
Leon menghentikan mobilnya di depan rumah keluarga Michael, Angel akan melukis disana dan Leon sendiri akan pergi bekerja, "Beritahu aku, jika sudah selesai.. aku akan menjemputmu nanti"
"Tidak masalah, aku akan hubungi Bertha nanti, kamu bekerjalah dengan baik"
"Tidak, aku yang akan menjemputmu, aku tak mau anak ingusan itu mendekatimu lagi, dan jaga jarak dengannya, ingat kamu milikku sekarang!"
Angel terkekeh "Tuan Leon sudah menunjukan ke posesifan nya sekarang" bagaimana jika Leon tau Alcio adalah adiknya, pasti lucu.
Leon mendengus "Aku tidak bercanda, sayang"
"Baiklah.." Angel hendak turun namun Leon kembali menariknya lalu mendaratkan ciuman di bibir Angel.
"Aku mencintaimu"
Angel tersenyum "Huum, aku tau" Angel turun, setelah memastikan alat lukisnya dibawa kedalam oleh pekerja rumah Michael, meninggalkan Leon yang masih tersenyum, dan melambaikan tangannya, mungkin Angel belum menjawabnya dengan kata 'Aku mencintaimu juga' namun Leon yakin, kelak Angel akan mengatakannya.
Angel masih memandang mobil Leon hingga hilang di balik pagar tinggi rumah Michael.
Angel terus tersenyum saat mengingat Leon, Leon sangat lembut dan baik bahkan pengertian, dia bahkan rela menekan hasratnya karena mengira Angel belum siap.
Secepat itu Leon jatuh cinta padanya, maka akan cepat pula Leon melupakannya, benar bukan?.
Istri Jonathan menyambut Angel dengan antusias, "Selamat datang, apakah penampilanku sudah sempurna?."
"Anda sangat cantik Aunti" Lily semakin gembira setelah mendapat pujian.
Lily segera memanggil Jonathan dan Alcio agar mereka segera dilukis.
"Anda terlihat tampan tuan" Angel manatapi Jonathan yang tersenyum kearahnya.
"Ya, aku harus meluangkan waktuku untuk ini, dia sangat cerewet" Jonathan merangkul istrinya dan mereka salin tersenyum nampak seperti pasangan yang saling mencintai, Jonathan bahkan mengecup bibir istrinya tanpa canggung.
Tiba-tiba Angel merasakan hatinya diremas melihat pasangan bahagia di depannya ini, tangannya mencengkram kuas dengan kuat, lihatlah mereka begitu bahagia,sedangkan dirinya masih saja menyedihkan.
Alcio datang dengan penampilan tak kalah menawan dari ayahnya, dia langsung menghampiri Angel "Aku tidak terlambat bukan?" Angel tersenyum lalu menggeleng.
"Ah, kemarin aku sungguh kecewa karena tidak mendapat lukisanmu"
"Ya, kamu kurang beruntung" Alcio tertawa, dia memang kurang beruntung dan kalah dari Leon.
"Baiklah bisa kita mulai" Angel mengarahkan posisi mereka, lalu merapikan gaun lily yang panjang, setelah merasa posisi ini cukup bagus Angel kembali ke kursinya dan mulai melukis.
.
.
__ADS_1
Seorang pria berjas mendekat dan menghampiri Jonathan, lalu membisikan sesuatu, Jonathan mengangguk lalu bicara pada Angel "Nona Angel bisakah kita istirahat sebentar, aku harus menyiapkan berkasku"
Angel mengangguk mereka sudah duduk di tempat itu sejak 30 menit lalu, Angel bahkan sengaja melambatkan pekerjaanya, kasihan juga mereka harus istirahat, lalu dia pun mereggangkan tangannya, Lily menghampiri dan melihat sketsa yang belum sempurna itu "Wuah, kau memang berbakat" Lily menutup mulutnya melihat lukisan yang belum sempurna saja sudah menakjubkan.
"Ini belum selesai, anda terlalu cepat memuji"
"Mom benar ini sangat indah" Alcio juga kini berdiri memandangi lukisan merek "Aku rasa tak sia-sia aku menghabiskan waktu dengan tak bergerak sedikit pun" Angel terkekeh, lalu melihat ke arah Lily.
"Aunti Lily bolehkah aku menumpang ke toilet"
"Kenapa canggung sekali, apakah perlu aku mengantarmu"
"Tidak Aunti, biar pelayan yang membantuku"
"Baiklah" Lily pun memanggil seorang pelayan dan memintanya menemani Angel.
Mereka tiba di depan pintu toilet.. "Terimakasih, aku akan memanggilmu jika perlu sesuatu" pelayan mengangguk hormat, lalu pergi.
Saat pelayan sudah pergi, Angel melangkahkan kakinya berlawanan arah dengan toilet yang sudah di tunjuk oleh pelayan.
Angel mengedarkan pandangannya berjalan menyusuri lorong demi lorong dengan banyak pintu, hingga Angel melihat satu ruangan dengan pintu sedikit terbuka Angel berjalan pelan lalu bersandar di pintu, terdengar suara Jonathan yang sedang menerima panggilan.
"Ya tentu saja, aku sudah mempersiapkannya.. aku jamin proyek kita kali ini akan sangat menguntungkan, maafkan aku sedikit terlambat aku baru mendapatkan berkasnya dari asistenku"
"Ya, aku akan meminta asistenku mengantar berkasnya padamu besok Tuan Leon, aku hanya perlu menandatanganinya"
Angel membuka lalu memfoto semua lembar demi lembar, matanya tak berhenti menatap sekitar, jika saja ada orang yang melintas.
Angel juga melakukannya ke beberapa map diatas meja.
Angel merapikan kembali berkas di atas meja, dia sudah cukup hari ini.
Angel akan keluar namun tatapannya terpaku pada sebuah foto kecil diatas meja, ada dua pria berbeda usia, juga seorang perempuan, Angel yakin itu Ami, mantan istri Daddynya, juga ada Jonathan di sana, juga satu lagi pria paruh baya yang duduk dengan tegas di ampit Jonathan dan Ami.
Angel menahan tubuhnya saat mengingat pria itu, wajah itu.. dia yang menyakitinya dan mommynya, dia juga yang memisahkan nya dari Mommynya dan memasukkan nya keruangan gelap.
.
.
Angel menegakkan tubuhnya saat kembali ke ruang keluarga, tempatnya melukis, disana sudah ada Jonathan yang mengerutkan keningnya.
"Maaf lama, aku tadi tersesat" Alasan yang bagus rumah Michael cukup luas dan dia tidak mengenal tempat ini.
"Ah, seharusnya kau biarkan pelayan kami menunggu di depan pintu" Angel merasakan tegang sesaat sebelum rautnya kembali ramah.
__ADS_1
"Ya, itu kesalahanku"
"Jadi kita akan mulai lagi?"
Jonathan menghela nafasnya dia malas melakukan ini jika bukan karena istri tercintanya membujuknya habis-habisan agar dia mau dilukis, bukankah lebih baik melakukan foto keluarga saja agar lebih cepat, jadi waktunya tak terbuang sia-sia,pekerjaannya sangat banyak, apalagi asistennya baru saja mengantarkan berkas penting yang perlu ia tinjau sekarang, namun istrinya itu kekeh ingin lukisan keluarga mereka, bahkan di rela cuti demi hari ini.
"Maafkan aku sayang, suamiku ada urusan mendesak.." Lily berkata penuh sesal.
"Maafkan aku" Jonathan menggenggam tangan istrinya, dia merasa bersalah telah membuat istrinya menunda keinginannya kembali.
Lily menggeleng "Tidak aku hanya tak enak pada Angel"
Angel tertegun melihat obrolan kedua manusia paruh baya itu, mereka terlihat tulus satu sama lain.
Saat sedang asik melamun Angel merasakan tepukan dipunggungnya "Jangan heran jika kau melihat pemandangan ini" Angel mengerutkan keningnya melihat kearah Alcio.
"Orang tuamu terlihat sangat saling mencintai"
Alcio mengangguk, lalu tersenyum "Tapi bukan berarti mereka tak pernah ada masalah, ibuku pernah mengalami kesedihan terdalam di hidupnya, mungkin itu juga yang menjadikan Daddy begitu mencintai Mom, dia punya banyak kesalahan pada Mommy ku,namun Mommy ku tetap sabar menunggu Daddy."
Angel langsung mengalihkan fokusnya pada Jonathan dan Lily "Tuan, dan Aunti.. kita bisa selesaikan ini esok hari, dan aku akan datang di waktu yang tak mengganggu jam kerjamu"
Lily menghela nafasnya lega "Maafkan aku, sudah membuang waktumu"
"Tidak masalah Aunti, aku senang melakukannya"
"Kau aneh nona Angel, pada istriku kau memanggil Aunti, sedangkan padaku kau panggil tuan?"
"Maaf?"
"Harusnya kau panggil aku juga Uncle" Jonathan tersenyum melihat Angel yang memerah, ada apa dengan gadis ini?.
"Baiklah Uncle, mulai sekarang aku akan memanggilmu begitu" nada suara Angel mendadak seperti tercekik.
'Harusnya aku memanggilmu Daddy, tapi bahkan kau tak pantas dengan kata itu'
Angel mengalihkan tatapannya kepada Alcio lagi "Alcio bisakah kamu antar aku pulang?" Ada sesuatu yang harus Angel ketahui dari Alcio.
.
.
.
Like..
__ADS_1
komen..
vote..