
Di Kediaman Pak Hartono.
Arvi kembali mengalami morning sickness yang berlebih. Ia tampak kurus dengan wajah pucat. Melihat putri bungsunya yang seperti itu Pak Hartono tidak tega. Justru ia teringat akan almarhum sang istri ketika sewaktu dulu mengandung. Muntah-muntah terus dan tidak mau mau makan.
Kondisi Arvi yang berubah drastis membuat Dinda dan Ayu menjadi curiga. Tampak keduanya asyik berbincang di taman belakang rumah.
"Mbak Dinda gak rasa aneh?" Tanya Ayu setengah berbisik tapi terdengar oleh ayahnya.
"Aneh kenapa?"
"Arvi!!"
"Ehmmm!!" Pak Hartono berdehem untuk menghentikan keduanya. Jika ayah mereka berdehem berarti mereka harus diam tidak ada bisik-bisik.
Terlihat bibik berjalan mendekat ke arah mereka ngobrol.
"Tuan permisi ada tamu!"
"Siapa bik?" Tanya pak Hartono sebab ia merasa tidak ada janji dengan teman atau rekan kerja.
"Saya juga baru lihat Pak. Katanya mau ketemu den Arvi, tapi saya bilang lagi tidak enak badan gak bisa diganggu. Katanya penting tuan" Jelas bibik dengan santun dan lembut.
"Siapa yah?" Lirih Pak Hartono bertanya sementara kedua anaknya saling berpandang curiga.
"Bik suruh kesini saja tamunya!" Ucap Dinda memberi perintah.
"Iya bik!" Kata Pak Hartono menyetujuinya.
"Baik tuan" Jawab bibik bergegas pergi.
Dokter Richat berjalan mengikuti arahan bibik menuju ke tempat majikannya berada.
"Tuan ini tamunya. Saya permisi dulu!" Ucap bibik bergegas pergi keruang kerjanya.
"Silahkan duduk mas!"Sambut Pak Hartono mempersilahkan duduk. Kedua anaknya saling pandang memperhatikan tamu yang baru mereka lihat.
"Terima kasih Pak. Maaf mengganggu waktu istirahatnya!"
"Tidak apa-apa. Ada keperluan apa ya dengan Arvi? Koq baru lihat?" Tanyanya penuh slidik menatap tamunya.
"Iya perkenalkan sebelumnya nama saya Richat teman Arvi" Sahutnya memperkenalkan diri di hadapan Pak Hartono.
"Teman dari Papua?Koq putih??" Tanya Dinda melongo terkesima dengan tamunya Arvi. Tapi Pak Hartono melirik menghentikan ucapan Dinda. Richat hanya tersenyum mendengarnya. Kemudian Dinda dan Ayu pamit masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Ayah kami kedalam dulu!" Pamit Ayu. Melihat kedua anaknya pergi ke dalam baru Pak Hartono memulai percakapan dengan tamu Anaknya itu.
"Sebenarnya apa yang membuat Arvi pulang? Jangan bilang kamu yang telah menghamili anakku!" Spontan Pak Hartono mendekati tamu Arvi dan mencengkram kerah baju Richat yang masih berdiri. Matanya membulat sempurna. Terlihat api amarah menyala.
Richat tidak menyangka jika yang punya rumah tiba-tiba marah padanya.
"Oh dia tidak cerita" Batinnya berbisik.
"Dasar laki-laki pengecut! Bisanya dia pulang sendiri dalam keadaan hamil? Laki-laki macam apa kamu?" Hardiknya masih menatap dokter Richat penuh amarah.
"Anda salah sangka! Saya tidak seperti itu?" Ucap dokter Richat mencoba untuk menenangkan ayah Arvi yang lagi kesetanan.
"Salah sangka apa? Dia di dalam sakit" Jelasnya jengkel belum melepaskan cengkeramannya.
"Ini tidak seperti yang bapak pikirkan" Bela Richat lagi.
"Inikah lelaki pilihanmu arvi?" Tanya Pak Hartono hampir meremas batang leher dokter Richat. Ia juga tidak menyadari jika sang anak melihat sikapnya.
"Ayah jangan!" Pekiknya yang datang dengan tiba-tiba. Tampaknya perdebatan antara Pak Hartono dan Richat sampe ketelinganya.
"Untuk apa kamu belain lelaki tidak berguna tidak tanggung jawab ini!" Ucap Pak Hartono menyudutkan dokter Richat.
"Ayah salah paham!"
"Brrruuk!" Tubuh Arvi roboh. Buru-buru keduanya menolong Arvi yang tiba-tiba jatuh pingsan.
"Saya hanya ingin menolongnya" Sahutnya membopong Arvi.
Di Kamar Arvi.
Tampak Dinda dan Ayu menunggu sang adek dengan mengoleskan minyak kayu putih agar sang adek segera tersadar.
Sementara Pak Hartono mengintrogasi dokter Richat di ruang kerjanya.
"Jika bapak tidak keberatan saya akan bertanggung jawab"
"Atas dasar apa kamu ingin mempertanggung jawabkannya sementara diantara kalian tidak ada rasa? Jika hanya kasihan aq tidak butuh belas kasihan darimu"
Dokter Richat diam tertunduk mendengar kata-kata Pak Hartono. Dengan alasan apa ia meyakinkan beliau jika ia mengatakan sayang semua orang juga sayang terhadap anaknya. Jika kata cinta tentu akan dipertanyakan arti cinta.
"Apa Arvi akan setuju?" Lanjut Pak Hartono.
"Saya tahu Arvi susah untuk ditaklukkan tapi demi anak itu aq rela berkorban"
__ADS_1
"Tapi aq tidak yakin jika Arvi setuju. Aq ingin tunggu jawaban langsung dari anakku" Jawab Pak Hartono masih meragukan akan ucapan dokter Richat.
"Ayah mau ditaruh dimana ini kita punya wajah! Bisanya dia seperti itu" Suara Dinda yang tiba-tiba muncul ke ruangan. Rupanya ia telah mendengar percakapan bapaknya.
"Bagaimana jika gugurkan saja! Dari pada harus menanggung malu"
"Arvi pasti menolaknya"
"Tolong nikahkan kami!"
"Saya tidak yakin Arvi mau?"
"Lalu apa solusinya? Tambah hari perutnya akan membesar orang-orang akan mempergunjingkan kita Ayah!"
"Kamu kira ayah senang dengan semua ini!"
"Jangan-jangan kamu yang sudah menghamili adekku?" Ujar Dinda dengan ketus mengarah ke Richat. Memang dia tidak tahu sama sekali.
"Anda salah sangka. Saya hanya ingin melindunginya. Saya kenal suaminya?" Jelas Richat dengan tenang.
"Apa suami??" Tanya Dinda mengulang pernyataan lelaki tampan dihadapannya.
"Saya tidak tahu kapan itu terjadi? Yang jelas keduanya sudah menikah secara agama dan negara" Jelas dokter Richat menatap pria tua yang ada dihadapannya.
"Inikah yang dia maksud ingin mandiri tapi akhirnya kita juga yang dibikin pusing" Sela Dinda memprotes tindakan adeknya.
"Lalu kemana suaminya? Siapa itu tadi?" Tanya Pak Hartono penuh curiga.
"Sakti tidak tahu keberadaannya dimana? Saya putus komunikasi. Dia tiba-tiba menghilang bahkan Arvi juga tidak tahu keberadaannya. Setahuku Sakti bukanlah orang yang lepas dari tanggung jawab" Jelas dokter Richat.
"Pergi tanpa kabar apa bedanya dengan tidak tanggung jawab? Sama saja!" Protes Dinda.
"Kamu serius dengan anak saya?" Tanya Pak Hartono menatap tajam ke arahnya.
"Ya saya serius ingin menikahinya" Jawab dokter penuh keyakinan.
"Ayah kita tidak tanyakan dulu pada arvi?" Protes Dinda.
"Mereka suami istri bagaimana jika kemudian hari lelaki itu muncul?" Lanjutnya.
"Salah sendiri ia meninggalkannya" Jawab Pak Hartono sungguh-sungguh.
"Aq pegang kata-katamu anak muda" Pungkas pak Hartono masih dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Aq janji akan membahagiakan keduanya. Aq sungguh-sungguh mencintainya" Jelas dokter Richat penuh keyakinan.
Pertanyaan Pak Hartono yang mempersoalkan kesungguhannya berbuah manis. Tidak disangka kehadirannya yang hanya sekedar bersilaturahmi ternyata berbuah manis. Dia ditodong untuk menikahi Arvi. Dalam benaknya yang terdalam ia hanya ingin melindungi Arvi dan anak yang ada di rahimnya. Soal hati dan perasaan ia tahu diri tidak mudah menggeser Sakti.