
[Cerita ini hanya fiktif belaka, jadi jangan samakan dengan dunia nyata jika ada yang tidak sesuai dengan kenyataan, mohon di maklum karena ini murni khayalan aku aja]
..Happy Reading..
.
.
.
Masih ada dua hari lagi pameran berlangsung, Angel juga sudah berada di stand nya, banyak lukisan yang sudah dipesan bahkan yang di bandrol dengan harga tinggi pun sudah terjual, dan Angel juga harus melayani jika ada yang ingin dilukis dadakan, meski dari panitia tidak mengharuskan, karena itu berarti para pelukis harus siap berkotor kotoran dengan cat, tapi Angel tak keberatan.
Melukis adalah hobinya, dengan melukis Angel bisa mengatakan apa yang tak bisa ia katakan pada orang lain, melukis seperti mengungkapkan isi hatinya.
Lukisan Angel di dominasi dengan tema kesedihan yang mengungkapkan isi hatinya, meski ada juga tema kebahagiaan tentu saja ungkapan ini untuk orang orang yang dia sayangi.
Tidak ada yang tau tentang trauma Angel, kecuali seorang Dokter yang selama ini ia datangi untuk konsultasi..
Awalnya Angel selalu berdiam dengan keadaan nya, namun saat Axel memasukannya kesekolah seni seperti janji nya. Angel mulai tinggal di asrama, dan itu berarti dia harus banyak berinteraksi dengan orang lain, tidak mungkin Angel membatasi diri seperti saat di sekolah dasar.
Angel akan takut jika terlalu dekat dengan lawan jenis dan bergetar hebat, belum lagi saat dia semakin dewasa mimpi buruk itu lebih sering menghantuinya.
Angel mulai mencari dokter ahli untuk penyakitnya ini..
Dokter tersebut selalu mendukungnya dan setuju untuk tak memberitahu siapa pun termasuk Daddy dan Mommynya tentang trauma nya.
__ADS_1
Dokter menyarankan jika Angel tak bisa ungkapkan semuanya pada orang lain, termasuk Ibunya, cari cara lain untuk mengungkapkan isi hatinya dengan begitu Angel tak tertekan dengan trauma itu sendiri, maka sejak itu setiap melukis ia selalu meluapkan isi hatinya, disaat marah, sedih atau pun bahagia, namun miris lukisan kesedihan lebih mendominasi.
Mungkin sekarang setelah Angel sering konsultasi, dia mulai bisa mengendalikan dirinya agar tidak terlalu takut dengan lawan jenis asalkan tidak dalam posisi intim.
Dan semalam Angel harus menahan sekuat tenaga menahan gemetarnya dalam dekapan Leon, meski Angel merasa ini tak terlalu menakutkan seperti bayangannya namun tetap saja Angel membatasi dirinya.
" Ini menakjubkan aku seperti bermimpi" Leon berbisik di telinga nya, dan seketika membuat dinding waspada dalam diri Angel mengetat.
"A..ap..a?"
"Ini suatu anugrah ku bisa berdansa dengan wanita paling cantik di dunia ini.."
Angel terkekeh, dia berusaha menahan getaran di tenggorokkannya agar suaranya terlihat normal "Salahkah aku tersipu dengan kata- katamu tuan, kau terlalu menyanjungku"
Leon tersenyum "Bisakah jangan panggil tuan, kita bahkan tak dalam acara formal"
"Ah baiklah.." Leon menjauhkan dirinya, namun tangannya menggenggam tangan Angel "Aku antar ke kamar mu"
Angel tak bisa protes saat Leon menariknya berjalan keluar restoran dan memasuki lift untuk turun kelantai kamar mereka berada, dan yang Angel tau, kamar mereka berada di lantai yang sama.
Angel menelan ludahnya kasar saat melihat Leon tak henti tersenyum rautnya memancarkan kebahagiaan, seketika hatinya merasa bersalah, apakah Leon mulai terjebak pesonanya? bukan senang karena rencananya berhasil tapi Angel kini merasa gamang, benarkah yang dilakukannya sudah benar?
Demi rasa sakitnya dia mengorbankan perasaan orang lain.
Tiba di depan pintu kamar Angel, Leon masih belum melepas genggaman nya "Em.. Leon aku harus masuk"
__ADS_1
"Oh, ya masuklah.." Leon sebenarnya masih enggan melepaskan tangan Angel, namun mereka memang harus terpisah kan, kerena kata Angel dia harus beristirahat.
Saat Angel akan membuka pintu Leon kembali memanggilnya.
"Angel.."
"Ya.."
Cup..
Satu kecupan mendarat di pipi mulus Angel, dan seketika Angel tertegun.
"Maaf, aku sungguh.." Leon salah tingkah dibuatnya dia sudah tidak tahan melihat Angel, bahkan jika dia punya kuasa lebih, dia ingin melu mat bibir wanita didepannya ini yang sejak tadi memberi senyuman menggoda, namun reaksi Angel yang datar membuatnya malu sendiri, biasanya dia yang akan dicium oleh para wanitanya, namun sekarang dia yang tak tahan ingin mencium Angel, meski di pipi saja, dia sudah sangat beruntung.
Leon tak menyadari tangan Angel di bawah sana sudah mengepal keras, menahan sesuatu..
"Tidak masalah Leon, selamat malam" Angel masuk dan menutup pintunya tepat di depan wajah Leon.
.
.
.
Aku up tiga bab loh.. kasih kopi boleh dong☕☕☕
__ADS_1
hehe ngarep😅