AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
Mulai Melunak


__ADS_3

Entah kebetulan atau pembawaan dari Arvi yang sedang hamil. Begitu dokter Richat mengusap usap calon bayi yang ada diperutnya. Pergerakan si calon bayi tidak seagresif tadi. Ia terlihat tenang. Arvi pun tidak gelisah seperti tadi.


"Jika kamu merasa sesak atau tidak enak badan jangan sungkan untuk memintaku jika aq tidur bangunkan aq!" Seru dokter Richat menyodorkan diri. Ia tahu jika istrinya enggan memintanya. Arvi terlalu jaim.


Entah karena teripnotis dengan bayi itu. Tanpa ia menyadari jika aktivitasnya mengusap-usap perut Arvi membuatnya risih. Tapi usapan itu membuatnya merasa rileks jauh lebih baik dari pada tadi. Ia sangat gelisah.


Dasar Arvi kepala batu ia malu untuk mengakuinya.Ia syok jual mahal. Menepis jauh rasa itu. Wajar ia menahan rasa karena dia seorang wanita. Apalagi terjadi kesepakatan diantara mereka berdua.


"Tidurlah jika ini membuatmu nyaman! Deddy tidak kemana-mana "Suara dokter Richat mengajaknya bicara pada calon bayinya. Tidak terlihat sesuatu yang ia paksakan semuanya tulus dari lubuk hatinya.


"Oh ya. Kamu sudah minum obatmu?" Tanya dokter Richat mengingatkannya.


"Belum mas" Sahut Arvi pelan.


"Tunggu disini aq ambilkan. Sebentar e Daddy ambilkan obat buat mommy mu supaya kamu tetap sehat disana" Jelas dokter Richat pamit dengan calon bayinya.


Dokter Richat pun berdiri jalan keluar mengambil air minum dan obat.


"Dia begitu menyayangimu"Ucapnya lirih mengusap lembut perutnya.


Tidak berapa lama dokter Richat membawa seteko air dan gelas. Ingin meminta asisten tapi beliau enggan memerintah. Ia lebih senang kerjakan sendiri.


Diambilnya obat penambah darah buat bumil.

__ADS_1


Richat menyodorkannya pada Arvi.


"Minumlah!" Pintanya menyodorkan obat dan segelas air.


"Terima kasih mas" Ucapnya masih tidak berani menatap suaminya.


"Tidurlah kamu pasti capek!" Pintanya dengan lembut bergegas ia bangkit dari duduknya. Tiba-tiba tangan Arvi menahannya.


"Tetaplah disini jangan pergi!" Suaranya lirih mengiba. Dokter Richat pun kembali duduk disampingnya. Ia menghirup nafas dalam perlahan ia buang. Dokter Richat mencoba menutupi kegundahan hatinya.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?" Tanyanya dengan tenang. Suasana kamar tampak hening.


"Aq masih kepikiran dengan penolakan ayahku!" Sahutnya.


"Itu yang membuatmu gelisah?" Tanya dokter Richat setengah meyakinkan ucapannya. Arvi mengangguk pelan. Masih sama tidak berani menatap suaminya.


"Kenapa hatimu bak malaikat? Sampai matipun aq tidak mampu membalas semua kebaikanmu"Ucap Arvi mulai berurai air mata. Ia terlihat rapuh dan kosong. Ia terkejut mendengarnya.


Melihatnya seperti itu dokter Richat merasa bersalah. Ia merasa terbebani dengan pernikahan diantara mereka berdua.


"Hiks hiks! Saya merasa bersalah dengan hubungan kita. Tidak perlu kamu sebaik ini. ini sama saja menyiksaku! Hiks... hiks" Isak tangisnya begitu pilu. Ia tak tahan melihat istrinya hujan air mata.


Baru ia menyadari Arvi yang terlihat tidak peduli dan ogah-ogahan. Rupanya menyimpan rapat kegundahan hatinya selama ini.

__ADS_1


"Bahkan aq tidak berani menatapmu aq merasa bersalah dok! Kamu tidak seharusnya berkorban carilah wanita yang sempurna. Apa yang kau harap dariku?" Ucapnya sambil ter isak-isak tiada hentinya.


"Hustt! Jangan bicara begitu Arvi kamu sedang hamil pikiranmu mudah labil. Aq mohon tenangkan pikiranmu" Bujuknya mencoba menenangkan Arvi yang menangis tiada henti.


"Aq minta maaf membuatmu sesedih ini. Aq janji tidak akan membuatmu bersedih" Lanjutnya lagi.


Dokter Richat langsung mendekap erat istrinya yang menangis. Arvi menangis sejadi-jadinya dalam dekapannya. Tidak perlu dijelaskan dengan kata-kata dokter Richat mengerti akan kegundahan istrinya.


Tidak berapa lama Arvi terlihat agak tenang. Mungkin terlalu capek akhirnya ia tertidur dibahunya. Perlahan ia membaringkannya tak lupa ia menyelimutinya. Richat membelai lembut rambut yang tergerai menutup sebagian wajah ayunya.


"Maaf jika membuatmu bersedih!"Lirihnya mencium pucuk kepalanya dengan lembut. Arvi tidak sadar jika setiap malam dokter Richat selalu mencium pucuk kepalanya. Ketika hendak melangkah tangan Arvi meraih lengan bajunya. Seakan ia takut ditinggal sendiri. Tidak ada pilihan lain ia ikut baring di sisinya.


Ia menetap lekat wajah istrinya. Ia tak tahu dengan apa yang ia rasakan. Sekedar rasa kasihan atau lebih dari sayang. Ia juga masih ragu dengan perasaannya sendiri. Sebagai laki-laki yang normal tentu ia ingin memilikinya. Hampir tiap malam ia terjaga. Tidak dipungkiri Arvi sangat cantik mempesona. Aura kecantikannya makin terlihat sewaktu hamil. Hamil saja cantik apalagi kalau tidak hamil.


Setiap malam ia selalu memperbaiki posisi tidurnya. Ia takut jatuh. Jika Arvi sadar bisa-bisa ia ngamuk tak terkendali. Tapi dengan sadar Arvi tidak menolak sewaktu dokter Richat mencium pucuk kepalanya. Bahkan tadi keduanya saling berpelukan dengan erat.


Hatinya mulai berdesir ada sesuatu yang lain yang memasuki rongga yang sudah tiga tahun lamanya tidak terisi. Sebetulnya ia sudah putus asa di usianya yang menginjak kepala empat belum ketemu jodohnya. Makanya begitu ketemu Arvi ia bersedia menikahinya. Secara ia kenal Sakti suami Arvi sebelumnya.


Semenjak pacarnya menikah dengan orang lain dokter Richat menutup diri. Hampir waktunya ia curahkan ke pekerjaan. Sifat Sakti dan dokter Richat tidak beda jauh keduanya tipe orang pekerja keras. Ia tidak suka berdiam diri ada saja yang ia kerjakan. Hampir ia tidak mengenal waktu jika bekerja apalagi menghadapi pasien rumah sakit yang menumpuk.


Ia lekatkan pandangannya menatap istrinya yang tertidur dengan wajah sembam akibat menangis.


"Apa mungkin aq lagi puber ke dua? Atau dia sangat merindukan Sakti?" Ucapnya menerka-nerka. "Kawan istrimu sangat cantik maaf jika aq mulai menyukainya aq berjanji akan menjadi Deddy nya yang terbaik" Ucapnya menyemangati dirinya sendiri.

__ADS_1


Hari pun telah malam tidak terasa ia pun terbawa suasana. Akhirnya keduanya tidur seranjang.


*****


__ADS_2