
Menjelang kelahiran anak pertamanya Arvi rajin jalan disekitar rumah. Pak Hartono membatasi kegiatan Arvi untuk keluar rumah. Dia macam gadis pingitan. Rasa bosan sudah pasti tapi Arvi coba tepis. Hari demi hari ia habiskan waktunya dengan membaca buku-buka sewaktu ia mengenyam bangku kuliah. Hitung-hitung membuka memori tentang pengetahuan yang hampir terkikis oleh rutinisas dan masalah yang ia hadapi. Bahkan dokter Richat membelikan beberapa buku tentang bumil. Ia tahu jika istrinya bosan dirumah terbiasa kerja.
Rasa gatal ingin keluar rumah itu pasti tidak ia pungkiri. Bahkan ia ingin mencoba untuk menghubungi sahabat tercintanya Santi yang ia tinggalkan begitu saja tanpa kabar berita. Arvi sangat merindukannya. Tapi harus ia urungkan mengingat kejadian tiga orang asing yang hampir mencoba menyakitinya.
Sebetulnya dokter Richat ingin menemani sang istri tapi karena terbentur sibuknya rutinitas kegiatan kampus. Kecewa pasti ada tapi Arvi mengerti posisinya. Arvi tidak mampu menuntut suaminya sebab ia sadar diri.
Bukankah tujuan utama dokter Richat ke kota Semarang adalah tugas belajar. Kalau toh dia sampai menikah berarti bonus untuknya. Tidak menyangka ia bertemu jodohnya di kota lumpia. Ia juga tidak menyesal dengan keputusannya itu. Ia tahu Arvi masih menjaga jarak terhadapnya.
Hari itu Arvi merasa badannya tak enak ia putuskan untuk istirahat. Ayahnya juga masih di kantor. Seperti biasa dokter Richat masih berkutat dengan dunia kedokterannya. Arvi dirumah dengan asisten.
Beberapa kali bibik mengecek kondisi Arvi tapi ia menolak.
"Non Arvi kita ke rumah sakit ya? Nanti Tuan besar marah saya" Bujuk Bibik dengan wajah sedikit cemas.
"Aq tidak apa-apa koq bik!" Seru Arvi meyakinkan bahwa dirinya sehat.
"Tapi non saya kawatir soalnya non lagi hamil tua gini. siapa tahu mau lahiran?" Ucap bibik penuh perhatian padanya.
"Saya hubungi dokter Richat saja?" Lanjutnya memberi ide.
"Jangan bik!" Larangnya
"Kenapa kan suami sendiri" Jelas bibik
"Iya bik. Tapi aq sehat dan baik-baik saja koq" Serunya masih berbaring menyamping ditempat tidur.
"Non Arvi kepikiran ya?"
Arvi tersenyum tidak menjawab pertanyaan yang tertuju untuknya.
"Jika bisa aq berkeluh resah padamu mungkin akan kuceritakan tapi mulutku tak bisa. Rasanya aq ingin kabur saja dari rumah ini"Batinnya berkata.
"Non jangan terlalu dipikir berdoa semoga dimudahkan semuanya. Bibik sudah lama tidak lihat non Arvi tersenyum seperti dulu. Jika non Arvi mau jalan-jalan biar sopir antar siapa tahu non ingin cuci mata" Ucapnya panjang lebar mencoba untuk mengurai pikiran bumil yang terlihat kalut.
"Engak bik. Kemarin ayah belanja banyak untuk perlengkapan bayi itu lebih dari cukup"
__ADS_1
"Oh ya bibik lupa kemarin sopir mbak Dinda antar kerumah sepertinya buat non Arvi" Seru bibik penuh semangat.
"Iya bik taruh aja dilemari" Jawabnya terlihat murung.
"Non jangan sedih" Pinta Bibik mengelus rambut anak majikannya yang terlihat murung.
"Aq rindu mama bik!"
"Wajar kalau non Arvi ingat Nyonya saat ini non lagi hamil. Nyonya sangat sayang sekali non Arvi walau dia telah tiada Nyonya akan selalu menjaga non Arvi dari jauh. Sedikit lagi non Arvi akan jadi seorang ibu jadi yang semangat menyambut buah hati" Ucap bibik menasehati anak majikannya yang ia sudah anggap seperti anak sendiri.
"Makasih bik!" Serunya lalu memeluk sang asisten dengan eratnya.
"Bibik ambil dulu ya kiriman dari mbak Dinda" Ucap bibik tapi tangan Arvi melarangnya.
"Nanti saja bik! Besok juga bisa. Kak Dinda sudah kirim WhatsApp jika itu isinya baju-baju bayi. Dia ada sibuk urus bisnis yang baru dirintis" Jelas Arvi meyakinkan.
"Mbak Dinda ulet kayak Tuan besar ahli berbisnis" Puji Bibik penuh semangat.
"Iya keduanya ulet suami istri" Sahut Arvi ikut menimpalinya.
"Ya sudah bibik siapin makan buat non Arvi ya!" Ucap bibik meminta ijin.
"Iya nanti bibik temani" Sahut bibik dengan lembut. Umpannya mampu membuat Arvi semangat untuk makan siang.
Terdengar suara panggilan masuk dari ponselnya. Buru-buru Arvi meraih ponsel yang ada diatas meja dekat tempat tidur.
"Hallo. Assalamualaikum sudah makan dek?" Suara dokter Richat dari telpon belum mendapat salam balik langsung memberondong pertanyaan makan untuk istrinya.
"Waalaikum Salam. Sedikit lagi mas" Sahut Arvi.
"Nanti saya hubungi bibik untuk siapkan makan siang untukmu" Tuturnya sedikit kawatir.
"Mas tidak usah bibik udah mau siapin. Nanti kami makan bareng" Seru Arvi buru-buru melarangnya.
"Mas minta maaf gak pernah temani kamu makan siang" Keluhnya terdengar lirih.
__ADS_1
"Tidak apa mas! Aq ngerti koq. Itu bedanya kamu dan mas Sakti. Hampir setiap makan siang kita selalu bersama karena satu kantor. Mas telpon saja aq ucapkan terima kasih sudah perhatian pada kami" Jelasnya tersenyum.
"Sakti lagi yang di ingat! Adakah perasaan dikit aja dihatimu untukku?" Batinnya memprotes tapi tidak berani ia ungkapkan.
"Mas! Mas masih disitu?" Panggil Arvi yang tidak mendengar suara dokter Richat.
"Hemmm!"
"Mas marah aq cerita mas Sakti!" Tanyanya mengoreksi pernyataannya.
"Tidak!"
"Lalu?? Kenapa diam?"
"Ada teman yang menyapaku"
"Oh" Padahal tidak terdengar ada yang menyapanya.
"Jangan lambat makan kasihan dedek bayi pasti dia sudah sangat lapar mommy nya malas makan takut gemuk tidak seksi lagi gak ada pria yang melirik" Sindirnya setengah bergurau.
"Dokter ini kenapa bicara gitu? gak biasanya aneh?"Batin Arvi menggerutu.
"Iya pasti aq makan siang!" Serunya menjawab tanpa ada pilihan.
"Harus makan. Arvi kalau ada apa-apa kasih kabar mas ya!"
"Mas fokuslah pada tujuan utama mu kuliah soal aq tidak usah kamu pikirkan nanti ada bibik dan sopir yang bantu antat" Ucapnya mencoba untuk membuat dokter Richat tenang.
Rasanya menyakitkan mendengar kata itu. Hatinya bagai disayat-sayat belati. Sebagai suami ia tetap memikirkan keadaannya. Ia sibuk mengejar tugas belajar bukan berarti mengesampingkan tangagung jawabnya sebagai suami. Apalagi dia menunggu masa terindahnya sebagai seorang ayah. Walau dia bukan ayah biologisnya tapi ia sangat mengharapkan kehadirannya.
"Non Arvi makan siangnya sudah bibik siapin. Monggo dahar riyen!" Seru bibik yang membuyarkan.
"Makasih bik nanti saya nyusul. Mas aq makan dulu telponnya aq tutup ya!" Pinta Arvi dengan sopan.
"Iya selamat menikmati makan siang. Salam sayangku buat dedek jaga dia selalu" Ucapnya memberanikan diri ucapkan kata sayang pada calon bayi yang sebentar lagi lahir ke dunia ini.
__ADS_1
"Mas hati-hati jaga kesehatan juga!" Sahut Arvi tersenyum menutup ponselnya.
Bergegas ia menaruh ponselnya di meja dan segera menuju ruang makan. Dimana bibik telah menunggu kedatangannya. Ia juga sudah kelaparan. Apalagi dedek bayi yang semakin kuat gerakannya tentu membutuhkan asupan nutrisi yang cukup dimasa kehamilannya ini. Ia tak sabar menunggu kelahirannya.