AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
Berangkat Jalan Dinas


__ADS_3

Sore itu Sakti putuskan berangkat ke Manokwari lewat jalan darat sebab tidak ada jadwal pesawat. Pesawat tujuan ke Manokwari seminggu tiga kali. Jadwal pesawat ke Manokwari adanya besok pagi sementara kegiatan sudah dimulai. Mau tidak mau ia harus turun sore hari ke Manokwari.


Dengan berat hati ia meninggalkan sang istri sendiri untuk jalan dinas. Sakti sempat menghubungi Kakak Iparnya untuk meluangkan waktu ke rumah. Arvi orangnya pemalu segan untuk merepotkan orang lain.


Rencana semula ia ingin membawa sang istri bertemu dengan ibu serta saudaranya tapi sang istri yang berbadan dua terpaksa ia batalkan.


Sakti mempersiapkan apa saja yang harus dibawa selama di Manokwari.


"Mas lamakah ke Manokwari?" Tanyanya sedikit manja pada sang suami.


"Kenapa dek?"


"Jangan lama-lama ya?" Bisiknya ke telinga.


"Belum juga berangkat sudah tanya jangan lama-lama. Dek aq ini kerja bukan mau jalan-jalan"


Sakti merangkul Arvi mencoba untuk menenangkan pikirannya. Berapa kali ia mencium kening istrinya.


"Aq makin gak tega ninggalin kamu sendiri dek? Dengarkan mas kalau kamu takut jangan kemana-mana dirumah saja. Nanti mas suruh kakak kerumah temani kamu"


"Ga pa-pa mas, tapi jangan lama-lama ya"


"Sebetulnya mas mau kamu ikut biar gak kepikiran tapi kondisimu gak memungkinkan ikut perjalanan jauh"


"Mas titip salam kenalku buat ibu disana. Katakan aq baik-baik saja"


"Itu pasti sayang. Oh ya kamu mau oleh-oleh apa dek dari sana?"


"Aq mau mas sehat pulang dengan selamat"


"Hanya itu saja?"


Arvi mengangguk tersenyum pada sang suami.


"Tin...Tin...Tin..." Suara klakson mobil yang dipesan Sakti telah datang.


"Nah mobil jemputan ku sudah datang. Mas berangkat dulu e" Suara Sakti menyandarkan ciuman dikeningnya.

__ADS_1


"Met siang pak barang yang mau dibawa mana saja?" Tanya Pak Sopir.


"Ini mas" Sahut Sakti menunjuk koper dan tasnya.


Pak sopir dengan gesit mengangkat tas dan kopernya keluar.


"Jaga kandunganmu sayang. Aq titip si kecil hati-hati dirumah. Aq mencintaimu" Sakti mencium bibir sang istri dengan lembut.


"Hati-hati mas" Bisiknya memeluk Sakti lalu mencium tangannya. Tidak terasa air matanya jatuh melepas sang istri dirumah. Arvi hanya melambaikan tangan untuk sang suami. Mobil Hilux perlahan mulai melaju keluar dari pekarangan rumah membelah jalan utama. Lambaian tangan Arvi dibalas Sakti ketika jendela mobil dibuka.


Mobil yang ditumpangi Sakti rupanya masih singgah di beberapa penumpang lagi. Ada tiga rumah yang menjadi tujuan sang sopir.


Rumah pertama dan kedua Sakti mengenal mereka karena itu rumah rekan kerja di kantor. Sedangkan satu rumah lagi tidak dikenalnya.


Parasaan Sakti mulai tak enak ketika mobil yang dinaiki singgah di rumah Bu Hanna. Betul dugaannya dengan santai Putri Keuangan menunggu diteras rumah. Sakti yang duduk didepan mulai tidak nyaman. Tapi suka tidak suka sore ini harus turun. Sebab besok pagi mulai kegiatan.


Sakti hanya terdiam. Sepanjang jalan Sakti tidak menoleh ke belakang. Sakti asyik melihat pemandangan di luar. Ketika ia jenuh asyik dengan game di smartphone nya. Sakti menyimpan rasa jengkelnya ke dalam smartphone. Kedua rekan kerjanya pun merasa risih dengan sikap Sakti yang terkesan cuek dan sombong. Ia hanya tidak suka keberadaan Bu Hanna satu perjalanan dengannya. Sakti hanya menghindari hal-hal yang menimbulkan keributan.


Sementara Bu Hanna yang mencoba untuk menggoda lelaki pujaannya tak mendapat respon sedikit pun dari Sakti. Terkesan seperti Tom and Jerry. Melihat sikap Sakti yang cuek bebek Bu Hanna makin jengkel. Jangankan melihat melirik pun ke arahnya juga tidak. Bu Hanna merasa usahanya untuk tetap mengejar Sakti sia-sia.


Tibalah ditempat tujuan. Sakti menuju lobi Hotel tempat mereka akan mengadakan kegiatan. Bu Hanna mengekor di belakang.


"Mas kenapa buat aq begini? Apa salahku?" Ungkitnya lagi.


"Stop stop..stop aq gak mau bahas lagi. Please Bu Hanna hentikan semua ini. Aq ingin hidup tenang dengan istriku" Tutur Sakti menghentikan langkahnya. Keduanya saling berhadapan.


"Saya tidak iklas sampeyan nikah. Mas harus ceraikan dia kita harus menikah" Kata itu mulai mengusik ditelinganya.


"Aq bukan boneka yang bisa semau Bu Hanna inginkan. Sampai kapan pun saya tidak akan pernah menceraikan dia" Tegas Sakti setengah melotot. Ia emosi sekali mendengar permintaan Bu Hanna


"Bukankah kita tidak ada hubungan apa-apa hubungan ini hanya sebatas teman kerja" Sakti pun melangkah gak menggubris Bu Hanna karena pegawai hotel sudah memperhatikan mereka.


"Baru datang belum kegiatan sudah bikin masalah" Batin Sakti menggerutu sendiri. Sebetulnya ia ingin mengamuk tapi ia sadar diri jika ini tempat umum.


Segera ia masuk sesuai nomor kamar yang diberikan pihak hotel. Sakti lalu membaringkan badan ke atas kasur. Ia tampak lelah perjalanan yang menguras waktu dan tenaga.


Waktu menunjukkan jam sebelas malam pasti istrinya sudah tertidur. Dalam benaknya tidak ada salahnya jika ia memantau keadaan sang istri dirumah.

__ADS_1


Panggilan masuk terlihat di layar smartphone Sakti. Raut capeknya berubah drastis. Rupanya Arvi terlebih dahulu menghubunginya.


"Assalammualaikum Mas sudah nyampe hotel?" Sapa Sang istri dari seberang telpon.


"Waalaikum Salam. Iya ini barusan nyampe. Sekitar lima menit yang lalu" Jawab Sakti tersenyum.


"Kamu baik-baik saja kan dek? Mas kawatir loh"


"Justru aq yang kawatir mas bepergian jauh?"


"Kenapa pertanyaanku gak dijawab dek?"


"Aq Sehat dan baik mas"


"Aq seneng dengarnya. Tadi mas mau hubungi kamu eh keburu kamu telpon duluan"


"Masih muntah dek tadi?"


"Masih mas"


"Koq jawabnya singkat-singkat kamu sakit dek?" Tanya ulang keadaan sang istri.


"Mas mau aq teriak-teriak biar tetangga dengar?" Canda Arvi membuat Sakti tertawa terkekeh-kekeh dengar Omelan istrinya.


"Maaf...Mas kawatir sekali. Oh ya mas mau bilang ke kamu tadi waktu berangkat satu mobil dengan Bu hanna "


"Oh"


"Hanya itu saja tanggapanmu dek?"


"Lalu aq harus gimana mas?"


"Coba bilang jangan dekat-dekat atau apalah? Syukur kalau ada rasa cemburu sama mas" Gerutu Sakti terdengar sang istri tertawa dari seberang sana.


"Aq yakin dan percaya mas"


"Aq seneng mendengarnya. Aq mencintaimu selalu muuah muuah muuah" Sakti mencium smartphone seolah-olah ia ingin mencium sang istri yang jauh.

__ADS_1


"Asal mas gak neko-neko? Aq percaya sama mas" Imbuh Arvi seraya menggoda suaminya.


"Neko-neko apa dek? ini loh kegiatan kantor, kalau bukan karena kantor mas ogah berangkat lebih baik dirumah sama istri. Ada yang masakin, temani makan, temani tidur dan ada yang bisa dipeluk". Ungkit Sakti sembari menguap.


__ADS_2