AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
Menyita Perhatian


__ADS_3

Hari itu juga Arvi minta pulang ia mau muntah bau rumah sakit. Sebetulnya Pak Hartono melarangnya tapi anak itu merengek minta pulang ke rumah. Ia turuti keinginan putrinya. Beliau tidak ingin kecolongan lagi.


Dinda dan Ayu diberi kabar jika sang adik telah pulang. Keduanya berhambur ke rumah orang tuanya. Tapi Pak Hartono tidak memberi tahu jika sang adek bungsunya berbadan dua.


"Arvila kamu disana lihat orang pada pake koteka semua itu?" Tanya Ayu kakak nomor dua kepo mau tahu tentang koteka.


"Ih ngapain kamu tanya-tanya tentang koteka?" Sela Dinda


"Loh itu kan adat disana!" Jelas Ayu


"Iya tapi tidak semua wilayah seiring perkembangan sudah mulai bergeser"


"Oh???"


"Kakak tidak menyangka kamu bisa beradaptasi disana?" Ucap Dinda terheran dengan adiknya. Arvi hanya tersenyum.


"Tante kapan-kapan ajak kita ke sana ya!" Suara keponakannya yang langsung berhambur memeluknya.


"Iya kapan-kapan!" Jawabnya hampir jatuh dengan seangan sang keponakan yang tiba-tiba. Untung jatuhnya di sofa jadi aman bisa-bisa ia keguguran.


"Kamu ini hampir bikin Tante jatuh!"Tegur Ayu pada sang anak.


"Habis saya kangen dengan Tante arvi" Serunya terus bergelayut dalam pelukan Arvi.


Kediaman Pak Hartono tampak rame dengna kehadiran anak, menantu dan cucu-cucunya. Ia tidak merasa kesepian lagi.


Flashback


Kediaman Sakti.


Pandu dan sang istri uring-uringan sewaktu melihat kondisi rumah yang berantakan kayak kapal pecah.


"Nomor ponselnya tidak aktif sepertinya dia ganti nomor"


"Bisanya dia pergi meninggalkan rumah seperti ini!" Gerutu istrinya sambil beberes rumah adek iparnya.


"Jangan menuduh sembarangan tidak mungkin Arvi seperti itu?" Ucap Pandu tidak yakin.

__ADS_1


"Tapi ini buktinya apa?" Sela sang istri.


"Justru aq mengkawatirkan keadaan Arvi saat ini. Ma dia lagi hamil anak Sakti"


"Jika dia hamil seharusnya diam di tempat bukan hilang tiada kabar" Omelnya lagi.


"Diam dulu kenapa sih!!" Bentak suaminya ikut emosi.


"Mas jangan tertipu oleh wajah ayunya. Saya curiga hilangnya Sakti yang misterius oleh ulah istri yang baru dinikahinya beberapa bulan ini" Protes istrinya panjang lebar.


"Ma stop jangan menuduh sembarangan berdosa tahu!" Tegur suaminya untuk menghentikan pikiran kotor sang istri tercintanya.


"Bisanya mas begitu? Lihat sendiri sampai saat ini keberadaan Sakti tidak tahu rimbanya sekarang istrinya pun pergi dengan rumah berantakan. Mau lapor polisi tidak boleh! Gimana sih??" Protesnya balik bekelahi sama suaminya.


"Iya Aq tahu tapi kita tidak bisa menuduh sembarangan dek!" Bujuk suaminya


"Terserah sudah. Jika dia meninggal Tuhan tunjukkan jasadnya jika dia hidup kembalikan dia pada kami" Ucap sang istri yang tidak kuasa menangis didepan suaminya.


Suasana Kantor


Kabar tentang kepergian Arvi yang mendadak begitu menyita perhatian rekan kerjanya terutama Adi dan Rina. Mereka tidak menyangka Arvi jika itu hari terakhir mereka bertemu.


Rina menepuk bahunya membuyarkan lamunannya yang penuh curiga.


"Eh kita makan siang yuk!" Ajak Rina mengingatkannya.


"Aq tidak lapar. Ngana pergi sudah!" Jawab Adi tanpa mempedulikan Rina yang sedari tadi memperhatikannya.


"Tumben kamu tidak mau aq traktir kan baru gajian!" Serunya.


"Aq lagi tidak ada mood makan"


"Kamu kepikiran Arvi ya?"


Mata Adi melirik tajam ke arah Rina yang mencoba untuk mengorek isi hati dan pikirannya yang lagi galau.


"Kalau iya kenapa sih?" Sahutnya dengan wajah datar.

__ADS_1


"Adi!! Aq ini dimatamu tiada artikah?"


"Maksudmu??" Tanyanya mengerutkan dahinya memasang Indra pendengarannya baik-baik. "Tumben dia bicara begitu?" Batinnya memprotes wanita biang kerok.


"Kamu sadar gak? Jika aq ini hanya teman yang tidak ada arti? Bahkan keberadaan ku pun tak dianggap" Jelas Rina mulai jengkel akan sikap Adi yang sedari tadi pagi cuwek tanpa mempedulikannya.


"Apa-apaan sih kamu kayak anak kecil yang minta diperhatikan melulu" Ujarnya menimpali perkataannya. Adi melengos masih tidak menggubris teman karibnya itu.


"Berapa waktu dan tenaga yang telah terbuang sia-sia hanya demi memikirkan istri orang? Kamu sadar tidak gara-gara dia kamu semakin menjauh" Protes Rina mulai berani dan jengkel. Sebab sejak Arvi pergi tanpa kabar Adi kayak kelimpungan.


"Rina stop jaga mulutmu!" Pintanya untuk menghentikan percakapannya.


"Biar ini hari kita selesaikan semuanya saya tidak mau buang-buang waktu lagi" Rina mulai ketus


"Heh apa maksudmu??" Tanya Adi masih tidak ngeh dangan perkataan Rina yang ketus terdengar ditelinganya.


"Dasar laki-laki bucin istri orang tidak peka-peka" Sindirnya makin berani.


"Hentikan Rina!! Kamu tahu gak Arvi teman kita aq mengkawatirkan keadaannya? Kamu tidak ada rasa respek kah sama keadaannya?" Protes Adi tidak mau kalah darinya.


"Adi itu terlalu berlebihan ingat dia istri Pak Sakti" Ungkit Rina pertajam lagi.


"Iya saya tahu dia lagi hamil Rin!! Suaminya dari sekarang hilang entah kemana? apa dia mati atau dia diculik gak ada yang tahu keberadaannya"


"Tapi kamu sudah gak wajar Di!! Beberapa hari kamu diam gak mau ngomong seolah-olah kamu yang berduka" Sindirnya


"Iya kenapa kalau aq berlebihan? Kamu cemburu???" Ucap Adi membuat wajah Rina berubah drastis memerah.


"Ah tidak?? Untuk apa aq cemburu?" Ucapnya membalikkan badan agar rona wajahnya yang memerah tidak terlihat oleh Adi.


"Katakan saja Rina jika kamu cemburu aq bisa terima memang wanita diciptakan sebagai makluk yang pencemburu!" Sindir Adi balik menyerangnya.


"Ah malas bicara sama kamu Di!!" Ucapnya melangkah pergi menjauh dari tempat Adi duduk.


"Eh tunggu dulu kita selesaikan ini hari juga biar tidak berlarut-larut" Pintanya agar Rina tidak pergi menjauh tapi Rina yang ngacir duluan menghindar.


"Dasar wanita bawaannya cemburu?? Eh tunggu ngapain aq suka sama dia macam tidak ada wanita lain di dunia ini? Sungguh mati se wanita gila itu ingin mencoba mengobrak-abrik hatiku. Oh Tuhan ini tidak boleh terjadi apa kata dunia??? Huhhh tidak boleh ini terjadi dunia sudah kebalik" Rutuknya mencoba untuk menyadarkan akal sehatnya sambil memukul-mukul testanya.

__ADS_1


"Amit-amit jabang bayi kemakan sumpah bisa-bisa" 😂😂😂


Adi masih tidak yakin dengan perasaannya terhadap Rina. Apa hanya sekedar sahabat atau ada perasaan lebih. Sebab selama ini baik Rina atau dirinya tidak pernah menunjukkan rasa ketertarikannya satu sama lain. Hanya begitu-begitu terus garing tanpa ada kuah.🤭🤭🤭


__ADS_2