AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
Mencari Perhatiannya


__ADS_3

Masih di kamar hotel.


Arvi hanya diam melihatnya pergi. Batinnya berkata"baguslah dokter pergi dan menjauh saya tidak ingin ada sesuatu yang lebih. Memang menyakitkan tapi demi kebaikannya juga anak yang dikandungnya"


Jika orang lain yang melihat tentu berbeda pandangan tergantung dari sudut mana menyikapinya. Mengingat statusnya yang masih ngegantung.


Usai magrib Arvi pergi ke lantai dasar untuk check-in serta menyelesaikan administrasinya.


"Nyonya suami anda telah melunasi administrasinya"


"Apa??? Oh ya terima kasih" Arvi ingin bertanya pada petugas resepsionis itu dengan ditail tapi menambah curiga saja. Ia tidak ingin bikin gerakan tambahan.


"Masih ada yang bisa dibantu nyonya?"


"Tidak terima kasih" Sahutnya tersenyum pada petugas hotel. Sempat Arvi menoleh ke segala arah lobi hotel tidak nampak dokter Richat


Arvi pun keluar dari hotel sebab mobil yang ia pesan telah menunggunya. Tampak security dengan ramah menyambut Arvi. Terlihat mobil yang ia pesan telah ada di tempat parkir. Bergegas Arvi membuka pintu mobil.


Ketika mobil hendak Arvi tutup seseorang memaksa masuk ke mobil. Alangkah Arvi terkejut ia kenal betul laki-laki tinggi yang memaksa ikut masuk bersamanya.


"Heh heh tidak bisa begitu?" Pekik Arvi kaget jika dokter Richat masuk ke mobil setengah memaksa.


"Apa sih mau anda ikuti saya terus? Gak ada kerjaankah?"


"Maaf ini gimana?" Ucap sang sopir penuh curiga menoleh ke arah keduanya.


"Ini istriku. Dia lagi marah dan mau kabur" Ucapnya tenang berbohong. Sang sopir memperhatikan dengan seksama dokter Richat yang berusaha merangkul Arvi untuk meyakinkannya, tapi Arvi berusaha menghindar dan menolak.


"Istri saya kalau ngambek juga susah dirayu pak" Suara pak sopir tersenyum sambil cerita tentang istrinya kalau ngambek.


"Pak jangan dengar orang ini saya juga gak kenal"Jelas Arvi.


"Nah istri saya lagi hamil akibat perubahan hormon moodnya mudah berubah-ubah contohnya seperti ini sama suami sendiri tidak kenal" Tutur dokter Richat meyakinkan.


Arvi makin melongo menatap dokter ganteng yang agresif mengikutinya. Pikirannya aneh kemana-mana. Ia seakan tak peduli lagi dengan tujuannya awal pulang ke rumah.


"Oh Yo apalagi kalau hamil muda. Dulu istri saya juga gitu waktu hamil muda" Ucap sopir melajukan mobil.


"Aq bisa teriak loh mas!"


"Teriaklah biar semua dengar. Jalan saja Pak takut terlambat kami Jakarta macet jam begini" Jelas Richat tanpa peduli pada Arvi yang menolak.


"Tapi aq bukan istrinya" Suara lirih Arvi terdengar oleh Richat. Untuk mengalihkan perhatian sopir Richat berusaha seramah mungkin padanya.

__ADS_1


"Pak anaknya berapa?"Tanya dokter berbasa-basi.


"Tiga pak " jawabnya masih fokus dengan jalan aspal.


Akhirnya tibalah mereka ditempat tujuan. Stasiun Pasar Senin sudah lama Arvi tidak menginjakkan tempat ini. Pikirnya perjalanan ini akan lebih santai tapi ternyata tidak? Terlihat banyak penumpang yang menunggu.


Begitu sampai Arvi ingin membayar tapi sang dokter lebih duluan bahkan memberi uang lebih pada pak sopir.


"Pak ini ada rejeki lebih buat anaknya" Ucap Richat ramah.


"Oh makasih pak! semoga bapak dan ibu dimudahkan rejekinya"Tutur pak sopir dengan riangnya. Arvi hanya tersenyum kecut.


Arvi melangkah menuju tempat percetakan tiket tanpa mempedulikan dokter Richat. Arvi tersenyum stasiun ini sudah banyak berubah gak seperti dulu.


Arvi menekan tombol layar mengukuti petunjuk ia mendekatkan ponsel yang terdapat barcode untuk dicetak tiketnya. begitu mau melangkah pergi tangan seseorang meraihnya.


'"Dokter ini ganteng tapi nyebelin sekali mengekor terus! Apa sih maunya?" Atinnya menggerutu gak ada habisnya.


"Arvi tolong bantu cetakkan macam kamu punya"Pintanya sambil memainkan mata ke arah monitor. Mau menolak tidak enak dilihat orang banyak. Arvi meminta ponselnya.


"Mana ponselnya?" Tanya Arvi dan Richat memberikannya. Tidak butuh lama tiket pun tercetak. Alangkah kagetnya jika tujuannya sama ke Semarang.


"Ngapain ikut-ikutan ke Semarang?"


"Ini!"Arvi menyerahkan tiket dan ponselnya.


"Terima kasih!"


"Iya sama-sama"


"Kamu jadi tourgaide ku ya?" Pintanya malas tahu.


"Enak aja katanya ada urusan? Koq nyuruh-nyuruh" Ucapnya mulai jengkel.


"Arvi pakelah jaket ini "


"Tidak usah terima kasih"


"Kenapa sih menolak semua kebaikanku? Aq ada salah?" Ucapnya langsung memakaikan jaket tanpa mempedulikannya.


"Oh sudah dihitung toh? Berarti gak iklas" Celetuknya agak sewot.


"Nah ini ni kamu mulai ngambek gak jelas gimana bisa diajak bicara baik-baik"

__ADS_1


"Ngerti sedikit kenapa sih?"


"Aq ngerti"


"Ngerti apa? Boro-boro ngerti kamu sama kayak mas Sakti nganggepnya aq kayak anak kecil"


"Memang Sakti seperti itu Kenapa kamu mau?"


"Bisa tidak jangan jelek-jelekkan suamiku!"


"Iya nyonya Sakti yang judes. Saya heran Sakti kenapa bisa suka kamu orangnya jutek kepala batu susah dibilangin?" Ungkitnya mengejek Arvi hingga matanya membulat seakan keluar.


"Biarin kalau cinta mau apa?" Selanya ganas.


"Cantik juga tidak? Apa sih menariknya kamu" Sahutnya memperhatikan Arvi dengan seksama. Arvi memukul bahunya dan sang dokter pura-pura kesakitan.


"Awou. Awou sakit!" Ucapnya meringis kesakitan dipukul Arvi lengannya.


"Tipu saja!" Ucapnya tidak mempedulikan dokter Richat yang pura-pura.


"Eh sudah tua jangan banyak gaya kayak anak muda"Sindir Arvi padanya.


Indra penglihatan Arvi mulai tidak nyaman banyak mata mulai memperhatikan ulah keduanya. Lalu Arvi pun berlalu pergi. Sementara Dokter Richat mengikutinya kembali.


Sebelum kereta tiba Richat membelikannya makan dan beberapa roti.


"Makanlah aq takut kamu sakit" Dokter Richat menyodorkannya makanan yang dibelinya.


"Tidak terima kasih!" Jawab Arvi menolak pemberiannya.


"Arvi makanlah walau sedikit" Ucapnya menyantap makanan.


"Aq masih kenyang" Jawab Arvi yang cuek gak mempedulikan.


"Ayo aq suapi kamu lapar!"Dokter Richat mencoba menyuapinya. Arvi menganga teringat akan suaminya yang begitu perhatian menghadapi kebiasaan Arvi yang malas makan.


Butir air matanya mulai jatuh membasahi wajahnya.


"Kumohon menjauhlah dariku semakin kau dekat itu akan menyakitiku" Ucapnya berurai air mata. Tangisnya tak terbendung membuatnya semakin bersalah.


"Beruntungnya Sakti dicintai istrimu. Sementara aq ini apa? Tidak ada yang mencintaiku? Aq tetap sendiri berjibaku dengan pekerjaan. Seburuk inikah nasibku" Rutuknya pada dirinya sendiri. Sebab di usianya yang mau menginjak empat puluh belum menikah juga. Dokter Richat lebih tua dua tahun dari Sakti.


Akhirnya jadwal kereta tujuan stasiun pasar Senen ke Semarang telah tiba. Keduanya naik tapi beda kursi. Kursi mereka membelakangi. Entah kebetulan atau disengaja padahal keduanya memesan tiket tidak bersamaan. Ketika pengecekan dokter Richat meminta pindah duduk di samping Arvi yang kebetulan kosong. Suka tidak suka mereka duduk bersebelahan.

__ADS_1


__ADS_2