
Walau tujuh tahun mengarungi bahtera rumah tangga bersama dokter Richat. Keduanya tetap kompak menjadi orang tua yang selalu kompak dalam segala hal dan saling melengkapi satu sama lain.
Junior tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Terutama dokter Richat begitu menyayanginya. Bahkan ia tidak bisa hidup tanpa Junior. Juniorlah penyemangat hidupnya selama ini. Kehadiran Junior disisnya membuatnya mampu bertahan dari dinginnya hubungan rumah tangganya dengan Arvi.
Selama hampir tujuh tahun mereka menikah tapi mereka hanya bertegur sapa dihadapan Junior. Ia tak ingin mengeluh atau menampakkan kesedihan di hadapan Junior. Walau ia tahu Junior bukanlah anak kandungnya. Tapi ia ingin menunjukkan jika ia ayah yang baik dan bertanggung jawab demi tumbuh kembangnya Junior. Ia bahagia memiliki Junior. Terdengar sangat miris tapi ia telah lalui hampir tujuh tahun ini
Sebagai istri Arvi merasa beruntung dokter Richat sangat baik ia memegang teguh janjinya. Ia tak tahu harus membalasnya dengan apa. Terkadang ia merasa risih atas semua kebaikan dan ketulusan hatinya selama ini. Tapi jauh dilubuk hatinya bayang-bayang Sakti tidak lepas mengikutinya.
Di kantor Arvi dipanggil atasannya. Sebab ada kegiatan di Jakarta. Dimana dari kantor di kirim perwakilan lima pegawai untuk mengikuti kegiatan tersebut. Rasanya ingin ia tolak tetapi itu perintah tugas dari atasan. Siap tidak siap harus siap menjalankan tugasnya sebagai abdi negara.
Sore itu sepulang dari kantor Arvi menjemput Junior dari rumah sang Ayah. Selama dia ngantor Junior tinggal dengan asisten Pak Hartono. Rumah mereka yang tidak berjauhan sehingga memudahkan Arvi untuk menitipkan junior kepada sang ayah.
****
Dikediaman dokter Richat.
Mereka bertiga asyik menikmati santapan makan malam yang telah Arvi siapkan sepulang kerja. dokter Richat tampak lahap menikmati masakan Arvi. Malam itu Arvi masak ayam goreng ke sukaan keduanya dengan sayur asam.
Buat dokter Richat menikmati makan malam buatan Arvi sudah hukumnya wajib. Arvi sangat memanjakan dokter Richat dengan masakan hariannya. Secapek apapun Arvi menyiapkan makanan untuk suaminya. ia lebih senang makan dirumah dari pada membeli makanan di luar. Bahkan sebelum berangkat kerja ia selalu menyiapkan sarapan serta membawakan bekal untuk suaminya.
Arvi membersihkan peralatan yang mereka pergunakan untuk makan malam. Semula dokter Richat ingin membantunya tapi Arvi tolak. Hubungan mereka memang suami istri tapi bukan patner dalam urusan ranjang. Setelah mereka pindah dari rumah Pak Hartono ke rumah mereka sendiri. Mereka tidur terpisah selama lima tahun lamanya. Ingin rasanya ia membuka hati pada sosok dokter Richat yang selalu menemaninya tapi bayangan Sakti terus muncul dipelupuk matanya.
"Mas besok aq minta izin lima hari ke luar kota"Suara Arvi menghentikan langkah kaki Richat ketika ingin menuju kamar pribadinya.
"Kenapa mendadak?"
__ADS_1
"iya tadi aq lupa. Ga pa-pakan mas jika aq ikut kegiatan?" Ucap Arvi meminta izin dengan tulus.
"Berangkatlah" Sahutnya menatap Arvi penuh perhatian. Walau mereka tidak sekamar tapi dokter Richat sangat memperhatikan Arvi.
"Makasih mas!" Jawab Arvi tersenyum manis. Melihat Arvi tersenyum manis ia hanya bisa menelan ludah. Istri cantik yang tidak pernah ia jamah. Tapi ia juga tidak menuntut keduanya saling membentengi diri masing-masing.
"Aq titip junior ya mas"Lanjut Arvi penuh keyakinan. Entah kenapa ia tampak canggung membalas ucapan Arvi.
"Tentu itu sudah jadi kewajibanku" Serunya meyakinkan. "Besok mas antar ke Bandara"Lanjutnya menawarkan diri.
"Terima kasih tidak usah repot mas harus ke rumah sakit loh" Sela Arvi mengingatkannya.
"Tidak apa. Mas seneng koq!" Serunya meyakinkan.
Percakapan diantara keduanya pun terhenti karena besok Arvi ikut pesawat pagi. Ia tak ingin ketinggalan pesawat.
*****
Langit masih gelap terdengar kumandang azan shubuh. Arvi melaksanakan ibadah sholat. Setelah itu ia bersiap-siap menuju bandara diantar dokter Richat. Arvi tidak ingin membawa Junior ke bandara sebab ia masih tertidur pulas. Mereka hanya berdua ke bandara.
Butuh waktu sekitar tiga puluh menit untuk sampai ke Bandara. Terlihat keempat teman kantornya telah datang duluan. Arvi ingin turun dari mobil tetapi ada sesuatu yang menahannya. Arvi menoleh ia menatap lekat suaminya. Lengan kekar suaminya menahannya agar jangan keluar duluan.
"Mau apa ini suamiku" Batinnya bertanya.
Tidak diduga dokter Richat lalu mendekapnya dengan erat seakan tak rela jika Arvi pergi menjauh darinya. Arvi hanya terbengong dengan sikap suaminya yang tak biasanya. Sebab bukan hanya sekali Arvi melakukan jalan dinas ke luar kota. Baru kali ini dokter Richat bersikap aneh.
__ADS_1
"Lekaslah pulang aq merindukanmu dan Junior" Suara dokter Richat terdengar gugup.
Arvi tersenyum miris. Betapa lelaki yang telah menemaninya hampir tujuh tahun ini begitu mendamba kasih sayangnya.
"Haruskah aq membalikkan hatiku" Batinnya berperang dengan sendiri.
"Tentu aq pasti sangat merindukan kalian" Serunya agak gugup sembari memalingkan pandangannya. Ia menunduk merasa bersalah. Arvi juga tak ingin menatap sorot mata dokter Richat yang begitu berkharisma. Tatapan matanya membuat siapa saja cenat cenut tak karuan.
Ketika tatapan Arvi tak tentu kemana. Tiba-tiba sebuah ciuman mendarat di bibir sexynya membuatnya terkejut bukan main.
"Cup"
"Cup"
Dua kali ciuman bibir mereka terpaut. Arvi juga tidak menolak kecupan mesra dari sang suami. Yah ciuman yang sudah lama sekali tidak ia rasakan. Ia membiarkan suaminya mencium bibirnya. Sesuatu yang seharusnya mereka lakukan semenjak mereka menikah tapi baru kali ini mereka lakukan. Entah angin apa yang mendorong suaminya untuk melakukan ciuman itu. Sebab selama ini ia tidak menuntut.
Dari deru nafas dokter Richat bisa ia rasakan begitu memburu dan berharap lebih drai sekedar ciuman tapi ia sadar diri jika waktu yang tidak tepat.
"Hati-hati!!" Ucap dokter Richat merapikan rambut Arvi yang tergerai menutupi sebagian wajahnya. Bahkan ia telah merusak polesan lipstik di bibir Arvi.
Ketika hendak membuka seat belt Arvi memberanikan diri mencium bibir suaminya tanpa aba-aba. Tentu saja mendapat serangan dari Arvi hingga membuatnya kesusahan bernafas. Keduanya saling berciuman dengan mesranya. Keduanya saling berciuman hingga bibir mereka terasa kebas. Dokter Richat bagai tersengat aliran listrik mendapat serangan Arvi yang tanpa ba bi Bu be bo itu.
Ada hasrat yang begitu membara diantara keduanya yang belum tersalurkan. Sayang mereka diburu waktu. Dari sorot mata dokter Richat terlihat rasa ingin dan mendamba tapi juga kecewa jika sang istri harus segera check in.
Akhirnya mereka menyudahi ciuman mesra itu ia takut jika istrinya ketinggalan pesawat. Perasaan bahagia begitu terpancar diantara keduanya. Batin dokter Richat menduga jika Arvi sudah mulai melupakan bayang-bayang Sakti selama ini.
__ADS_1