
Baby baru saja bangun telinganya terganggu oleh suara ponsel Axel yang terus berdering, Baby melihat di sebelahnya sudah tak ada Axel, namun Baby bisa mendengar suara dari arah kamar mandi.
Tangan Baby terulur untuk melihat siapa yang menghubungi Axel sepagi ini,baru saja Baby bisa melihat sekilas Axel sudah terlebih dulu mengambil ponselnya.
Axel mengangkat panggilannya dan menjauh dari Baby memasuki walk in closet, tak lama Axel keluar dengan penampilan yang sudah rapi.
Axel berjalan kearah Baby sambil mengenakan jam tangannya, "Aku pergi dulu" Axel mengecup bibir Baby sesaat lalu berbalik pergi.
Baby hanya menatap nanar pintu kamar yang menelan Axel, lalu menghela nafasnya, Axel terburu buru pergi setelah menerima panggilan dari Ami, Baby sempat melihat nama di layar ponsel Axel itu dari Ami.. istrinya.
Tentu saja Axel segera pergi setelah mendapat panggilan dari istrinya,tak mungkin ia mengabaikannya dan memilih dengan simpanannya, Baby tersenyum masam, ingatannya kembali pada kata kata Axel "Cih sepuluh anak katanya, mungkin dia berencana memilikinya dengan istrinya bukan denganmu Baby mimpi saja kau"
Sadar akan posisinya Baby tak ingin berlarut larut ia hanya bangun untuk segera membersihkan dirinya, hari ini ia akan mengantar Angel ke sekolah, sudah lama ia tak melihat keadaan sekolah Angel, apa anak itu baik baik saja selama di sekolahnya yang baru,selain itu juga Baby butuh ke apotik untuk membeli pil kontrasepsi, ya, selama ini Baby tak pernah lupa meminumnya, meski saat sedang bekerja dulu para penyewanya memakai pengaman,namun Baby selalu meminumnya untuk berjaga jaga, terlebih saat melakukannya dengan Axel, Axel tak pernah memakai pengaman, lagi lagi Baby teringat sepuluh anak "Jangan sampai" desahnya. Ia tak ingin itu terjadi, apa jadinya jika dia memiliki anak saat status hubungan pun tak dimilikinya, anak itu akan berakhir tanpa ayah, seperti Angel..
Baby menyelesaikannya dengan waktu singkat bergegas menyiapkan sarapan, Baby menyembunyikan semua kerumitan hidupnya dengan hari yang dia buat ceria, meminta para pelayan dapur menyingkir Baby akan membuat sarapan sendiri untuk Angel.
Sarapan sudah tersedia, waktunya membangunkan Angel, Baby melangkah menuju kamar Angel, terlihat pengasuh Angel akan membangunkan Angel, namun Baby mencegahnya "Biar aku saja" Baby membangunkan Angel dengan lembut "Sayang ayo bangun kita bersiap sekolah.." Angel mengerjapkan matanya lalu tersenyum.
"Pagi mom"
"Pagi sayang.. ayo lekas kita harus sarapan" Angel pun dengan ceria meloncat dan bergegas menuju kamar mandi nya,sedangkan Baby menyiapkan seragam sekolah Angel.
Baby menggandeng Angel menuju ruang makan, disatu lengannya ada tas sekolah Angel.
Angel duduk di kursi makan, namun tak segera memakan sarapannya "Kenapa sayang kamu tak suka, mau mom buatkan yang lain?"
"Tidak mom, aku suka" Angel mengayunkan kakinya di bawah meja, dia masih menunggu seseorang.
"Lalu kenapa tidak dimakan?"
"Angel menunggu Om Axel"
Degh..
__ADS_1
Baby tertegun, bukankah Axel sudah pergi "Sayang om Axel sedang sibuk, makanya tadi dia pergi pagi pagi sekali"
"Oh.." Angel menunduk sedih..
"Sayang, kenapa?" Baby melihat raut Angel yang mendadak sedih.
"Om Axel janji akan mengantar Angel kesekolah hari ini.. "
Baby menggigit bibirnya Axel sialan mengapa berjanji jika tak bisa di tepati,ini yang ia takutkan saat Axel terus memberi harapan padanya dan Angel, disaat mereka mulai terbuai saat itu juga mereka menyadari bahwa semua harapan tidak mungkin terjadi, apa mau Axel sebenarnya? "Sayang mungkin ada pekerjaan yang tak bisa di tinggal makanya om Axel tak bisa mengantarkan Angel, lagi pula hari ini Mom akan menemani Angel.. emm hari ini mom juga tak membuat bekal, kita akan makan siang di luarr nanti, Angel boleh pesan makanan dan tempat makan yang Angel mau.." Baby mencoba mengalihkan Angel.
Angel mengangguk lalu tersenyum "Angel mau burger mom"
"Okey.." Baby melihat Angel, menelisik kesedihan anak itu, namun Angel sama seperti dirinya pintar menyembunyikan kesedihannya.. Anak ku!
Baby hanya takut psikis Angel tertekan jika tidak mengungkapkan kesedihannya atau pun amarahnya, Baby takut suatu saat itu akan menjadi bom waktu dan meledak tak terduga, Baby juga jarang melihat Angel menangis, bahkan hampir tak pernah, hanya sedikit ekspresi sedih lalu setelah itu wajahnya kembali seperti semula.
Angel benar benar copy an dirinya namun Baby masih akan menangis dan marah meski diam diam, namun Angel benar benar tak pernah terlihat melakukan itu.
Baby tersenyum saat melihat Angel tersenyum kearahnya, tanpa mereka sadari keduanya menyembunyikan kesedihan mereka masing masing.
Setelah mendapatkan apa yang dimaksud Baby berniat kembali ke sekolah dan menunggu di ruang tunggu sekolah.
"Baby.." Baby berbalik melihat siapa yang memanggilnya sedetik kemudian Baby membelalak.
"Al.."
"Astaga Baby, ini benar dirimu kau tau dua bulan ini aku mencari mu kemana mana, aku sungguh khawatir" Alfredo memeluk Baby "Aku khawatir karena kamu tak punya pekerjaan, aku kira kamu dan Angel mati kelaparan.."
Baby memukul bahu Alfredo "Sialan kau, memangnya aku akan diam saja hingga mati tanpa makan" Alfredo mengurai pelukannya,lalu terkekeh.
"Sedang apa disini?" Alfredo mengedarkan pandangannya "Dimana Angel?"
"Sekolah.." Alfredo melihat sekolah yang ditunjuk Baby, sekolah itu sekolah yang cukup mahal, apa Baby bisa membayar tagihannya.
__ADS_1
"Kau yakin?"
"Memangnya sedang apa aku di sini"
Merasa tak enak karna mereka kini berdiri di pinggir jalan, Baby menarik Alfredo ke sebuah kafe dekat sekolah Angel.
"Bagaimana kabarmu Al? bagaimana dengan Mery?" setelah memesan kopi Baby dan Alfrdeo mulai perbincangannya.
Alfredo mendesah "Aku baik seperti yang kau lihat,aku sementara mengurus club Mery di pinggir kota sesekali aku kemari untuk menjenguk Mery, tapi Mery masih di penjara, aku sudah berusaha tapi Axel terlalu kuat.. dia tak melepaskan Mery" Baby merasa miris,bagaimana pun Mery pernah berjasa dihidupnya saat ia butuh pekerjaan Mery memberikannya meski pekerjaan yang tak pantas,tapi kejahatan Mery juga bukan sembarangan rencana pembunuhan maka pasti hukumannya tidak ringan, haruskan ia meminta pada Axel untuk meringankan hukuman Mery.
"Kamu ingat aku pernah bercerita tentang Axel"
Alfredo mengangguk "Ya, Axel yang sama, apa dia sudah bosan?" Baby menggeleng apanya yang bosan sekarang ia malah terjebak selamanya dengan Axel. "Aku sudah mengira, tak akan ada yang bosan denganmu.."
Baby mendelik itu suatu kebanggaan tapi juga beban untuknya karna situasinya tak seindah itu, andai saja Axel tak punya istri dan hidup mereka berjalan normal layaknya pasangan kekasih yang saling mencintai pasti itu akan menjadi hidup yang sempurna, dengan pasangan yang tak pernah bosan,ditambah ketampanan dan kekayaan yang menjadi pelengkap.. ah pasti hidupnya akan bahagia, tapi sayang untuk menjadi angan angan pun ia tak berani.
"Ibu sudah meninggal Al, aku merasa apa yang aku perjuangkan sia sia.. pada akhirnya ibu tetap tidak bertahan"
"Maafkan aku, aku beberapa kali kerumah sakit, juga berharap bisa menemui mu, tapi kau tak pernah ada, hingga terakhir aku berkunjung mereka bilang ibu mu sudah meninggal, maaf aku tak ada di masa tersulitmu" Alfredo menggenggam tangan Baby.
"Tak apa semuanya sudah berlalu.."
.
.
.
Like
komen
vote..
__ADS_1
๐น๐น๐นโโโ