AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
Mendapat Pertolongan


__ADS_3

Arvi berlari dan terus berlari. Sesekali ia menoleh kebelakang jangan sampai mereka mengejarnya. Akan sia-sia saja usahanya berlari tunggang langgang kabur dari rumah jika mereka menemukannya. Arvi tidak menyangka akan meninggalkan rumah sang suami dengan cara seperti ini. Menangis pun percuma ia harus menyelamatkan dirinya.


Arvi mengatur nafasnya baik-baik. Ia tak ingin jatuh pingsan dijalan. Antara ingin menagis dan kesakitan bersatu padu merutuki tubuhnya saat ini. Mencoba bertanya pada langit langit pun enggan menjawabnya.


Tiba-tiba terdengar "Bruuuks!!" Tubuhnya menabrak tumpukan sterefon yang tertumpuk dipinggir jalan.


"Bisa lihat tidak sih barang sebesar ini!!" Tegurnya sewot memarahinya. Sebab Arvi menjatuhkan tumpukan sterefon yang berisi kepiting dan udang. Tapi rekannya mencoba membantu membangunkan Arvi yang jatuh.


"Aduh bang saya minta maaf!! Saya tidak lihat" Sahut Arvi mencoba meminta maaf.


Pria itu memperhatikan Arvi yang mengatur nafasnya.


"Makanya kalau jalan pake mata jangan melamun!" Pak sopir memarahinya sebab sterefon nya jatuh takut rusak.


"Maaf Bang!" Suara Arvi merendah.


"Iya. Lain kali kalau jalan hati-hati" Ucap Pak Sopir memperingatknanya.


"Lari malam-malam kayak lihat hantu saja mbak" Tegur orang yang membantunya berdiri.


"Panjang bang ceritanya" Sahut Arvi masih mengatur nafasnya.


"Shock akrab lagi tanya-tanya" Omel sang sopir memperbaiki bawaannya yang jatuh.


"Bukan begitu bang! Saya kasihan sama mbaknya" Sahut temannya menjelaskan dan bergegas membantu mengangkat sterefon ke kabin belakang.


Arvi berdiri menunggu keduanya menyelesaikan pekerjaannya mengangkut semua muatan sterefon yang berisi udang dan kepiting. Arvi tahu jika mobil itu akan menuju ke kota besar. Sang sopir dan rekannya tampak tidak mempedulikan Arvi yang duduk dekat mobil.

__ADS_1


Dikira Arvi menunggu seseorang. Padahal ia menunggu mereka berdua. Sambil menunggu Arvi sempatkan diri memesan tiket pesan via Traveloka. Suka tidak suka itu ia lakukan. "Saya ingin hidup melahirkan, merawat, menjaga serta membesarkan anakmu mas! Walau kamu telah tiada aq ingin menjaga amanahmu" Batinnya terisak menangisi kepergian sang suami. Ia tidak menyangka jika suaminya dibunuh. Bahkan berapa kali ia membaca surat alfatihah untuk sang suami tercinta.


Begitu selesai sang sopir mengikat dengan tali agar muatannya tidak jatuh. Sebab Medan yang ia lalui memakan waktu yang lama dan beresiko tinggi.


Ketika sang sopir masuk ke mobil Arvi lalu mengikuti langkah sang sopir.


"Bang bolehkah saya ikut ke kota?" Suara Arvi dari belakang. Sang sopir menoleh ke arahnya.


"Mau ikut sampe mana?" Tanyanya mengerutkan keningnya.


"Bang saya bayar koq gak gratis. Yang penting ini hari malam saya harus berangkat" Jelasnya meyakinkan sopir itu jika ia akan membayar sesuai tarif yang ada.


"Oh iya sudah" Sahutnya tapi sedikit menaruh curiga dengan sikap Arvi yang terlihat gelisah.


"Kebandara bang!" Jawab Arvi singkat.


"Koq gak bawa barang?" Tanya sopir penuh slidik.


"Ceritanya panjang bang!" Jawab Arvi singkat.


"Masuklah!! Kenapa tidak dari tadi bilang kalau kamu mau ikut" Tanyanya mulai kepo sebab wanita itu terlihat pucat.


"Iya bang. Ini pun gak sengaja koq diluar rencana. Bang nanti kalau lewat ATM mampir ya saya mau bayar tiket pesawat" Jelas Arvi. Rupanya sewaktu duduk tadi Arvi menyempatkan diri boking tiket pesawat via online di Traveloka.


"Iya mbak nanti saya mampir " Jawab Pak sopir menyetujui permintaan Arvi.


Pak sopir mulai menyalakan mesin dan melajukan mobil ke tujuannya. Begitu lewat ATM mereka berhenti mengikuti arahan Arvi. Selesai melakukan pembayaran tiket lewat ATM mereka melanjutkan perjalanan menuju bandara di ibu kota Provinsi memakan waktu lama dan melelahkan. Butuh ekstra sabar tentunya. Perjalanan memakan waktu enam jam lebih.

__ADS_1


Arvi hanya bisa berucap "Bismilah aq jalan pulang mas Sakti. Doain kami sehat sampai tujuan" Ucapnya mengusap air mata yang jatuh menetes. "Selamat tinggal kota yang penuh kenangan" Lanjutnya tersenyum miris meratapi nasibnya esok kelak. Udara malam yang dingin menusuk kulit. Mungkin terlalu capek sepanjang perjalanan. Rasa ngantuk itu mulai menyelimutinya. Arvi tertidur dengan pulasnya.


Sesekali mobil berhenti sopir istirahat sebentar untuk menghilangkan rasa lelah dan kantuk. Arvi duduk di belakang sementara teman sang sopir duduk disampingnya menemaninya ngobrol.


Sekitar pukul Lima pagi mereka sampai di bandara. Sopir pun membangunkannya. Jika mereka telah sampai tujuan.


"Mbak bangun sudah sampai"


"Oh ya bang terima kasih sudah kasih tahu" Sahutnya membenarkan pandangannya. Betul kata pak sopir jika mereka telah sampai di bandara. Arvi lalu membetulkan duduknya dan bergegas turun dari mobil. Lalu Arvi membuka tas kecil yang ditentengnya. Ia membuka isi dompetnya dan mengambil beberapa lembar uang seratus ribu kepada sang sopir.


"Bang ini biayanya. Terima kasih banyak sudah mengantar saya dengan selamat" Ucapnya sembari memberikannya uang tersebut.


"Sama-sama mbak!" Sahutnya tersenyum pada wanita yang semalam sempat dia marahi. Arvi pun berjalan menuju bandara.


"Mbak tunggu!! Tunggu dulu!" Teriak Pak sopir setengah berlari mengejar Arvi yang berjalan menjauh dari mobil. Mendengar teriakan sang sopir Arvi pun berhenti.


"Ada apa ya pak?" Tanya Arvi penasaran sebab ia merasa tidak bawa barang pasti tidak ada barang yang tertinggal di mobil.


"Ini mbak uangnya terlalu banyak palah dua kali lipatnya" Jelas Pak sopir ingin mengembalikan uang kelebihan nya pada Arvi.


"Ah tidak usah Bang memang sengaja saya kasih lebih buat Abang berdua sebab sudah menolong saya. Jika saya tidak ketemu Abang mungkin saya tidak selamat. Makasih bang sudah antar saya dengan selamat" Jelas Arvi tersenyum dan menjabat tangan Pak sopir.


"Terima kasih mbak kalau gitu pasti istri saya seneng sekali. Oh ya mbak kapan balik kasih kabar biar naik mobil saya saja mbak" Sahutnya tersenyum bahagia mendapat rezeki lebih dari penumpang.


"Maaf bang mungkin saya tidak balik lagi ke Papua" Jelas Arvi sedih.


"Jangan pernah bilang tidak balik lagi ke Papua! Sebab suatu ketika mbak tetap akan balik kesini lagi" Sang sopir mencoba menasehatinya.

__ADS_1


"Kayaknya tidak Pak langkahku sedah pendek. Kalau begitu saya check in dulu pak!" Ucap Arvi menyudahi percakapan mereka. Arvi melambaikan tangan pada Pak Sopir yang mengantarnya. Dia pun membalas lambaian tangan Arvi.


Tidak butuh lama Arvi memasuki pintu utama bandara. Bandara itu terlihat kokoh dengan ornamen khas Papua. Terlihat cantik dan megah. Bandara yang penuh sejarah dan kenangan tersendiri buat Arvi. Bandara itu tidak banyak berubah masih sama seperti dua tahun yang lalu. Arvi melangkah menapaki lantai bandara yang bersih. Para penumpang lain pun mulai berdatangan memasuki bandara sebab ada jadwal pesawat pagi.


__ADS_2