
Angel benar benar berbakat, entah dari mana bakat melukisnya, Baby sendiri tak punya kemampuan itu, apakah dari pria itu? mengingatnya Baby sama sekali tak mau menyebut Jonathan sebagai ayah Angel, tidak akan, Angel hanya anaknya.
Tapi setahu Baby, Jonathan juga bukan pelakon seni ia hanya pebisnis, maka baguslah Angel sama sekali tak menuruni gen pria brengsek itu, dan semoga saja benar benar tidak.
Baby dan Axel hanya di izinkan sekilas melihatnya, Angel bilang ini belum selesai, dan ia berjanji akan menyelesaikannya dengan baik dan bagus.
Baby memperhatikan interaksi antara Angel dan Axel, kenapa mereka terlihat akrab, meski Angel yang lebih banyak bicara tapi setidaknya Axel sudah mau menanggapi, mereka sedang duduk di sofa ruang keluarga, dengan Axel yang duduk berdampingan dengan Angel yang tak berhenti berceloteh, apa Angel sudah tak takut lagi pada om tuannya itu?
"Uangku tak akan habis hanya untuk menyekolahkan Angel hingga lulus nanti, bahkan jika kita punya sepuluh anak lagi.."
Perkataan Axel terus terngiang di telinga Baby, ia yakin tak salah dengar tadi, bahkan saat Baby melihat mata Axel tak ada keraguan disana, atau pun kebohongan,benarkah Axel berencana punya anak dengannya.. sepuluh anak? mengingat itu pipi Baby memerah dan serasa panas, Baby menepuk pipinya sambil berkedip beberapa kali.
"Ada apa denganmu?" Axel mengerut saat Baby menepuk pipinya sendiri.
"Mom sakit?" Angel pun ikut bertanya "Pipi mom merah.." mendengar itu Axel berdiri dan menghampiri Baby, diletakannya tangan di dahi Baby.
"Tidak panas, kau baik baik saja?" melihat pipi Baby memang sedikit merah juga ada beberapa bulir keringat di dahinya.
"Aku.. aku baik baik saja" Baby menepis tangan Axel lalu berdiri "Aku ke kamar dulu" Baby segera berlari menuju kamarnya.
Axel tertegun sebentar lalu terkekeh ia baru menyadari Baby baru saja tersipu,apa yang dia fikirkan?.
.
.
.
Baby menemani Angel hingga tertidur, tepat pukul sebelas malam Baby keluar kamar Angel dan betapa terkejutnya Baby saat mendapati Axel diluar kamar "Astaga.. sedang apa kau di sini tuan?"
__ADS_1
Axel melipat tangannya di dada "Aku sedang menunggu jika lima menit lagi kau tidak keluar aku akan membawamu ke lantai atas"
"Kau menungguku" Baby menggeleng tidak percaya,sudah dua kali Axel memindahkannya ke kamar atas, tapi itu karna Baby tak tau Axel akan pulang, tapi hari ini kan sejak kemarin Axel ada disini maka Baby juga ingat kewajibannya menemani Axel,tidak mungkin kan ia tidur di kamar Angel.
"Kau fikir aku menunggu pengasuh Angel" Baby melihat pintu sebelah kamar Angel, pengasuh Angel adalah wanita paruh baya yang masih sangat segar dan aktif, Baby mengedikkan bahu.
"Siapa tahu.." Baby melangkah menuju dapur setelah mebacakan cerita untuk Angel ia merasa butuh minum.
Axel mendengus dan mengikuti Baby dari belakang, Baby menuang air kedalam gelas namun saat mendapati Axel masih berdiri disana dia kembali bicara "Tuan kau memang berniat menjajahku lagi ya"
Axel mengerut 'Menjajah' apanya yang dia jajah.
"Kau tau badanku masih sakit sisa tadi siang..bisa tidak aku cuti satu malam"
Axel menyeringai lalu menggeleng "Kau ingat kau harus siap kapan pun aku mau" Axel mendekat dan memangkas jaraknya dengan Baby "Atau jika perlu kita melakukannya disini saja"
Baby melihat sekitarnya ada meja pantry tak jauh dari mereka berdiri, ada meja makan, mungkin maksud Axel mereka melakukannya diatas meja, mereka memang pernah melakukannya di atas meja di kantor Axel, tapi di sini..? Baby menggeleng "Bagaimana? kita belum melakukannya di atas sini" dalam satu hentakan Axel berhasil mendudukan Baby di meja pantry.
Bagaimana jika ada pelayan yang lewat, atau tiba tiba Angel bangun "Tuan kita dikamar saja ya, atau jika mau gaya lain kita lakukan dilantai atas saja.." Baby menahan dada Axel yang semakin menempel padanya.
Axel terkekeh, melihat Baby panik "Baiklah.." Axel memberi kecupan di bibir Baby,yang tak lama berubah menjadi ******* Axel melingkarkan kaki Baby di pinggangnya lalu membawanya kearah dimana lantai dua berada.
"Tuan kau tidak keberatan ya?" Baby mengalungkan tangannya di leher Axel, villa ini sangat luas, apa Axel tak pegal menggendongnya begini.
"Maka dari itu, kau harus memberiku imbalan yang memuaskan" Baby memutar matanya.
"Baiklah, baiklah.. malam ini aku akan menurut gaya apapun yang kau mau... dasar perhitungan, lagi pula aku tidak pernah minta digendong"
Baby menggerutu, tapi Axel malah tertawa, tawa yang tak pernah Baby lihat, Axel mungkin bisa tersenyum meski tak sering juga dan itu pun tak terlalu lebar, tapi itu saja sudah membuat Axel semakin tampan, dan sekarang bukan senyum lebar lagi tapi.. Axel tertawa,membuat ketampanan Axel berkali lipat dari sebelumnya.
__ADS_1
Baby menelan ludahnya posisi mereka menempel seperti induk koala menggendong anaknya, bagaimana jika Axel merasakan debaran jantung Baby yang mendadak kencang akibat mengagumi ketampanan Axel.
Axel merasakan kehangatan dari tubuh mereka yang menempel mengalir keseluruh syarap hingga hatinya, Axel bahkan lupa kapan terakhir kali ia bisa tertawa, sejak mendengar orang tuanya yang terus bertengkar, hingga akhirnya tewas dalam kecelakaan membuat tawa Axel hilang sepenuhnya, dan kini hanya dengan melihat Baby menggerutu saja rasanya sungguh menyenangkan, ia harus lebih sering melakukan ini agar ia bisa merasakan bahagia.
Axel masih terjaga setelah olah raga malam mereka yang selesai satu jam lalu, bahkan karna lelah Baby sudah tidur di pelukannya, tangan Axel terulur menekan ponselnya lalu berbicara.
"Bagaimana..?"
"Saya baru saja memastikan kepergiannya tuan, dan memastikan dia tak akan di temukan.."
"Pastikan semuanya aman, dan jangan sampai Jonathan curiga pada kita, permainannya belum selesai.." Baby membuka matanya saat nama pria brengsek itu terdengar, apa yang akan Axel lakukan pada pria itu..
"Baik tuan.."
Axel menutup panggilannya, satu tangan Axel tak henti mengelus rambut Baby, tatapannya berubah tajam, mengingat wanitanya ini pernah disakiti oleh Jonathan, Baby menjadi salah satu korban kebejatan Jonathan, penjahat kelamin yang hanya menginginkan perawan.
Mengingat itu membuat Axel ingin mencincang habis Jonathan, tapi ia tak bisa gegabah, keluarga itu harus jatuh hingga posisi terendah, apa yang di lakukan Jhorgi Michael pada kedua orang tuanya, Jonathan yang sudah merusak masa depan Baby, juga Ami wanita murahan itu.. mereka akan mendapat balasannya, Axel meremas tangannya kuat menahan Amarah dihatinya.
Baby meringis dan berhasil membuat Axel kembali ke dunia nyata,astaga apa yang Axel lakukan, tanpa sadar tangannya meremas bahu Baby hingga membekas merah.
"Astaga maafkan aku, aku tak sadar melakukannya.." Axel memeriksa bekas merah di bahu terbuka Baby.
"Tidak apa, aku hanya terkejut" Axel menghela nafasnya.
"Maaf, ayo kembali tidur" Axel kembali membawa Baby kepelukannya, membuat posisi mereka nyaman.
"Tuan apa yang kau fikirkan?"
.
__ADS_1
.
.