
Axel akan membawa Ami kerumah Nenek nya rumah yang sudah lama tak ia sambangi karena kesibukannya, sebenarnya tak benar benar sibuk, karna Axel masih bisa mengunjungi Baby, dan berlama lama disana, tapi Axel memang malas bertemu neneknya dan hanya berbicara tentang cicit yang harus segera di dapatnya dari Ami, jadi dia abaikan saja.. Axel tak sepenuhnya abai Axel menempatkan perawat yang khusus ia pekerjakan untuk mengawasi dan melaporkan apa saja yang terjadi pada nenek nya.
Maka hari ini ia sudah mengatakan akan menemui neneknya itu, namun tidak dengan Ami, Axel sudah merencanakannya sedetail mungkin, dan Axel sedang menunggu Dion menghubunginya.
Diperjalanan Ami tak hentinya menempel pada Axel dan bergelayut manja di lengannya membuat Axel jengah dan ia harus bertahan sebentar lagi, sialan lama sekali si Dion itu, apa saja kerjanya.
"Sayang apa kau tidak merindukanku.. kita sudah lama tidak melakukannya" Ami meletakan tangannya di paha Axel, lalu merambat ke atas hingga tangannya kini berada di senjata Axel, yang tak memberi reaksi apapun,Ami meremasnya pelan, jika itu dilakukan Baby mungkin tak akan lama Axel akan menerjangnya, namun Ami melihatnya pun membuat Axel jijik mengingat tangan itu juga digunakan untuk menjamah banyak pria, tangan Baby mungkin juga pernah melakukan itu pada pria lain namun Baby melakukannya dengan terpaksa karna uang yang dibutuhkannya yang tak sedikit, bahkan dari yang Axel tau Baby bahkan memilih menyakiti dirinya sendiri tanpa melakukan foreplay.
Berbeda dengan Baby, Ami justru melakukannya dengan suka rela dan menikmatinya, bahkan dirinya yang membayar para pria itu untuk menyenangkannya, menjijikan.
Tanpa Axel sadari Ami sudah naik kepangkuannya "Apa yang kau lakukan kita sedang di jalan.. " Axel belum selesai bicara Ami sudah mencium bibirnya dengan bergairah, tentu saja dengan harapan Axel akan tergoda, tangan Ami mengalung erat di leher Axel hingga Axel serasa tercekik.
Axel mengingat jendela mobilnya terbuka, Ami gila, apa dia tak malu melakukannya di jalanan yang ramai, tak ingin orang diluar melihat apa yang dia lakukan pada Ami selanjutnya maka Axel menaikan kaca jendelanya, tepat setelah Axel menutup jendelanya Axel mendorong Ami keras hingga punggung Ami terbentur setir, "Aw.. apa yang kau lakukan!" Ami mengelus punggungnya yang sakit, Axel yakin pasti akan memar mengingat ia mendorongnya cukup keras.
"Kau tidak lihat lampunya sudah hijau, kembali ke kursimu!" Ami sampai tertegun Axel bicara dengan datar dan mata yang memancarkan kemarahan, Ami merasakan bulu kuduknya merinding, kemana kelembutan yang sejak tadi di perlihatkan Axel, apa Axel marah karena kelakuannya barusan dan sekarang dia menyesal karna gegabah menggoda Axel.
"Axel.." lirih Ami, matanya berkaca kaca.
"Lain kali jangan lakukan itu kau tau kita ada dimana, kau tidak lihat sekitarmu.." Axel meremas setirnya dan memalingkan wajahnya namun maniknya terbelalak saat ia melihat sosok Baby yang menatap kearah mobilnya, mata Baby memancarkan kesedihan, sial apa Baby melihatnya tadi, dia pasti salah paham.
Kaca mobilnya memang gelap dari luar namun Axel bisa melihat dengan jelas keluar, dan Axel bisa melihat Baby bersama Angel, dan siapa pria dibalik kemudi itu.
Mobil yang di tumpangi Baby sudah melaju,namun Axel masih diam disana hingga suara klakson dari mobil di belakangnya terdengar "Ada apa denganmu Axel, tadi kau suruh aku berhenti karna akan jalan tapi kamu malah melamun?" Axel hanya diam dengan pandangan kedepan ia tak perduli dengan ocehan Ami, yang ia fikirkan apakan Baby melihatnya ketika Ami menciumnya tadi..? dan dia pergi bersama siapa? itu bukan supirnya yang biasa mengantar Baby pergi, dan itu juga bukan mobilnya.
Tepat saat Axel akan melajukan mobilnya ponsel Ami berdering, Ami segera merogoh tas mewahnya dan mengangkat panggilan tersebut, Axel tak bisa mendengar siapa yang menghubungi Ami, namun Axel bisa tau dari suara Ami yang gugup dan rautnya mendadak pucat, Axel pun menyunggingkan senyumnya.
Ami mengakhiri panggilannya, dengan tangan gemetar ia memasukan kembali ponselnya kedalam tas, ragu ia mengatakan pada Axel, namun keselamatannya di ujung tanduk sekarang.. maka Ami putuskan untuk bicara.
"Axel.. aku" Tepat saat Ami akan bicara Axel mengangkat tangannya.
__ADS_1
"Sebentar.." Axel membelokan mobilnya dan berhenti di sisi jalan, "Dion menghubungi ku" Axel mengangkat panggilannya , tanpa bicara dan hanya mendengarkan Dion berbicara, setelahnya Axel bergumam "Hmm" dan langsung mematikan panggilannya.
Axel melihat kearah Ami "Kita harus tunda mengunjungi Nenek, aku harus pergi keluar kota.." Axel kembali melajukan mobilnya.
"Tapi, Axel kamu baru saja pulang dari luar negeri.. dan harus pergi lagi?" Ami protes bagaimana bisa Axel selalu pergi dan meninggalkannya dirumah sendirian lagi lagi "Bahkan rencana bulan madu kita terus kamu undur.."
"Ayolah Ami, ini memang pekerjaanku.. lagipula siapa yang membuatku sibuk sekarang kau lupa kakakmu itu membuat masalah, dan sekarang aku harus menyelesaikannya.."
"Tapi Axel itu bukan salah kakak ku.. tapi.."
"Ya dia bodoh karna menerima orang sembarangan sebagai pegawainya, dan sekarang dia yang menanggungnya.. tentu saja sudah beruntung di tak masuk bui.." Ami terdiam, Axel memang benar.
"Kita akan kerumah nenek saat pekerjaanku selesai..di depan akan ada supir mengantarmu pulang.."
"Baiklah.."
Tak seberapa jauh Axel menghentikan mobilnya dan menurunkan Ami, wajahnya masih tertekuk dan masuk kedalam mobil yang diperintahkan Axel mengantarnya pulang.
"Tidak antar aku ke hotel xxx dulu" Supir tersebut mengangguk dan melajukan mobilnya langsung ketujuan yang di perintahkan oleh nyonya nya.
Ami, menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, ia harus berfikir cepat baru saja pria yang pernah tidur bersamanya menghubungi dan mengancam akan memberitahukan tentang perselingkuhan mereka, Ami frustasi belum lagi tentang kehamilannya yang semakin membesar apa ia harus menggugurkannya saja agar Axel tak tau, lagi pula Axel tak pernah menyentuhnya lagi hingga sekarang bagaimana bisa ia mengatakan ini anaknya jika Axel tak memberikan benihnya sama sekali.
Dan sekarang Ami harus berurusan dengan pria muda yang berambisi padanya ambisi akan tubuhnya, pria itu mengancam akan mengatakan pada Axel jika dirinya berselingkuh di belakang suaminya,dia berkata mempunyai bukti bahwa Ami juga sering menghabiskan malam malamnya dengan pria berbeda setiap malam dan sebagai gantinya Ami harus selalu ada disetiap ia mau menjamah tubuhnya. sialan dia terjebak sekarang.
Supir menghentikan mobilnya di depan hotel xxx "Pulang lah aku akan pulang sendiri nanti" perintahnya pada sang supir, Ami turun tanpa tau supir itu menghubungi Axel dan mengatakan Ami sudah turun di hotel xxx.
"Tuan nyonya sudah masuk ke dalam hotel xxx"
.
__ADS_1
.
Dengan langkah anggunnya Ami, memasuki kamar yang sudah di sebutkan oleh pria yang mengancamnya tadi.
Ami mengetuk pintu, dan tak lama pintu terbuka dan Ami ditarik masuk.
Tanpa aba aba, pria itu menerjangnya dengan menggebu gebu, Ami harus akui ia juga terbuai dengan sentuhan pria itu,caranya yang sedikit kasar membangkitkan gairah Ami yang memang seorang hiper sekks.
Bahkan Ami langsung saja membalas setiap cumbuan yang di berikan bibir pria itu.
Ami menahan dada pria itu saat ia merasakan tubuhnya semakin terhimpit antara pria itu dan pintu, Ami tersenyum dan berbisik..
"Calm down honey.."
.
.
.
Tau dong ya apa yang terjadi selanjutnyaðŸ¤
Aku doble up boleh atuh minta kopi😘
☕☕☕
like
komen
__ADS_1
vote