Wanita Malam

Wanita Malam
Selesai


__ADS_3

Angel menatap tajam Leon yang masih duduk lemas karena muntah, Emily sudah pergi dengan wajah masam nya, karena Leon benar-benar muntah akibat bau parfumnya saja, bahkan hingga berkali-kali, dan Emily semakin percaya saat sekertaris Leon di panggil dan Leon kembali muntah, hingga akhirnya Emily pergi meski merasa tidak terima.


Leon bergerak ingin memeluk Angel, sungguh dia butuh Angel untuk memulihkan rasa pusingnya, Leon ingin di usapi rambutnya atau di usapi punggungnya itu benar-benar akan meredakan lemasnya, aneh memang tapi begitulah kenyataanya.


Angel menggeser tubuhnya menjauh dari Leon, hingga mendapatkan protes dari Leon "Honey satu jam lagi aku ada rapat, bisakah peluk aku sebentar, lagipula apa kamu tidak merindukanku?"


Angel mencebik "Menurut kamu untuk apa aku kemari, jika tidak rindu.. tapi aku datang disuguhi adegan menyebalkan"


"Aku sudah bilang aku menahan mualku di depannya karena tak ingin terlihat lemah.. padahal perutku sudah sangat bergejolak, andai kamu tidak datang aku pasti akan menyembur wajahnya"


Angel mendelik "Lalu kenapa tidak lakukan itu!, muntah saja di depannya biar dia merasa jijik, lagipula akhirnya dia tahu kamu muntah.."


"Baiklah, aku tahu aku bersalah, maafkan aku ya!?"


"Kamu juga tidak pernah menghubungiku.. apa sebegitu sibuknya, lima menit pun kamu tidak bisa.."


"Bisa saja, tapi setelah itu aku akan terus mengingatmu dan ingin segera datang, lalu aku akan mengabaikan pekerjaanku lagi"


"Saat ini aku sungguh frustasi, aku ingin lepas dari semua ini, tapi juga tak mau kehilangan kamu, hanya kamu yang aku perjuangkan.. persetan dengan jabatan ini, tapi Honey jika aku tidak melakukan ini aku tak mau kamu di benci Daddy karena hal ini, dia juga bukan sebentar berjuang demi perusahaan ini, maka dari itu dia tak rela jika perusahaan ini di pimpin orang lain"


Angel tertegun sesaat lalu melihat Leon menundukkan wajahnya yang tak berdaya, sebenarnya dia tahu apa yang Leon lakukan untuknya, bukankah Mommy Leon sudah mengatakannya.


Angel juga melihat mata Leon menjadi cekung apa dia begitu kelelahan, dua minggu bekerja tanpa henti ataupun sekedar pulang saja.


Apa dia tidak tidur dengan baik?.


Angel bergerak lalu mendudukan dirinya di pangkuan Leon, "Kamu tidak akan kehilangan aku, ataupun jabatan kamu" Angel menangkup pipi Leon, "Semua perjuangan kamu tidak akan sia-sia."


"Tapi bisakah, kelak jika terjadi sesuatu bicarakan padaku.."


Leon memeluk Angel dan menyerukan kepalanya di dada Angel "Maafkan aku, aku hanya tak ingin kamu khawatir, dan berpengaruh pada bayi kita.."


"Tadinya setelah rapat hari ini aku akan segera menemuimu, tapi kamu yang datang lebih dulu.."


"Kamu fikir aku tidak khawatir saat kamu tak pernah menghubungiku, bagaimana jika kamu malah menggoda wanita lain.."


Leon terkekeh "Bukankah aku sudah terkena kutukan?"


"Hmm, kamu tidak bisa lepas dari ku.."Angel mengusap rambut Leon.


"Nyamannya.." Leon bergumam.


Saat Leon baru saja merasa nyaman, sebuah ketukan menyadarkannya, hampir saja dia tertidur.


Angel akan bangun namun Leon mencegahnya "Masuk.."


Jef mengerjap beberapa kali, lalu menundukkan kepalanya "Tuan, rapat akan segera dimulai"


"Hmm, aku segera datang" Leon menegakkan tubuhnya saat Jef sudah keluar "Aku harus rapat sekarang."


"Pergilah.. Aku menunggu disini"


Leon berdiri tanpa melepas Angel, lalu menggendongnya kesebuah ruangan "Istirahat disini.." Leon meletakan Angel diranjangnya "Kamu pasti lelah sudah berdebat.." Leon tersenyum.


"Semua akan baik-baik saja, jangan khawatir." Angel mengusap rahang Leon.


"Tentu saja, selama ada kamu semua akan baik" Leon menunduk merapatkan bibir mereka, melu matnya beberapa kali lalu menjauh, meski belum puas tapi Leon harus segera pergi.


"Aku pergi dulu."


Angel mengangguk, lalu Leon keluar kamar meninggalkan Angel yang masih tersenyum.

__ADS_1


Angel menghela nafasnya lalu meraba kain sprei yang sedikit berantakan, mungkin selama ini Leon tidur disana.


Angel memejamkan matanya merasai nyamannya aroma khas tubuh Leon yang menempel di sprei, bantal bahkan selimut, hingga tak terasa Angel tertidur.


Angel mengerjap beberapa kali, lalu membuka mata "Jam berapa ini?" Angel melihat jam di ponselnya lalu berjengit "Astaga sudah sore aku begitu nyenyak hingga tak menyadari waktu" Angel bangun dan merapikan pakaiannya, dia tidur selama tiga jam, apakah rapatnya sudah selesai.


Angel keluar dari kamar dan melihat Leon tengah menyantap makanan yang dia bawakan tadi.


"Apa masih enak?, harusnya di panaskan dulu."


"Tidak masalah ini enak, kamu sudah bekerja keras dengan membuatnya" Leon tersenyum.


Angel mendudukan dirinya di sisi Leon.


"Semua baik-baik saja?"


Leon berhenti mengunyah lalu tersenyum "Berkat kamu.."


"Kamu merasa tak enak..?"


Leon menyimpan sendoknya, supnya sudah habis, begitupun dengan semua makanan yang di bawa Angel.


"Aku hanya merasa tidak berguna, dan mengandalkan wanita.."


Angel menggeleng "Jangan berfikir seperti itu, kamu pasti bisa melakukannya andai orang itu tidak curang." Benar, ini karena ulah Daddy Emily, yang menyogok semua pemegang saham agar menentang Leon.


"Daddy mu membeli saham mereka atas namamu"


"Begitu?" Angel sempat tertegun dia tak percaya Daddy Jo memberikan semuanya untuk Angel.. "Jika begitu anggap saja aku sedang berinvestasi, dan aku akan mendapat keuntungan dari perusahaan."


Leon mengangguk "Tapi aku akan tetap menggantinya.."


"Lakukan apapun yang membuat kamu nyaman.."


Leon tersenyum "Karena semuanya sudah selesai dengan baik, maka ayo.. Ayo kita menikah!"


Angel membelalakan matanya "Kamu melamarku sekarang..?" Leon mengangguk "Tidak romantis sekali, harusnya ada makan malam yang dipenuhi lilin, baru berkata begitu.."


"Berkata apa?" Angel memerah "Aku harus berkata apa?"


Angel mencebik "Maukah kamu menikah denganku!"


"Aku mau.."


"Itu bukan pertanyaanku.." Angel memukul bahu Leon..


"Bukankah sama saja siapa yang bertanya"


"Leon!!"


Leon tertawa, lalu berdiri dan menggenggam tangan Angel "Ayo.." ajaknya.


"Kemana?"


"Ikut saja!" Angel bangun dan mengikuti Leon, mereka saling menggenggam lalu keluar dari ruangan Leon.


Saat keluar dari ruangan Angel dibuat menganga dengan apa yang dilihatnya, para karyawan Leon berdiri mulai dari depan pintu hingga memenuhi koridor mereka berjejer dengan memegang setangkai mawar merah, satu persatu mereka memberikan mawar merah tersebut pada Angel.


"Astaga Leon.. kapan kamu mempersiapkannya.."


"Coba tebak..?"

__ADS_1


"Aku tak mau menebak.."katanya acuh.


Leon menghela nafasnya "Aku melakukannya mendadak sebelum memasuki ruang rapat, aku memesan lebih dari seribu tangkai mawar merah"


"Kamu gila.. bagaimana aku akan membawanya" Angel masih menerima mawar dari setiap karyawan yang mereka lewati.


"Leon tersenyum, bagaimana kamu membawa cintaku yang tak terhitung jika seribu mawar saja tidak bisa kamu bawa.." canda Leon.


"Kamu benar- benar menyusahkanku!" keluhnya.


Leon menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Angel, Angel tertegun saat merek berhenti di sebuah ruangan yang di penuhi bunga, dia tak menyadari karena terpana dengan semua bunga yang di terimanya, kini Angel dan Leon berhenti dan berdiri berhadapan di kelilingi mawar merah.


Angel tersenyum "Sepertinya kamu tak mau menyusahkan ku?"


Leon mengangguk "Benar, maka sisanya aku simpan disini"


Leon melangkah merapatkan dirinya dengan Angel, kedua tangan mereka saling menggenggam.


"Honey, aku mencintaimu lebih dari hitungan bunga ini, jika bunga-bunga ini akan layu dimakan hari, maka cintaku tidak akan pernah mati meski dimakan usia..


"Honey, aku manusia brengsek yang beruntung mendapat malaikat sepertimu, terimakasih sudah menerimaku kembali..


"Angel.. My Angel, mari kita menikah"


Angel terkekeh sambil mengusap air mata harunya "Aku fikir puisimu terlalu pendek.."


"Aku tak mau kamu pegal karena terlalu lama berdiri.." kilahnya.


"Aku bisa meminta kursi untuk duduk sambil mendengar puisimu"


Leon mendengus "Aku tak bisa terlalu banyak bicara.." Leon memberi alasan.


Angel tertawa diikuti semua karyawan Leon yang ikut menonton, mereka ingin tahu bagaimana CEO mereka melamar seorang wanita.


"Sudah lah itu tidak penting, lagi pula semua sudah selesai.. sudah bubar sana kalian pergi..!" Leon berkata dengan wajah merah karena malu.


Angel tertawa lalu menangkup wajah Leon lalu mendekatkan wajah mereka dan menempelkan bibir mereka "Aku mencintaimu."


Leon tersenyum lalu merengkuh pinggang Angel hingga makin merapat kearahnya "Aku sangat.. sangat.. sangat mencintaimu" kini giliran Leon yang meraup bibir Angel, melu matnya dan menghisapnya dalam.


Suasana menjadi hening mereka yang melihat dan menjadi saksi bagaimana Leon melamar Angel. menjadi haru, meski awalnya mereka dibuat tertawa karena puisi pendek Leon, tapi hanya kerena beberapa kata saja mereka kembali terhanyut.


"Aku sangat.. sangat.. sangat mencintaimu."


.


.


.


TAMAT.


Akhirnya selesai juga.


Hay aku Nenah, hanya Nenah entah kenapa? tapi aku tak punya nama panjang. karena itu nama penaku Nenah Adja (aja) , atau nama profil ku Ceu Nah, baik itu Instagram atau Facebook nama akunnya Ceu nah meski aku tak terlalu aktif di Ig, kenapa Ceu Nah?


Aku dari tanah sunda Eceu atau Ceu berarti Teteh atau kakak perempuan, kalau Nah, diambil dari nama belakangku NeNah.


Itu sedikit perkenalan diriku, jangan tanya umur malu udah buntut tiga🤭


Terimakasih sudah membaca Novelku, untuk pembaca setia yang sudah menemani aku sejak novel pertama "Aku bukan/ hanya bayangan" hingga sekarang dan aku gak bisa sebutkan satu persatu, tapi aku cuma bisa berkata Terimakasih banyak sudah membaca karya receh ini yang jauh dari kata sempurnašŸ™

__ADS_1


Salam sayang untuk semua😘


__ADS_2