menyukaimu"


"Tapi Leon, mungkin mereka tak akan menerima masa laluku" Angel menunduk dia tak terlalu percaya diri.


"Kamu berfikir terlalu jauh, kemari" Angel menurut dan merebahkan dirinya di dada Leon "Jangan fikirkan hal buruk, apapun yang terjadi kamu akan tetap menjadi istriku,dan kita akan selalu bersama"


Leon mengecup pucuk kepala Angel "I love u"


"Me too"


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2