AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
Antar Lamaran


__ADS_3

Siang itu matahari begitu teriknya, surat lamaran yang telah dipersiapkan dengan amplop coklat nampak rapi dimeja. Ingin rasanya cepat-cepat diantar, tetapi belum ada kabar padahal sudah ditunggu-tunggu. Tidak berapa lama suara ponselnya bergetar "dreet dreet dreet"cepat-cepat diangkatnya,"Hallo kak Met siang! gimna ada info?"sambut Arvila penuh semangat. Dia mengangguk-angguk "Baik kakak saya akan meluncur kekantor secepatnya. Terima kasih!". Akhirnya doanya terkabulkan orang yang baru dikenalnya menghubunginya untuk antar surat lamaran yang sudah jauh-jauh hari dipersiapkannya.


Tanpa pikir panjang Arvila meluncur antar lamaran kerja yang dibuatnya dari Minggu lalu. Sudah 2 bulan Arvila tidak kerja alias nganggur, makanya dia sangat butuh pekerjaan karena simpanannya udah menipis.


Tidak butuh lama untuk sampai ke kantor itu sekitar 10 menit. Kota D ini merupakan kota kabupaten yang baru dimekarkan karena adanya Undang-Undang OTSUS Tahun 2001 sehingga transportasi yang ada hanya ojek, kalau pun ada bus tidak sampai ke kantor yang dituju hanya sampai Dimata jalan harus jalan lagi untuk sampai ke kantor makanya ia naik ojek. Tukang ojek banyak yang lalu lalang sehingga tidak sulit untuk menemukannya.


Tibalah ke tempat yang ditujunya Kantor para elite politik DPRD Kabupaten D.. Suasana kantor tampak sepi dan hening seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan. Waktu menunjukkan pukul 15.00 Wit yah kota ini diwilayah timur Indonesia jadi jangan heran kalau dialoq ketimurannya kental he he he... Tidak berapa lama seorang laki-laki berbadan tegap berkacamata dengan rambut putih menepuk bahu Arvila dari belakang.


"Mana lamaranmu?" celetuknya membuat Arvila kaget, ternyata beliau sudah menunggunya dilobi kantor.


"ini kak surat lamaranku, kira-kira kapan ya aq bisa dapat infonya?" jawabnya dengan sedikit grogi karna baru dua kali ia ketemu dengan Sakti Prananda Prasetyo.


Dia seorang ASN di Sekretariat Dewan di bagian Persidangan."Baru diantar lamarannya udah tanya info" sahutnya dengan melihat isi lamaran yang dibawanya. Dari dalam lobi ada beberapa orang yang memperhatikan aktivitas keduanya. "Ya maklumi aja kak saya sangat butuh pekerjaan ini" Timpalnya membela diri. Sakti geleng-gelang dengan muka asemnya. "Sudah makan?" Tidak diduga pertanyaan itu keluar kontan Arvila salah tingkah karena dia malu satu sisi dia udah ga ada duit satu sisi tidak enak hati karena memanfaatkan orang yang baru dikenalnya. Belum ia jawab Sakti sudah panggil OB kantor yang kebetulan ada lewat "Mas tolong antar ni orang ke kantin ya"Gerutunya merogoh uang merah seratus ribu diberikan kepada OB.

__ADS_1


"Oh iya mas sakti"sahutnya


"Mari mbak ikut saya!" ajaknya sambil tersenyum. Arvila tersipu malu


"Emang aq belum makan dari tadi" Gumamnya dalam hati.


"Sorry aq gak bisa temani soalnya aq sibuk besok mau ada sidang pelantikan ga pa-pa ya kamu ditemani mas Iwan ini juga wong jowo loh" jelas Sakti memperkenalkan OB barusan.


"Mas Iwan ini Arvila orang Jawa. siapa tadi namamu?" tanya Sakti ulang karena dia juga lupa nama lengkapnya.


" Arvila Okta Maulidia kak" sahutnya mengulurkan tangan.


Sakti pun segera berlalu dari mereka. Tanpa basa basi Arvila mengikuti Iwan dari belakang menuju kantin kantor DPRD dari jalan samping. Ternyata para pegawai ada sibuk mempersiapkan kegiatan pelantikan anggota DPRD untuk masa jabatan periode 2019-2024.

__ADS_1


"loh koq sampeyan kenal Pak Sakti dari mana mbak?" Tanya mas Iwan penasaran dengan bahasa jawanya yang medok karena tumben-tumbennya Pak Sakti dicari ceweq cantik masih muda lagi. Arvila tersenyum manis mendengarnya.


"Kenal dari temanku mas dipengetikan"Jawab Arvila tersenyum.


Keduanya makan siang dikantin, semula Iwan mau lanjut kerja tapi Arvila memohon untuk menemaninya makan di kantin karena dia merasa asing dengan para pegawai di kantor itu. selesai menyantap makan siang atau sorenya Arvila bergegas pamit pulang dengan Iwan.


Arvila Okta Maulidia gadis cantik tinggi semampai yang baru menginjak usia 21tahun, orang tuanya disemarang dia merantau di kota D dengan tetangganya Rani. Rani merupakan teman semasa sekolah hingga kuliah. Di kota D Rani ketemu jodohnya seorang Tentara Mas Yanto namanya Rani harus ikut suaminya pindah tugas ke Fak-fak. Sehingga dia harus sendiri dan ngekos bareng Santi satu rumah.


Santi tugas di Distrik seminggu sekali ia turun ke kota tiga Minggu ke tempat tugas di Distrik. Jadi mereka ketemu hanya satu Minggu selebihnya dia kerja.


Selama dua bulan menganggur Santi banyak membantunya tapi Arvi juga sadar diri tidak mau bergantung terus padanya.


Arvi mengenal Arie semasa kerja di Pengetikan dan Foto Copy Beliau adalah langganan tetap ditempatnya bekerja. Sebelum resign ia sempat meminta bantu untuk dicarikan kerja di Kantornya tapi tidak ada lowongan. Arie mencoba meminta bantu pada Sakti, siapa tahu di Kantornya ada lowongan yang belum diisi. Semula Sakti menolak tapi Arie memaksanya. Sakti pikir " ini siapanya koq maksa jangan-jangan pacarnya" Pikir Sakti kala itu. Tetapi begitu melihat Arvila pikiran itu hilang lenyap seketika. Arvila anaknya sopan dan ramah. Siapa yang tidak jatuh hati dengan tatapan matanya yang bening penuh keteduhan. Arvila begitu berani merantau ke Papua.

__ADS_1


__ADS_2