
Jeritan dan lenguhan Ami terdengar bebas ketika pria perkasa di atasnya tengah berkuasa menungganginya, kamar yang di pesan termasuk kamar istimewa yang dilengkapi peredam suara jadi Ami bisa mengekpresikan kenikmatannya tanpa takut terdengar siapapun.
Ami harus akui bahwa ia juga mendapat keuntungan dari ancaman tersebut karna ia bisa menikamati hujaman keras dari pria muda itu, pria ini terbilang masih muda dibanding umurnya yang sudah 26 tahun sedangkan pria tersebut masih berumur 22 tahun,tapi Ami sungguh menganggumi cara pria itu menyenangkan dirinya.
Ami bahkan sudah lupa bahkan tak peduli bahwa dirinya tengah berbadan dua,bahwa gerakan kasar yang mungkin berakibat pada keselamatan janin nya, yang dia rasakan hanya kenikmatan yang sesaat lagi mencapai puncaknya.
Ami beralih dan kini berada di atas pria tersebut, Ami bergerak seirama dengan pria dibawahnya menciptakan deburan kenikmatan itu semakin terasa dan di detik terakhir Ami akan segera meladak Ami terus meracau..
"Oh..oh.. aku akan segera sampai.." Ami meremas rambutnya sendiri dengan kepala yang mendongak sedangkan pria dibawahnya semakin cepat menghujam dengat tangan yang meremas bukit kembar yang bergoyang di depannya.
Ami menjerit bertepatan dengan pria dibawahnya ikut melenguh, keduanya terbuai dalam kenikmatan dan merasakan keindahan nirwana..
Nafas keduanya masih terengah, sesaat kemudian Ami menegang saat pria dibawahnya mengusap perutnya lembut.
"Apa dia baik baik saja?"
Ami tercengang pria ini tau Ami tengah mengandung.. "Ka..kau tau...?"
"Aku lebih tau dari apa yang kau tau Camila.."
Pria muda itu menurunkan Ami, dan berjalan kearah jendela, tanpa Ami tau tangannya menekan sebuah kamera dibalik bunga hiasan di atas meja, kamera kecil yang sengaja di simpan oleh pria muda itu, ia selesai dengan rekamannya dan kini waktunya berbicara sesuatu yang tak boleh diketahui oleh tuannya. Ya pria itu orang suruhan Axel, dan ia menerima uang banyak untuk kerja kerasnya ini, tapi dibalik itu ada tujuan tersendiri mengapa ia bersedia melakukannya.
"Kau harus berhenti Camila, tinggalkan dia sebelum sesuatu terjadi padamu.. ikut lah bersamaku maka aku akan merawat anakmu seperti anak ku sendiri"
"Apa maksudmu?"
"Aku tau semuanya Camila.."
Ami menggeleng keras mendadak ia jadi takut dengan pria di depannya ini, ia tau semua rencana nya, alasannya menikahi Axel.
Ami memang berencana menikah dan memiliki keturunan Axel agar kelak ia bisa memiliki kekayaan Alonzo, namun nasib sial menghampirinya kebiasaannya bercinta dengan setiap pria membuatnya hamil di saat Axel selalu membuang benihnya diluar saat bercinta dengannya, dengan alasan Axel tak suka anak kecil.
Ami tak yakin siapa pria yang berhasil membuatnya hamil saking banyaknya pria yang menjamahnya, dan pria di depannya ini berkata akan akan merawat seperti anaknya sendiri.. apa dia sudah gila, Ami sendiri bahkan ragu mempertahankan atau tidak, tapi pria yang bahkan usianya lebih muda darinya ini berkata ingin merawatnya.
Ami bahkan tak ingat siapa nama pria ini.
__ADS_1
Nando, vando? ah iya namanya Vernando.
Ami ingin tertawa "Tau apa kau tentang aku.."
"Kau tak tau berurusan dengan siapa, jika dia tau kau hanya ingin hartanya saja.. maka kau tidak akan selamat"
"Kau salah dia mencintaiku, dan akan ku pastikan dia akan bertekuk lutut di depanku, dan aku juga mencintainya, memang apa yang akan dilakukannya disaat dia mencintaiku" benar bukan Axel tak akan melukai wanita yang dicintainya.
Vernando tertawa "Oh ya?" Vernando mengangguk "Setelah ini jangan bilang aku tak memperingatkan mu.. ku beri waktu satu minggu,jika kau berubah fikiran datanglah padaku, tapi setelah itu pintu manapun tak akan terbuka untukmu" Vernando pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, ia hanya tak ingin menyesal saat dirinya tak memperingatkan Camilanya, cinta pertamanya..
Ami mungkin tak mengingat dirinya tapi ia selalu mengingat Ami, satu kebaikan yang dilakukan Ami dimasa lalu membuatnya mengingat Ami seumur hidup.
Vernando mengguyur tubuhnya dengan air dingin setidaknya satu peringatannya bisa membalas jasa Ami di masa lalu.
Vernando memang tak kaya, tapi asalkan Ami mau ikut dengannya ia berjanji akan membahagiakan Ami,namun sepertinya Ami terlalu keras kepala mungkin hasutan ayahnya sudah mendarah daging.
.
.
Anak itu merasakan nafasnya sesak karena kedinginan ia merasa mungkin akan mati saja menyusul orang tua nya.
Vernando kecil ingin menyerah dia sudah berjongkok di depan makam orang tuannya,namun sebuah payung menghentikan hujan deras yang sejak tadi menerpa tubuhnya "Hay adik kecil, kau sedang apa disini?"
Vando mendongak melihat gadis berusia 12 tahun berdiri dengan payung hitam di tangannya dengan ransel sekolah dipunggungnya "Ini sudah sore.. pulanglah"
"Kak, aku lapar.. aku rasa aku akan mati" katanya , vando kecil memegang perutnya.
"Kenapa bilang begitu, kau tau mati itu tidak enak, nenekku sudah mati juga tak bisa menyahut walau ibuku bicara banyak padanya, kau lebih baik hidup.." gadis itu membuka ranselnya "Ini aku punya bekal, dan kau bisa memakannya, ini juga aku punya coklat simpanlah untuk nanti.. nah ini pakai juga payungku agar kamu tidak kehujanan"
"Camila.." gadis kecil itu menoleh mendengar namanya di panggil seorang wanita.
"Ya Mom, baiklah aku harus pulang, ibuku sudah selesai bicara dengan nenek ku, ingat ya kau harus hidup, mati itu tidak enak..dah" gadis itu berlari pergi menggandeng tangan ibunya meninggalkan Vando yang tercenung menatap kotak bekal di tangannya.
Sejak saat itu ia selalu mengingat gadis itu, kakak cantik yang memberinya payung, kotak bekal, juga coklat, hingga ia di bawa oleh dinas sosial dan dimasukan ke panti asuhan ia selalu berharap bisa membalas kebaikan gadis bernama Camila, yang memberinya semangat hidup dan berkata mati itu tidak enak.
__ADS_1
Saat Axel menawarkannya pekerjaan awalnya ia menolak karna menurutnya itu sebuah kejahatan,meski uang yang ditawarkan cukup besar, namun setelah tau siapa perempuan yang dimaksud, Vernando langsung menyetujuinya.
Vernando tak yakin tapi entah dari mana Axel menemukannya dan memintanya secara langsung untuk melakukan pekerjaan ini, mungkin dia tau masa lalunya entahlah, yang pasti ia yakin Axel berbahaya.
Setidaknya peringatannya sudah ia katakan pada Ami, semoga Ami berubah fikiran.
.
.
.
Ami menatap kosong jendela yang terbuka menampakan matahari senja, ia teringat saat ibunya meninggalkannya dan kakaknya pergi di kala hujan mengguyur deras.
Ibunya selalu mengajaknya pergi ke makam neneknya di hari minggu, namun ia tak menyangka hari itu hari terkahirnya pergi ke makam neneknya bersama sang ibunya.
Karna hari itu juga ibunya pergi tanpa menoleh bahkan saat Ami dan Jonathan mengejar dan memohon agar ibunya jangan meninggalkan mereka namun ibunya tak bergeming, ibunya pergi menaiki mobil mewah, berisi lelaki berjas,dan ayahnya berkata bahwa ibunya sudah tak tahan hidup miskin.
Jordi juga selalu berkata uang itu penting bahwa hidup kita tak akan bahagia tanpa uang, buktinya ibunya pergi dengan pria yang lebih kaya darinya,bahkan tega meninggalkan anak anaknya, maka lakukan apapun untuk mendapatkan uang, Ami bahkan tau bahwa Jhordi mendapatkan kekayaannya lewat jalur curang, namun sekali lagi Ami mengingat bahwa uang adalah segalanya.
Saat melihat Axel,Ami langsung jatuh cinta dan saat ayahnya berkata Axel kaya dan mendukung Ami, Ami semakin bersemangat, bahkan ia selalu mengikuti arahan Jhordi hingga saat ini ia berhasil menjadi istri Axel.
.
.
.
like..
komen..
vote...
🌹🌹🌹🌹
__ADS_1