Wanita Malam

Wanita Malam
Menjauh Dari Pandangannya


__ADS_3

Angel mengerjapkan matanya dan melihat sekitarnya, disana ada Jonathan, Lily, Axel dan Baby.


"Honey kau sudah bangun?" Jonathan mengelus rambut Angel, Angel bisa melihat raut khawatir dari semua orang.


"Dad, Apa yang terjadi?"


Mereka saling pandang "Kamu histeris lagi.."


"Jadi bukan mimpi, Ya?"


"Hmm, beruntung Daddy Jo, datang lebih dulu dan menemukanmu.."


Angel melihat kemeja Jonathan yang terkena darahnya "Maafkan aku Dad.." sesalnya.


"Tak masalah, mulai sekarang kami tidak akan meninggalkan kamu sendiri, kami akan berjaga bergantian"


"Aku sungguh merepotkan kalian.."


"Tidak sayang jangan fikirkan apapun, kamu harus sembuh lebih dulu"


"Aku ingin istirahat Mom" Angel memiringkan tubuhnya membelakangi semua orang, Baby mengangguk, lalu membenarkan selimut Angel.


"Ternyata cuma mimpi" lirihnya, lalu Angel meneteskan air matanya.


.


.


.


Leon menatap dirinya di depan cermin, membasuh wajahnya beberapa kali tak dihiraukan rasa perih di wajah memarnya, Leon menatap lewat cermin kemeja putihnya terkena darah Angel.


Ternyata kondisi Angel seburuk itu, "Astaga.. apa yang harus aku lakukan" bahu Leon bergetar, lalu Leon kembali membasuh wajahnya, dia terus mengingat kondisi Angel saat histeris, hatinya begitu sakit, bagaikan ditusuk ribuan jarum.


Flashback..


Leon masih di ujung lorong ruang rawat Angel, setelah memberikan bunga pada perawat Leon masih menunggu perawat kembali setelah memberikan bunganya, dari kejauhan perawat itu terlihat keluar dari kamar Angel lalu berjalan kearahnya.


"Apa yang dia katakan?" tanyanya penasaran "Apa dia menyukai bungaku?"


Perawat itu tak bisa tak berkerut, kenapa orang ini masih disini, tadi dia mengatakan untuk tidak memberitahu Nona Angel tentang bunga itu pemberiannya, tapi dia malah ada di dekat kamar Nona Angel kenapa tidak langsung temui saja.


"Nona tidak mengatakan apapun tuan, beliau hanya bertanya siapa yang mengirim bunga itu"

__ADS_1


"Lalu apa jawabanmu?"


"Sama seperti kemarin, Saya bilang saya mendapatkannya di meja resepsionis"


"Baiklah terimakasih" ucap Leon dengan tulus.


"Kembali tuan" pelayan itu membungkuk lalu pergi dari sana.


Leon berjalan pelan seolah takut langkah kakinya terdengar Angel yang berada di dalam kamar di ujung sana, entah mengapa dia begitu ingin bisa lebih dekat lagi, "Aku mohon.. setidaknya biarpun aku tak bisa melihatnya, biarkan aku dekat dengannya.."


Jantung Leon berdebar kencang saat jarak dia dan kamar Angel semakin dekat..


Prang..


prang..


Terdengar bunyi pecahan disusul dengan suara barang terlempar ke tembok.


Jantung Leon semakin berdetak kencang kala memikirkan sesuatu yang buruk sedang terjadi di dalam sana, Leon mempercepat langkahnya, dia tak memikirkan apapun selain Angel yang tak baik-baik saja..


"Akhhh" Angel berteriak nyaring membuat Leon semakin takut.


Leon mendorong pintu kuat, lalu tercengang melihat kondisi di dalamnya


"Tidak.. tidak jangan mendekat..pergi!!!"


"Pergi..!!" Leon menggeleng lalu mulai menurunkan tangan Angel yang berdarah lalu menekannya agar darahnya tak terus mengalir.


Angel terus berontak dan memukul Leon, tanpa membuka matanya,


"Tidak aku bukan Ja lang..!!" teriaknya lagi, Leon meneteskan air matanya, Leon merasa dirinya benar-benar pria paling brengsek di dunia, karena dirinya Angel mengalami semua ini.


"Ya, bukan. Kamu bukan Ja lang.. maafkan aku.." lirihnya. Leon terus mendekap Angel, entah dari mana kekuatan Angel dia terus saja berontak, di saat yang sama dokter datang dengan beberapa suster dibelakangnya, dokter menyiapkan sebuah suntikan untuk membuat Angel kembali tenang.


"Dengar aku.. lihat aku.. aku disini" entah mengapa hanya itu yang ingin dia katakan. "Aku disini.. maafkan aku"


Angel berhenti, matanya terbuka lalu Angel bisa melihat mata itu, mata yang penuh kesakitan, dan penyesalan "Leon.." lalu tiba-tiba pandangannya memburam dan... Gelap.


Angel tak sadarkan diri.


Setelah Angel tertidur, Leon akan membawa Angel kembali ketempat tidur, namun sebuah suara menghentikannya.


"Berhenti.." Jonathan menahan Angel dan segera meraih Angel kedalam gendongannya dan membaringkannya dengan hati-hati diatas ranjang.

__ADS_1


"Sayang bisakah temani Angel" Lily masih dalam keterpakuan nya dengan kejadian ini, hanya bisa mengangguk, baru sekarang dia melihat Angel histeris seperti itu.


Jonathan dan Leon melewati Axel, yang sedang menenangkan Baby, dia bisa melihat tatapan tajam yang dilayangkan padanya.


Jonathan menyeret Leon keluar dari ruangan lalu menghempaskannya "Kau lihat, apa yang kau lakukan!" Jonathan mengira Angel kembali histeris karena kedatangan Leon.


Leon hanya diam dengan tatapan nanar kearah ruang rawat Angel. dimana Dokter sedang menjahit luka Angel yang kembali terbuka.


"Pergilah jangan temui Anakku lagi.." Leon mendongak dia tak berdaya bukan karena takut, dia hanya sedang memikirkan kondiri Angel.


"Bi.. bisakah aku pergi setelah tahu dia baik-baik saja.. aku mohon"


"Aku hanya.." belum selesai Leon bicara tubuhnya tertarik kebelakang..


Bugh..


Satu pukulan mendarat di wajahnya, disusul beberapa pukulan lagi.


Bugh..


Bugh..


"Brengsek, beraninya kau muncul disini!" Axel benar- benar tak bisa menahan lagi amarahnya yang sudah ia tahan kini semakin membara.


Saat Axel akan memberikan tendangan, Jonathan mencegahnya.


"Sudahlah biarkan dia pergi"


"Sial.." Axel mengumpat "Jangan pernah temui anak ku lagi, jangan mendekat.. kau harus jauh dari pandangannya!"


.


.


.


Maafken baru Up, biasanya dede bayi bobo pagi-pagi , aku ngetik.. tapi tadi pagi.. pas dede bayinya tidur aku ikut tidur eh... bablas deh sampai 09:30 baru bangun, suer ✌️ngantuk banget. bangun tidur aku baru ngetik, maaf kalo ada typo mata aku masih setengah terbuka😅


Like..


Komen..


Vote..🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2