
Pertengkaran antara Sakti dan Bu Hanna masih ternyiang-nyiang dikepalanya. Ada rasa bangga di dirinya jika Sakti mencintainya dengan tulus tapi ada hati yang tersakiti.
Kata cerai yang diserukan Bu Hanna membuatnya berpikir keras. Sebegitu cintanya Bu Hanna pada Sakti hingga meminta Sakti menceraikannya. Batinnya berkata"Serendah inikah harga diriku"
Sepulang dari Kantor Arvi tak ingin menambah beban pikiran Sakti. Ia bersikap seperti biasa.
"Mas jika jadi ke Manokwari aq dirumah aja ya?"
"Kamu tidak ingin ketemu ibuku? "
"Aq belum siap mas"
"Bukankah kita sudah bahas soal ini? Kumohon turunkan egomu dek. Saya ga ingin kita debat dengan hal yang gak penting" Suara Sakti nampak gusar terdengar. Arvi bisa pahami itu.
"Iya. Tapi?"
"Pokoknya kita kesana aq tidak ingin dengar alasan apapun. Oh ya kalau ga ada halangan aq mau kita ke Semarang. Aq belum pernah ke sana"
Sakti meyakinkan istrinya. Arvi tersenyum mendengar rencana suaminya.
Suasana pagi di Kantor. Arvi mulai melaksanakan tugas hariannya. Ia sibuk menyusun semua surat atau pun proposal yang masuk ke DPRD selama seminggu ini. Sedari pagi ia agak sedikit pusing dan hawa ngantuknya tak tertahan lagi. Ia putuskan untuk pergi ke dapur umum untuk membuat secangkir kopi untuk mengusir rasa kantuk yang menggelayutinya.
"Arvi ada waktu saya mau bicara sebentar" Tegur Adi berdiri dibelakangnya. Rupanya Adi memanfaatkan kesempatan di dapur untuk mencari kebenaran akan berita tersebut.
"Kak Adi ngomong sudah apa yang mau ditanyakan mumpung ada aq. Kalau sudah diruangan urus kerjaan. Kak Adi mau kopi?" Jawab Arvi menawarinya kopi.
Adi mengangguk menerima tawaran kopi dari Arvi wanita pujaannya.
"Betulkah berita itu?"
__ADS_1
"Berita apa kak?"
Arvi mengaduk kopi hitam lalu menyodorkannya. Tanpa sungkan Adi meneguk kopi buatannya. Pas campuran kopi dan gulanya.
"Pasti Kak Adi mau tahu soal kabar itu?" Lanjutnya menatap sendu wajah ganteng Adi. Arvi tersenyum menatap Adi yg penuh harap.
"Kamu tidak suka aq tanya soal kebenaran gosip itu"
Arvi masih tersenyum cantik menatapnya.
"Senyuman ini memabukkan hatiku" Batin Adi teriris jika memaknai senyuman itu.
"Walau sakit aq harus mendengarnya secara langsung bukan dari gosip orang-orang yang belum tentu kebenarannya" Bisiknya menyemangati dirinya sendiri. Dalam benaknya berharap jika itu hanya isu yang menyesatkan.
"Saya tak tahu harus mulai dari mana".
"Aq mohon dek katakanlah" Pintanya seraya memohon pada pacarnya.
"Tentu kita masih bisa berteman" Adi mulai terbawa suasana. Rasa kecewa mulai menyelimuti perasaannya kini. Gadis ayu incarannya selama ini.
"Iya kabar itu benar adanya kami sudah menikah kak. Saya siap untuk dibenci dan dijauhi" Suara lembut itu keluar bak air mengalir tak terbendung dari bibir cantiknya.
"Aq tahu apa yang kalian pikirkan tapi itu kenyataan. Aq harap kejujuranku tidak membuat kak Adi terluka atau ada pihak-pihak yang tersakiti. Secara pribadi aq minta maaf" Lanjutnya menatap wajah Adi penuh kekecewaan.
Sesak pun memenuhi relung hatinya.
Arvi mengulurkan tangannya tapi Adi belum menyambut ulurannya. Rupanya selama ini ia salah mengartikan kebaikan gadis ayu asal Semarang itu.
Melihat Adi terdiam sejenak menahan sakit dihatinya. Arvi pun hanya bisa terdiam.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak cerita?"
Batin Adi terkoyak mendengar pengakuan Arvi.
Kejujurannya bak petir yang menggelegar di siang hari. Adi menyadari setiap orang tidak ingin privasinya diumbar. Arvi juga bukan gadis yang bodoh ia pintar dan cerdas. Cara kerjanya juga cekatan kalau di kantor. Yang ia sesalkan ia kalah langkah dari Pak Kabag.
"Rupanya gadis cantik itu lebih terpikat dengan pria tua itu dari pada yang masih muda seperti dirinya" Batinnya bergejolak.
"Maafkan aq bukan maksudku untuk..."
Ucapannya terhenti tiba-tiba Arvi jatuh pingsan tak sadarkan diri. Kebetulan ada OB Iwan lewat mengambil lap kain di dapur. Segera keduanya mengangkat Arvi. Dibenak Adi merasa bersalah atas kejadian tersebut. Arvi pingsan gara-gara dia.
Adi tampak kalut dengan keadaan Arvi yang pingsan tiba-tiba. Mereka membawa Arvi keruang kerja Pak Ketua. Sebab disana ada sofa panjang.
Ada pepatah nasi sudah menjadi bubur menyesal pun percuma jika dia menjadi milik orang. Rasanya sakit memang. lima bulan ia lakukan pendekatan tapi ternyata milik orang. Adi berharap penuh tapi akhirnya pupus.ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Sakit.... sakit hatiku...
Tuhan ikhlaskan hatiku
Tuk bisa melepasnya
karena ku masih sangat mencintainya
Semoga kubisa
Melupakan dirinya
Karena ku masih sangat mencintainya
__ADS_1
Huuu...Memcintainya
(Via vallen)