
Angel menatap spaghetti di depannya lalu menghela nafasnya, bukannya membuatnya ingin memakannya, malah dia merasa enggan.
Angel melihat kearah Bertha yang masih memandangnya, lalu meringis tak enak hati "Bertha aku berubah fikiran.. bisakah.." belum selesai Angel bicara Bertha sudah tertunduk lesu, dia menghabiskan waktu satu jam untuk membeli spaghetti ini dan Nona nya berubah fikiran.
Angel sebenarnya tak ingin spaghetti dia hanya ingin memancing Leon, namun nyatanya Leon tidak berusaha datang dan membuatkan spaghetti untuknya.
Bodohnya Angel, jika Leon memang berniat menunjukkan dirinya dia akan langsung menunjukkannya diri sejak awal.
Bertha ingin bicara pada Nona nya jika dia begitu kesal, tapi dia juga tak sampai hati, mungkin dulu Bertha akan bicara seenaknya pada Nonanya dan menegur, sama seperti saat dirinya menegur kala Nonanya memperingatkan untuk tidak mempermainkan Tuan Leon.
Tapi keadaan kali ini berbeda, pertama karena Nonanya tengah dalam kondisi hamil, dimana perasaan dan keinginannya wanita hamil lebih banyak tak masuk akal.
Kedua, setelah Bertha tau alasan mengapa Nonanya melakukan semua itu, karena kesakitannya di masa lalu, Bertha jadi lebih memaklumi, bukan membenarkan karena nyatanya yang dilakukan Nonanya tetap saja salah, namun perasaan marah dan dendam itu sangat manusiawi, dan dirinya juga memilikinya, apalagi apa yang dialami Nonanya belum tentu dirinya sanggup menerimanya.
Ketiga, saat Bertha melihat Nonanya histeris muncul rasa iba dalam hatinya betapa Nonanya sudah sangat menderita, maka itu Bertha menahan semuanya, dan akan berusaha bersabar, Bertha akan berlaku hati-hati agar Nonanya tidak merasa sedih.
"Jadi apa yang kau ingin makan Nona..?"
"Maafkan aku Bertha"
"Tidak Nona, aku akan melakukan yang kau mau.. bukankah wanita mengidam harus selalu diikuti keinginannya"
Angel menggaruk poninya dan tersenyum haru, Bertha sungguh peduli padanya "Aku ingin masakan mu seperti kemarin, itu enak sekali..."
Bertha mengerutkan keningnya, kemarin yang nona nya makan adalah masakan Tuan Leon, jika begitu bukan karena makanan tapi karena yang memasaknya. Tapi jika benar begitu bukankah pancake tadi juga buatan Tuan Leon, seharusnya Nona juga akan memakannya bukan, tapi tunggu..
Bertha melihat kearah meja makan, namun pancake nya sudah tidak ada..
"Nona kemana pancake nya?" Bertha menatap curiga.
Angel menggigit bibirnya "Sudah ku buang.. ya benar.. aku buang, aku mual melihatnya" Angel merutuki dirinya yang tak tahan memakan dan menghabiskannya, dan sekarang dia bingung harus berkata apa.
'Ya kau buang kedalam perutmu Nona' Bertha mencibir dalam hati.
"Baiklah, tidak masalah sekarang kau ingin memakan apa?"
Angel terlihat berfikir lalu berkata..
"Ayam saus pedas manis" Bertha terlihat berfikir apakah tuan Leon bisa membuatnya?
"Baiklah Nona aku akan mencobanya, tapi karena bahannya mungkin tidak cukup, aku harus belanja terlebih dulu, mau kah kau menunggu?"
"Tidak masalah, aku akan menunggu"
Bertha pun pamit untuk pergi berbelanja, saat Bertha akan keluar dia melihat Leon diluar pintu, Leon langsung mundur dan Bertha segera menutup pintu.
"Apa yang kau lakukan disini Tuan?"
"Aku mau menemui Angel langsung" Bertha mendengus saat melihat Leon menutup mulutnya, dia lebih seperti pria yang takut pada wanita jika begini.
"Tuan, ini belum di perbolehkan Tuan Axel.."
"Aku tidak peduli, aku ingin segera menyelesaikannya.. ini menyesakkan Bertha, aku merindukannya.."
Bertha pusing sekarang entah itu Ayam saus pedas manis, atau Tuan Leon yang keras kepala "Bukankah aku sudah mengizinkan kau menyelinap setiap malam ke kamar Nona"
"Kau tak mengerti Bertha selagi ini belum selesai, hidupku tidak akan tenang."
"Baiklah, lakukan itu nanti, sekarang buatkan Ayam saus pedas manis untuk Nona, dia ingin masakanmu" Leon menganga..
"Apa?"
"Ya, Nona ingin masakan mu"
"Kau bilang dia tak mau memakannya?"
"Itu hanya... untuk membuatmu tak besar kepala" Berta mendorong bahu Leon untuk menuju unitnya, namun tangannya segera di tepis oleh Leon.
"Ku bilang jaga jarak"
"Ya, maaf aku lupa.." Bertha melihat ke arah pintu apartemen Nona Angel, lalu menghela nafas lega, selagi belum ada instruksi langsung dari tuan Axel Bertha masih harus mengawasi Tuan Leon.
Tanpa mereka sadari Angel mendengarkan di balik pintu, lalu dengan pelan membukanya, Angel melihat Leon di giring Bertha meski dari jarak jauh hingga tiba di depan pintu. "Aku akan membeli bahan, lalu akan membawanya untuk kau masak, jadi Tuan tunggulah di dalam" Bertha memberi tatapan tegas, yang di balas tak kalah sengit oleh Leon, Bertha pergi setelah Leon masuk kedalam unitnya, Angel bersembunyi saat Bertha berbalik dan masuk kedalam lift.
Angel menelan ludahnya kasar saat kakinya berjalan mendekati pintu yang tadi memakan Leon, Leon tinggal disana hanya demi menyelinap setiap malam? Angel mengulurkan tangannya dia ingin mengetuk dan menemui Leon, tapi tangannya membeku di udara.
Dengan cepat Angel kembali memasuki apartemennya, lalu berjalan kearah kamar dan menelungkupkan wajahnya di bantal, hingga tanpa sadar tertidur.
Angel mengerjapkan matanya, saat mendengar ketukan pintu kamarnya "Masuk"
Bertha masuk lalu melihat Nonanya yang masih menelungkupkan dirinya dan menutupinya dengan selimut "Nona kau baik-baik saja? Ayam saus pedas manis mu sudah matang" Bertha tahu ini tidak bisa disebut sarapan karena sudah menjelang siang, tapi tak apa, bukankah Nonanya sudah membuang pancake kedalam perutnya.
"Bisa kau bawa kemari Bertha.. kepalaku pusing"
"Kau sakit?" Bertha bertanya dengan khawatir.
Angel bangun dan memperlihatkan wajahnya dengan bagian hidung yang merah "Aku tidak apa, aku hanya malas beranjak"
"Baiklah Nona, aku akan membawanya kemari."
Bertha membawa meja lipat dan menaruhnya di atas pembaringan "Silahkan Nona"
"Ini masakanmu?" Mata Angel menatap mata Bertha.
"Tentu saja Nona."
Angel tersenyum lalu menyuapkan makanannya "Bagaimana Nona?"
"Enak.." Angel menunduk dan melahap makanannya tanpa melihat kearah Bertha, perasaannya tak bisa di gambarkan.
__ADS_1
Tadi saat dia ingin mengetuk pintu rumah Leon, dia berfikir kembali, dia memang merindukan Leon, bahkan dia juga mendengar Leon berkata bahwa dia merindukannya, jadi Angel akan menunggu usaha apa yang akan dilakukan Leon untuknya.
"Aku sudah selesai Bertha, terimakasih.. aku sudah merepotkan mu.."
"Aku senang kau suka makanannya Nona" Bertha melihat mangkuk Nonanya sudah tandas tak bersisa.
"Ya, aku menyukainya.. jika bisa aku ingin memakan masakannya setiap hari" Bertha tertegun saat mendengar ucapan ambigu Nona nya, apa dia salah dengar, apa Nonanya tahu.. jika bukan dia yang memasak.
Angel mendongak "Ada apa Bertha?"
Namun melihat Nonanya yang menatapnya seolah tidak ada yang salah, maka Bertha menyimpulkan mungkin dirinya salah dengar.
"Tidak Nona aku permisi dulu.."
"Kau bisa pulang Bertha lagipula aku tidak punya kegiatan hari ini"
Bertha menoleh "Aku bisa menjaga Nona.."
Angel menggeleng "Aku baik-baik saja, dan aku akan memberi tahumu nanti jika aku membutuhkanmu"
Bertha mengangguk "Baik Nona.." lagipula mereka masih tinggal di gedung yang sama jadi dia tak perlu terlalu khawatir.
Setelah Bertha pergi Angel kembali membaringkan tubuhnya dan kembali tidur, tubuhnya mudah lelah.
Angel bangun di sore hari dan memasuki dapur badannya sedikit pegal mungkin karena tidak melakukan kegiatan jadi badannya terasa kaku.
Di meja makan dia melihat semangkuk sup daging dengan banyak sayuran, Angel tersenyum mungkin ini juga masakan Leon, Angel melihat sekitarnya sudah pasti Leon tak ada jadi Angel langsung memakannya.
Setelah Angel makan, dia menghabiskan sisa waktunya untuk menyelesaikan lukisannya hingga tanpa terasa hari beranjak malam.
Angel menggeliat saat lukisannya selesai dan dia menatap puas dengan hasil karyanya, wajah Leon sudah terlukis sempurna.
"Selesai.. baiklah kita tidur sekarang.." Angel mengelus lembut perut ratanya.
Lalu bergerak menuju kamar untuk membersihkan diri lalu setelahnya membaringkan diri untuk tidur, namun tidak benar- benar tidur.
Angel menghitung hingga waktu menunjuk tengah malam, dan dia merasakan tempat tidurnya sedikit bergoyang lalu dia kembali merasakan pelukan hangat itu, namun kali ini dia tidak akan diam.
Leon terkejut saat Angel tiba-tiba bangun dan menyerangnya.
"Sialan kau, kenapa muncul diam- diam lalu pergi seenaknya, brengsek.."
Angel memukul Leon dengan brutal, namun Leon tak menghentikannya sama sekali "Berengsek, tidak tahu diri..aku membencimu sialan, aku membencimu!!" teriak Angel lagi, Leon hanya pasrah saja saat kerahnya di cengkram kuat "Aku.. membencimu.. aku sungguh membencimu, tapi kenapa aku juga merindukanmu.. hiks..hiks.." Angel menangis seiring serangannya melemah.
Angel menjatuhkan kepalanya di dada Leon "Kenapa baru datang.. apa kamu akan tetap diam, dan bersembunyi.. kamu tidak sudi melihatku.."
Tanpa terasa Leon menjatuhkan air matanya "Maafkan aku.. aku hanya takut kamu histeris dan semakin membenciku.."
"Aku memang membencimu!!"
"Ya"
"Tapi hatiku terus berkata aku merindukanmu, lalu apa yang harus aku lakukan jika hatiku sendiri yang menentangku, tapi kamu tidak peduli.."
Leon mengeleng "Aku tidak mau, aku mau tetap disini.." suara Leon tercekat, seiring dadanya yang terasa sesak.
"Pengecut!"
"Ya, itu aku, aku memang pengecut.. maafkan aku, aku sangat malu padamu, karena melakukan kesalahan yang besar, maaf.. maafkan aku" Leon menggenggam tangan Angel lalu menyerukannya di dadanya.
"Aku sungguh menyesal.." Angel menangis kencang.. seolah meluapkan isi hatinya yang sudah lama tertahan.
"Aku mohon berhenti menangis.. aku tak sanggup mendengarnya" Namun Angel tak hiraukan tangisannya semakin kencang, dan terasa menyayat hati Leon.
"Sayang kumohon berhentilah menangis, kau boleh menendang dan menghajarku, tapi jangan menangis.. Kau sudah cukup menderita.."
Angel masih sesegukan, dan Leon memeluknya dengan erat, ini sudah hampir setengah jam, dan mereka masih diam dalam gelap..
"Mau ku nyalakan lampunya? " Angel menggeleng.
"Kamu takut melihat wajahku.." Leon meringis perih dalam hati bagaimana pun dia telah menorehkan luka untuk Angel, sama seperti Angel takut akan bayangan masa lalu.
Angel menggeleng, dan Leon mendesah lega.
Mereka hanya ditemani cahaya remang dari lampu tidur namun mereka cukup mengetahui gerak tubuh masing-masing.
"Kamu tidak takut gelap lagi?"
"Aku tidak takut saat denganmu.." suara Angel mencicit bahkan lebih seperti bisikan.
"Aku rindu suaramu, bicaralah lebih banyak" Leon mengelus pipi Angel, masih ada jejak air mata disana.
"Aku tidak suka banyak bicara, lagi pula sejak tadi aku sudah berteriak.."
"Maka berteriaklah terus, aku tidak keberatan, jika perlu marah padaku setiap hari.. asal kamu terus bersamaku."
Angel mengurai pelukannya dan duduk menghadap Leon.
"Leon, kenapa kamu melakukan ini?"
"Karena aku mencintaimu.."
"Kamu tidak jijik denganku, aku tidak pera wan"
Leon menggeleng.
"Itu bukan keinginanmu, maafkan aku, aku sudah menyakitimu.. aku bahkan tidak lebih baik"
"Kau tau aku.."
__ADS_1
Leon menutup mulut Angel "Aku tau, aku tau semuanya, jangan ingat masa lalu jika itu membuatmu sedih, dan sakit."
"Leon, maafkan aku, aku sudah memanfaatkan ku"
"Tidak, apa pun itu, kesalahanku lebih besar.. lakukan itu, manfaatkan aku sepuasmu" Angel kembali menangis "Kumohon jangan menangis lagi"
Leon mendekap Angel, mereka saling memeluk, sungguh tidak ada lagi yang bercokol dihati mereka semua sudah tertuang, meski tidak dijabarkan tapi mereka sudah saling memaafkan.
"Masih tidak mau menyalakan lampu?"
"Tidak.."
"Aku tak bisa melihat wajah cantikmu"
"Wajahku jelek habis menangis"
"Wajahmu tetap cantik, meski mata bengkak dan hidung merah"
Angel mendengus, Leon sudah berani merayu..
"Baiklah tidak apa aku akan melihat wajahmu besok pagi.. karena wajah mu dipagi hari lebih cantik"
Angel diam, andai lampunya dinyalakan pasti tidak hanya hidungnya yang merah tapi juga kedua pipinya.
"Tidurlah, jangan biarkan bayi kita kelelahan.." Leon mengelus perut Angel, dan menyamankan posisi mereka, menyandar di sandaran ranjang, dengan Angel menyandar di dadanya.
Angel mendongak "Leon, dari mana kamu tahu aku hamil"
"Kamu tidak akan percaya jika aku menyadarinya sebelum orang lain"
"Hum?"
"Kamu fikir tuan Jo, tahu dari siapa."
"Bagaimana bisa?"
"Ya, kamu yang mengandung aku yang mengalami mual dan muntah.."
Angel makin mengeryit, namun Leon tak melihatnya, namun merasa Angel masih diam, mungkin dia masih bingung.
"Katanya itu karena aku terlalu mencintaimu, dan tubuhku bereaksi sendiri, mungkin karena terlalu khawatir kamu akan mual dan muntah, jadi tubuh ini juga berani menggantikannya.."
"Apa itu..?!" Angel mencebik, "Penjelasan macam apa itu"
"Ya sudah, kalau tidak percaya, yang jelas aku mengalami mual dan muntah setiap hari, lalu aku akan makan sesuatu yang asam di pagi hari.."
"Itu karenanya kamu buatkan aku menu bertoping buah?"
"Kamu tahu?"
Angel mendengus "Aku rasa bayi-bayiku tahu masakanmu."
"Bertha bilang pancake buatanku kamu buang"
"Aku buang kedalam perut.."
Leon tertawa "Jadi kamu memakannya?"
"Bayi- bayiku yang menginginkannya"
"Sebentar, sejak tadi kamu bilang Bayi-bayi ku.. Bayi-bayiku .. enak saja.."
"Memang bayi-bayiku"
"Kamu salah, mereka bayi-bayi kita enak saja, aku juga menyumbang spee*rmaku ,aku bahkan bisa menghitung berapa semburan waktu itu.."
"LEON"
"Apa.. Honey.."
"M*ees**uum"
"Aku juga mencintaimu"
"Aku tidak bilang mencintaimu!"
"Iya, aku juga mencintaimu Honey, harus berapa kali aku bilang."
"Terserah!"
Leon mengulum senyumnya, lalu mendekap semakin erat, dan memberi kecupan di pucuk kepala Angel.
"Tidurlah Honey, aku disini untukmu"
.
.
2009 kata.
Ini dobel up cuma disatuin.
jangan lupa
Like..
Komen..
vote..
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
☕☕☕☕☕☕