AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
Bukan Keinginanku


__ADS_3

Sakti tersenyum-senyum mendengar pujian Mas Iwan yang tak henti-hentinya.


"Begitu mas Sakti yang turun tangan semua beres mas" Imbuhnya masih memuji.


"Terakhir ini mas saya malas berurusan dengan Bu Hanna. Ribet berurusan dengan dia urusnanya bisa panjang gak kelar-kelar"


"Siap mas"


"Gara-gara bicara dia sampai saya lupa hubungi yayangku via WhatsApp. Nanti bikin naik daun aja kalau di bicarakan terus "


"Bisa aja mas Sakti. Salam buat mbak Arvi yang cantik"


"Ya ntar aq sampaikan salammu"


Tanpa pikir panjang Sakti merogoh kantong celana kanannya meraih Hp. Tidak lama panggilan terhubung.


"Assalammualaikum dek! Gimana masih pusing?"


Tanya Sakti pada sang istri yang ada dirumah.


"Waalaikum Salam. Masih pusing mas" Jawab sang istri dengan suara lemah dari seberang Hp.


"Sebentar lagi mas pulang. Kamu mau apa dek nanti mas belikan?".


"Terserah mas aja saya pusing.. Huek Huek..." Arvi menyaut dan memadamkan Hp.


"Dek? Dek? Koq dimatikan?" Tanya Sakti agak panik panggilannya dipadam.


Arvi terkulai ditempat tidur. Wajah ayunya tampak pucat terlihat. Seharian ini ia tinggal muntah-muntah entah sudah yang keberapa kali. Muntah sampai cairan kuning baru terasa lega. Mana dia sendiri dirumah.


Tidak berapa lama sang pujaan hati pulang kerumah. Sakti kawatir dengan kondisi badan sang istri yang lemah dan muntah terus-terusan. Obat dari dokter pun tak membuahkan hasil tetap muntah.


"Mas pijitin ya biar pusingnya reda?" Suara Sakti mulai memijat leher belakang sang istri. Dengan telaten ia mengurut sang istri. Baru berapa menit. Arvi berlari ke toilet diikuti sang suami dari belakang mengekor. Segera ia keluarkan apa saja yang ada diperutnya hingga cairan kuning kental keluar.


"Huek hueek hueeek" Sakti berdiri tepat dibelakangnya. Arvi menggelengkan kepala pelan.


"Maafin mas ya bikin kamu menderita gini. Sekarang kamu istirahat mas masak dulu" Sakti panik dengan kondisi sang istri yang terlihat lemas dan pucat.


"Ga pa-pa mas katanya kalau sudah empat bulan hilang mualnya" Jelas Arvi pelan.


"Iya dek tapi kamu harus makan demi anak kita biar sehat"


"Tapi mas nanti muntah lagi" Arvi gemetar badannya lemas.


"Demi anak kita dek kamu harus sehat"


"Iya Aq akan jaga anak kita dengan baik mas"

__ADS_1


"Sebentar yah" Ijin Sakti tiba-tiba


"Brruukk" Sang istri jatuh pingsan.


Sakti pun menggendongnya ke kasur. Sakti tak menyangka jika sang istri pingsan. Padahal rencananya ia akan ke Manokwari ada kegiatan jalan dinas.


"Bagaimana jika aq tidak ada disisimu? Apa yang akan terjadi padamu? Maafkan mas gak bisa jadi suami yang siap siaga. Mas gak tahu kalau gak ada kamu? Sehat selalu sayang kamu penyemangat hidupku" Ucapnya lirih berapa kali mengusap air matanya. Sakti sesengukan menangisi sang istri. Batinnya tak rela jika sang istri harus menderita ketika hamil.


"Jika saja bisa digantikan biar mas yang gantikan rasa sakit itu? Biar mas yang menderita asal kalian tidak" Ucapnya lagi mencium kedua tangan sang istri.


Sakti tidak menyadari jika sang istri telah terbangun dari pingsannya. Arvi menyaksikan sendiri betapa Sakti sangat mencintainya. Arvi ikut menitikan air matanya.


"Mas aq gak apa-apa koq?" Suara Arvi menyadarkan Sakti.


Sakti menggenggam erat jemari Arvi. Ia menciumnya berulang-ulang. Segera ia memeluk erat tubuh Arvi yang terbaring lemah.


"Mas jangan nangis ah aq gak apa-apa koq"


"Mas takut kehilangan kamu dek"


"Jika aq pergi dari mas itu bukan karena keinginanku" Sahut sang istri tersenyum melihat Sakti mendekapnya penuh erat.


"Jangan berkata begitu mas mau kamu terus menemani mas sampai tua nanti"


"Bukankah mas udah tua" Arvi menggoda sang suami. Ia tak ingin Sakti larut dalam kesedihan. Arvi ingin menghibur sang suami.


Arvi mendaratkan ciuman di bibir sang suami. Tak mau kalah Sakti membalas ciuman sang istri dengan ganasnya. Sakti mencumbu istrinya penuh giarah hingga istrinya terbuai. Ia pun menghentikan ulahnya.🤭🤭🤭


Hari ini seharusnya ia berangkat ke Manokwari tapi ia tunda. Sakti memilih membawa Arvi berobat ke Rumah Sakit. Arvi mula menolaknya, tapi Sakti ingin mendengarnya secara langsung penjelasan dokter kandungan.


"Mas aq malas antrinya ke Rumah Sakit"


"Mas usahakan kamu duluan. Mas kenal koq dokter kandungannya"


"Yee gak boleh gitu mas harus antri dong"Rengek sang istri memprotesnya.


"Kalau nyela satu pasien masa gak boleh?"


"Nah ini ciri orang Indonesia yang tidak disiplin gak mau anti mentang-mentang kenal sama dokternya. Malu dong jadi Abdi Negara harap gampang" Protesnya lagi.


"Heh kalau udah gini aq nyerah deh. Aq ikuti apa maunya kamu sayang"


"Nah gitu baru jadi Abdi Negara yang patuh dan taat pada NKRI" Puji Arvi tersenyum pada Sakti yang garuk-garuk kepala sebetulnya kepalanya gak gatal.


"Pake Bawa-bawa NKRI segala dek" Protes Sakti lagi.


"Iya dong kan mas disumpah janji sebagai Abdi Negara ya harus memegang teguhnya malukan kalau seorang Abdi Negara gak mau anti ditempat pelayanan kesehatan macam rumah sakit"

__ADS_1


"Gak salah pilih aq menikahi istri sepertimu" Puji Sakti mengecup sayang istrinya.


"Sebetulnya paling enak ke tempat prakteknya tapi kadang disuruh kerumah sakit lagi untuk periksa darah" Ucap Arvi mengingatkan suaminya.


"Bilang saja kamu mau menahan kepergianku" Sakti mencoba menggoda sang istri yang manja bergelayut disisinya.


"Saya takut jika sendiri mas" Arvi memeluk sang suami dengan erat.


"Kalau mas pergi kamu ke tempat kost Santi atau kerumah kakak ipar?"


"Saya sudah menghubungi Santi dia sudah berangkat ke Distrik. Kalau kakak ipar saya gak mau merepotkan mbak mas dia sibuk urus pekerjaan dan anak-anak"


"Terus kalau kamu kenapa-kenapa?"


"Kan ada mas?"


"Sungguh mati dek jangan begitu? Mas kerja dek


bukan mau jalan-jalan" Jelasnya lagi merasa bersalah.


"Saya tahu mas. Aq percaya koq"


"Terus maunya kamu apa dek?"


"Mas masih tanya maunya apa??"


"Yang begini ini bikin saya jengkel" Gerutunya sedikit jengkel dengan sang istri.


"Mas kenapa gak peka sekali sih sama istri?"


Sakti menarik nafas panjang.


"Saya tanya lagi mau kamu apa coba?"


Arvi menggelengkan kepala pelan.


"Aq mau ikut"


"What??? Aq gak salah dengar ini?"


Arvi ngangguk pelan


"Dek perjalanan ini jauh dek butuh waktu enam jam lebih. Syukur kalau jalan bagus kalau lagi rusak atau ada yang longsor gimana?" Jelasnya penuh keyakinan.


"Pokoknya saya mau ikut ini kemauan jabang bayi masa mas gak mau turuti? nanti kalau anaknya ngiler gimana?" Arvi mulai berkata aneh.


Sakti berdiri mematung menatap sang istri.

__ADS_1


__ADS_2