Wanita Malam

Wanita Malam
Sepuluh anak


__ADS_3

"Akhh.. ampun om tuan!" Baby berjengit kaget saat mendengar teriakan Angel.


"Maafkan Angel om tuan.." Meski samar Baby bisa mendengar suara Angel, mungkin itu yang di sebut insting seorang ibu bisa mendengar meski dari kejauhan, baby mendong kursi makannya dengan kasar, lalu berlari kearah taman belakang, Baby panik luar biasa ia takut Axel berbuat jahat pada Angel, bukankah Axel tak suka anak kecil bagaimana jika Axel melukai Angel, tidak.. tidak akan ia biarkan Axel menyakiti Angel.


Akan ia lindungi Angel dengan segenap jiwanya jika ada yang berani menyentuh Angel, akan ia pastikan dia akan menyesal, Baby akan diam saat orang orang menghina dan merendahkannya bahkan menyakiti fisiknya, Tapi Baby tak akan diam jika ini berhubungan dengan Angel.


Axel jika berani kau menyakiti anak ku, aku akan.. langkah Baby memelan saat suara Axel dan Angel terdengar semakin jelas.


"Lihat saja aku akan menangkapmu.."


"Tidak mau, Angel akan terus lari.. ahk" jerit Angel lagi, namun Baby mengerutkan keningnya disaat bersama an ia juga mendengar suara tawa Angel.


"Akhh.. hahaha.. ampun om tuan Angel tak akan melakukannya lagi.. hahaha"


"Kau bilang begitu saat sudah kutangkap, dasar penjilat" Baby tertegun saat melihat dua orang beda usia itu, Axel sedang memanggul Angel bak karung beras, namun Angel masih tertawa, tentu saja karna tangan Axel menggelitik pinggang Angel.


"Akhhh hahaha iya baiklah om tuan Angel minta maaf..Mommy..!!" Angel melihat Baby berdiri di pintu lantas berteriak meminta tolong.. "Akhha haha.. geli om, mommy!!" Axel melihat kearah pintu dan melihat Baby mematung disana.


Axel menurunkan Angel, dan Angel pun langsung berlari dan bersembunyi di balik kaki Baby.


"Ada apa ini?" Baby bertanya dengan raut bingung,matanya melihat Axel dan Angel bergantian "Angel..?"


Angel menunduk lalu mulai bicara "Angel sedang melukis mom, tapi tiba tiba om tuan datang, dan meminta Angel melukisnya.." Angel meremas ujung kaosnya.


Baby melihat Axel yang duduk di kursi dengan tenang di sebelahnya ada papan lukis Angel, namun Baby tak bisa melihat apa yang Angel lukis.


"Lalu?"


"Lalu Angel melukis om tuan, lukisannya bagus mom.." Angel melirik Axel yang mendengus.

__ADS_1


"Tapi om tuan marah, dan bilang lukisan Angel jelek.."


"Apanya yang bagus, lihat ini" Axel membalik papan lukis Angel yang masih berbentuk sketsa hitam putih, karna Angel menggunakan pensil, lukisannya bagus tapi.. ptthh.. Baby membungkam mulutnya saat tawanya akan meluncur "Lihat bahkan kau pun tertawa" Axel mengerucutkan bibirnya, Angel memang melukisnya, cukup rapi untuk ukuran anak usia enam tahun, Angel sangat berbakat, bahkan lukisannya seakan nyata, jika sudah diwarnai, Baby pun bangga dengan hasil karya Angel yang semakin hari semakin bagus, namun di akhir lukisannya Angel menambahkan kumis tebal dan janggut di wajah Axel, membuat Axel marah, tentu saja tak benar benar marah, karna jika Axel marah maka Axel tak akan segan melempar Angel, bahkan Baby juga pernah merasakan cekikan dilehernya,mengingat itu membuatnya merinding bagaimana jika itu terjadi pada Angel.


Tapi melihat Axel yang masih tenang dan hanya menggerutu, itu berarti Axel belum termasuk marah, apalagi tadi Axel malah menggelitiki Angel.


"Ehmm" Baby berdehem lalu berjongkok melihat Angel "Angel tau, tuan Axel sudah tampan tanpa kumis dan janggut itu, jadi tak usah di tambahi lagi, mengerti.. " Baby masih menahan tawanya, Axel tau dirinya memang ganteng tapi dipuji Baby, Axel merasakan dirinya melambung tinggi "Sekarang minta maaf pada tuan Axel.."


Angel mengangguk "Om tuan maafkan Angel.."


"Baiklah, tapi aku punya dua syarat" Baby menatap tajam Axel, apa semua yang diminta padanya harus mendapat syarat, dasar perhitungan.


"Pertama jangan pangil aku om tuan lagi, panggil aku om saja dan itu berlaku untuk kalian berdua, terutama kau" Axel menunjuk Baby.


"Baik om" jawab keduanya serempak, namun Axel mengeryit saat mendengar Baby juga memanggilnya 'om'.


Angel diam namun Baby menjawab "Baik tuan.."


"Astaga.." Axel memijat pelipisnya "Maksudku bukan begitu.. hilangkan kata tuan itu..ya ampun Baby kau.." Baby melipat bibirnya tentu saja ia mengerti apa yang dimaksud Axel, hanya saja Baby ingin menggoda Axel, siapa suruh dia memberi syarat segala hanya untuk permintaan maaf Angel.


"Kedua, kau harus melukisku lagi dengan benar hingga selesai" Axel menarik Baby hingga Baby jatuh di pangkuan Axel "Dengannya" Baby mengerjap beberapa kali.


Namun Angel malah menunjukan wajah girangnya "Baiklah om tu.." Angel berhenti saat melihat tatapan tajam Axel "Om.." Angel dengan cepat membuang kertas di papan lukisnya dan menggantinya dengan kertas putih baru, Angel masih belajar memakai kuas, jadi hasilnya belum bisa sempurna maka Angel memilih memakai pensil lagi, dan akan Angel pastikan lukisan nya kali ini akan bagus, Angel juga masuk kelas seni di sekolah barunya hingga kemampuan Angel terus terasah, itu yang Angel sukai di sekolah baru yang Axel berikan Angel bisa melatih kemampuan lukisnya setiap hari dengan peralatan lengkap yang di temukannya di sekolah.


Dengan riang Angel mulai membuat kerangka untuk ia jadikan sketsa gambar Baby dan Axel yang terlihat romantis duduk berdua tepatnya Baby yang duduk di pangkuan Axel.


Baby bergerak gelisah di posisinya "Diamlah, Angel sedang melukis kita"


"Tuan, bisakah posisinya jangan seperti ini" Ia sungguh risi apalagi di depannya ada Angel, yang baru kemarin mengungkapkan bahwa ia ingin Axel jadi Daddy nya, melihat posisi ini yang terlihat romantis Baby takut Angel kembali berharap yang tidak tidak pada Axel, karna Baby yakin itu tak akan terjadi.

__ADS_1


"Kenapa? aku suka seperti ini" Axel melihat Angel yang masih sibuk melihat mereka lalu melihat kertas di depannya, anak ini memang berbakat.


"Angel, jika lukisan mu bagus kali ini, aku janji akan memasukan mu kesekolah seni paling bagus di negeri ini" Angel membulatkan matanya tentu saja ia mau, maka dengan senyum dua jarinya Angel mengangguk semangat, ia begitu bahagia menyambut saat itu tiba nanti.


Lain lagi dengan Baby, Baby menatap tajam Axel yang masih duduk tenang dengan tangannya yang memeluk pinggang Baby "Kenapa melihat seperti itu?"


"Tuan jangan memberi harapan terlalu jauh pada Angel.." bisik Baby, ia tak mau suaranya di dengan Angel yang berjarak satu meter di depan mereka.


Axel mengerutkan keningnya "Tuan aku hanya tak ingin, Angel nanti tak bisa lupa dengan janjimu"


"Kamu fikir aku hanya membual?" Baby bungkam "Aku hanya melihat bakat Angel, dan tentu saja itu akan baik untuknya jika ia mengikuti bakatnya"


"Tapi tuan.." Angel tak ingin nantinya saat mereka lepas dari Axel, maka Baby akan kesulitan karna sekolah seni itu mahal, Tentu saja Baby masih berharap bisa lepas dari Axel nanti meski entah kapan.


"Diamlah, jangan bicara lagi biarkan Angel melukis kita.."


Baby menarik nafasnya "Sekolah seni mahal tuan" cicitnya.


"Uangku tak akan habis hanya untuk menyekolahkan Angel hingga lulus nanti bahkan jika kita punya sepuluh anak lagi.."


Baby mendongak mata keduanya beradu, dan saat itulah Angel merekam adegan untuk ia tuang dalam kertas putih di depannya.


.


.


.


Doble up, kasih kopi boleh🤧

__ADS_1


__ADS_2