AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
Penyesalan


__ADS_3

Seperti hari biasanya Pak Hartono pulang dari makam langsung menuju ruang kerjanya. Beliau menghabiskan waktu diruangan itu hingga berjam-jam. Dan sang bibik tidak berani mengganggu. Sebetulnya ia ingin memberi tahu jika anak gadisnya telah pulang.


Sementara Arvi istirahat dikamarnya. Sekitar tiga jam menunggu di kamar. Arvi sudah bosan. Bergegas ia keluar.


"Bik koq mereka lama pulang?" Tanyanya penuh slidik.


"Sudah bapak ada diruang kerja!" Jelas sang bibik bergegas pergi melanjutkan pekerjaannya di belakang.


"Terima kasih bik!!" Ucapnya kegirangan.


Langkahnya mulai menuju ruang kerja sang ayah didekat tangga.


"Tok..Tok..Tok!!!"


"Iya. Siapa? Masuk bik!" Jawab dari dalam asal.


"Ceklek!!"


"Ayah!!!" Teriak Arvila berlari mendekatinya. Tanpa rasa canggung Arvi berhambur memeluk erat tubuh ayahnya.


"Arvila? Ini betul kamu nak??" Cetus sang ayah seakan tidak percaya jika orang yang sedang memeluknya adalah anak gadisnya yang lebih dari dua tahun tidak bertegur sapa.


"Iya ayah ini Arvi! Maafin Arvi Yah!!" Jelasnya kembali memeluk Pak Hartono dengan eratnya. Arvi menangis terisak. Rasa rindu sedih penyesalan tumpah dalam dekapannya. Pak Hartono merasakan betapa sang anak tulus meminta maaf padanya. Sayang momentum ini tidak disaksikan sang istri.


"Sudahlah Arvi kita lupakan semuanya. Ayah juga salah mengekang keinginanmu tapi ayah bangga rupanya kamu bisa mandiri akhirnya. Jika kamu ingin sekolah lagi ayah turuti apapun maumu"


"Arvi belum kepikiran ke situ"


"Siapa tahu kamu ingin melanjutkan pendidikanmu ke luar negeri. Apapun ayah mendukungmu nak!"


"Tidak untuk sekarang saya ingin dirumah dulu"


"Oh iya sudah! Jika ingin apa kasih tahu ayah"Sahut sang ayah menatap anaknya yang jauh berbeda. Tapi


"Ayah mama mana? Istirahat di kamar?" Tanya Arvi lurus sebab sedari pulang ia belum melihat wajah mamanya dari tadi. "Aq nyusul mama ya Ayah" Lanjutnya berbalik meninggalkan Pak Hartono.


"Arvila!!" Panggilnya menghentikan langkah anaknya. Arvi menghentikan langkahnya.


"Iya ayah!" Sahutnya bertanya.


"Tidak akan kamu temukan Ibumu! Dia sudah pergi"


Tubuhnya terasa kaku mendengar pengakuan sang ayah.

__ADS_1


"Brruuk!!!"


Dipusara


Arvi terisak-isak menangis ia tak mampu menahan duka atas kepergian ibunda tercinta. Ia tidak menyangka jika sebelum ia pulang beliau telah lebih dahulu berpulang ke pangkuan Ilahi. Sang ayah tampak berusaha tegar walau hatinya rapuh.


Dalam sekejab dua orang yang ia sangat cintai pergi tanpa pesan. Arvila begitu terpukul atas kepergian sang mama. Banyak hal yang belum ia sampaikan tapi beliau telah tiada. Rasanya ia ingin menyusul keduanya saja. Berapa kali Pak Hartono dan sang bibik mengusap punggungnya agar ia mengiklankan kepergian sang mama.


"Sudahlah nak ikhlaskan hatimu! Mungkin sudah jalan Tuhan mama berpulang" Tutur ayahnya memberi wejangan.


"Jika Arvi tidak pulang selamanya juga aq tidak tahu jika mama telah tiada" Ucapnya sesungukan menyesalinya. Air matanya seakan tiada henti membasahi pipinya. "Tuhan inikah karma yang harus kutanggung!" Ucapnya merutuki nasibnya.


"Sudahlah Arvi jangan disesali sekarang tataplah ke depan masa depanmu masih panjang. Apapun keinginanmu ayah akan mendukungmu" Bujuk beliau dengan halus.


Tiba-tiba tubuhnya roboh disamping Pak Hartono


"Brruuk!!"


"Karyo bantu kami!" Teriak Pak Hartono memanggil sang sopir yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


" Iya tuan!" Sahut nya berlari kecil mendekati majikannya. Sementara bibik ikut menangis.


"Duh Gusti ileng mbak.... ilingg! Istifar mbak!" Jeritnya menangisi Arvila dengan gaya medoknya.


DiRumah Sakit.


Wajah Tegang Pak Hartono terlihat dengan jelas. Amarah nampak memenuhi isi pikirannya. Ia mencoba untuk sedikit tenang tapi tidak bisa. Ia tak ingin menambah beban pikirannya. Semenjak istrinya meninggal kacau pikirannya.


Sebagai orang tua ia peka akan perubahan pada diri anak gadisnya. Ada sesuatu yang ia sembunyikan darinya. Tapi pelan dan pasti ia ingin mendengarnya secara langsung dari mulutnya bukan dari keterangan dokter Sony.


Flesbeck dulu ya


Diruang dokter Pak Hartono tampak serius menanyakan kondisi sang anak gadisnya pada dokter Sony. Bagaimana dalam hitungan jam pingsan sebanyak dua kali. Beliau menaruh curiga pada Arvi hingga meminta dokter yang bertugas dirumah sakit yang tak lain kawan lamanya untuk memeriksanya dengan ditail.


"Bagaimana keadaan anak saya dok?" Tanya beliau dengan serius.


"Sepertinya dia hamil pak!"


"Apa hamil???" Tanyanya tidak percaya dengan keterangan yang diberikan sang dokter.


"Iya Pak! Dia sedang hamil usia kandungannya sekitar Empat belas Minggu. Dia tidak cerita?" Tutur dokter menjelaskan.


"Bagaimana bisa dia hamil?" Tanyanya masih tidak percaya.

__ADS_1


"Saya sarankan di komunikasikan secara kekeluargaan saja pada anaknya. Hamil di trimester awal sangat rawan" Pinta sang dokter agar Pak Hartono tidak terlalu emosi menghadapi masalah ini.


"Iya dok. Terima kasih telah memberi tahu tentang kabar ini" Ucap Pak Hartono dengan wajah murung.


"Pak Hartono yang sabar ya! Saya yakin Arvi bisa menjelaskan semuanya. Dia anak yang kuat" Ucap dokter meyakinkan Pak Hartono yang sudah ia kenal dekat.


"Dia kepikiran mamanya meninggal" Sela Pak Hartono.


"Iya. Dia jauh lebih dewasa tidak seperti dulu. Dia tampak tenang" Sela dokter melihat perubahan sikap Arvi yang bisanya manja.


"Ini yang aq kawatirkan selama ini? Keinginannya untuk merantau belajar hidup jauh dari orang tua begitu kekeh"


"Dia menuruni sifatmu. Susah dibilangin "


"Iya Aq tahu itu. Tapi siapa bapak dari janin yang di kandungnya?"


"Pak Hartono harus lebih bersabar"


"Sabar ada batasnya"


"Jangan sampai dia kabur lagi?"


"itu yang tidak kuharap. Apapun kondisinya laki-laki itu harus bertanggung jawab"


"Tidak peduli jika dia bukan orang berada?"


"Aq tidak peduli dia harus tanggung jawab atas bayinya"


"Apa itu tidak terlalu dipaksakan?" Tegur dokter untuk lebih santai menghadapi masalah.


"Aq tidak ingin menanggung malu?" Pikirannya kalut.


"Bagaimana jika ia tidak mau ngaku? "


"Semoga dia lebih bertanggung jawab untuk diri dan anak yang dikandungnya.


"Aq kecolongan!"


"Apapun keputusanmu aq siap membantumu. Jangan sungkan untuk cerita. Satu pintaku jangan terlalu menekannya biarkan dia menjelaskan apa yang sebenarnya. Bagaimana juga ia keturunan mu Pak Hartono" Pungkas sang dokter yang tahu betul sifat dan karakter Pak Hartono yang tegas dan keras itu.


"Baiklah aq akan pertimbangkan saranmu. Semoga dia mau bercerita tentang apa yang terjadi!"


"Ingat kataku Jangan menekannya terlalu keras"

__ADS_1


Setelah mendengar penjelasan dari temannya yang seorang dokter Pak Hartono tampak terlihat risau. Belum ada dua Minggu istrinya meninggal sang anak yang ditunggu-tunggu kehadirannya datang dalam kondisi berbadan dua. Ia tidak ingin mengingkari keturunannya sendiri. Beliau berinisiatif untuk mencari lelaki itu sampai dapat. "Apapun caranya laki-laki itu harus bertanggung jawab!" Batinnya berbicara sendiri.


__ADS_2