
Arvi menunggu suaminya kerja sampai ketiduran di kantor. Mau menyusul ke ruang kerja suami tidak enak hati takut banyak yang lihat. Makanya ia putuskan untuk tidur diruang kerjanya. Padahal banyak pegawai yang sudah pulang ke rumah. Ingin menghubungi suaminya tapi takut ganggu. Sakti type orang pekerja keras, ulet dan cermat kalau belum selesai pantang mundur. Bahkan kalau senggang main game bisa dari pagi sampe sore.
Sakti asyik kerja sampai lupa waktu. Ia tersadar hari telah sore. Segera ia berbenah menyudahi pekerjaannya. Ia mau lanjut dirumah. Ketika hendak siap-siap pulang kerumah, Bu Hanna tiba-tiba datang ke ruangan.
"Mas aq ikut ya sampe rumah"
"Tumben gak bawa mobil?"
"Lagi di bengkel. Oh ya mas katanya sakit?"
"Kamu yakin mau pulang sama aq"
"Yakin mas"
"Sedikit lagi ya aq kemasi ini"
Bu Hanna dengan setia menunggu Sakti mengemasi pekerjaannya.
Sakti berjalan menuju tempat parkir. Jarak tempat parkir sekitar lima puluh meter dari ruang kerjanya. Sebelum ke tempat parkir Sakti meminta istrinya untuk bersiap-siap karena sudah jam pulang kantor. Sakti tersenyum tatkala melihat istrinya ketiduran di kantor. Di balik wajah lelahnya ia tetap cantik mempesona. Sakti ingin menggandengnya tapi Arvi menolak karena masih ada beberapa pegawai yang masih ada di Kantor.
Sakti meminta Bu Hanna menunggu di depan kantor saja karena mobil akan mutar ke depan lobi. Tidak mungkin ia menyuruh Putri Keuangan untuk jalan kaki ke tempat parkir.
Tidak butuh waktu lama mobil keluar dari tempat parkir melaju memutar ke lobi kantor. Bu Hanna dengan cantiknya menunggu kedatangan Sakti.
__ADS_1
Mobil dinas pun berhenti tepat di depan. Ketika hendak membuka pintu depan mobil Bu Hanna terkejut rupanya ada Arvi di dalam. Arvi tersenyum menyambutnya tapi di balas dengan wajah sinis. Menyadari hal itu Arvi bergegas mengalah keluar dan mempersilahkan atasannya masuk dan ia duduk kebelakang.
Selama dalam perjalanan Arvi hanya tertunduk diam menyaksikan suaminya digoda putri keuangan. Dia tidak mampu untuk mencegah atau mencoba melabraknya. Sesekali matanya melirik mencuri pandang suaminya. Rasa cemburu memporak porandakan hatinya. Tanpa rasa sungkan Bu Hanna bersandar di bahu Sakti. Sakti tersenyum menyaksikan betapa istrinya sangat cemburu terhadapnya.
Baru Arvi sadari jika Putri Keuangan yang pernah ia buatkan teh dirumah tempo hari rupanya menaruh hati pada suaminya. Putri Keuangan sebutan buat Bu Hanna dari orang-orang kantor. Sakti hanya melirik istrinya dari kaca dalam mobil yang terpantul. Bu Hanna sangat agresif tak peduli ada Arvi di belakang. Sikap Bu Hanna yang agresif membuat Sakti risih apalagi ada istri yang menyaksikannya. Sakti semakin yakin jika Arvi sangat mencintainya terlihat dari sikapnya di mobil. Bahkan ia mencoba untuk mengalihkan pandangan ke luar tidak tertuju pada keduanya.
"Maaf Bu Hanna rasanya tidak etis ada anak buah" Sakti mencoba mengingatkannya.
"Lagian Pak Sakti pake bawa dia segala. Bukannya dia anak buah Pak Ketua" Sahut Bu Hanna melirik ke belakang.
"Kasihan Bu Hanna dia pulang sendirian makanya saya ajak pulang bareng" Sakti mencoba mengeluarkan alibi untuk istrinya.
"Saya ini heran dengan mas Sakti jangan terperdaya dengan tampang lugunya ini anak honor. Dia hanya memanfaatkan sampeyan. Biasa anak honor biar dikasihani" Lanjutnya dengan sinis dan ketus.
Mendengar celotehnya Bu Hanna yang gak mengenakkan berapa kali Arvi menelan ludahnya.
"Loh katanya pulang koq mampir?" Sahut Sakti mengingatkan istrinya penuh curiga.
"Barusan saya ditunggu Pak. Terima kasih semuanya" Jelasnya tanpa memandang wajah suaminya.
"Sudahlah mas kasih turun saja. Emang dia siapakah gak penting banget". Sahutnya ketus tanpa mempedulikan perasaan Arvi.
Arvi sengaja turun dari mobil tak tahan dengan kata-kata ketus dari Bu Hanna. Butiran air matanya tak kuasa jatuh membasahi pipinya yang halus. Ia menangis sesungukan mengingat perkataan Bu Hanna di mobil. Rasanya ia ingin berlari memeluk ibunya yang jauh di Semarang. Ada beberapa orang yang kebetulan melintas memperhatikannya menangis. Arvi berjalan beberapa langkah begitu mobil dinas tidak terlihat segera ia memanggil mas ojek mengantarnya ke tempat kost.
__ADS_1
Sampailah mas ojek mengantarnya pulang ke tempat kost. Arvi mengeluarkan uang dari dompet di tasnya untuk membayar mas ojek. Terlihat pintu kostnya terbuka sebab sudah ada tiga hari ia tak pulang ke tempat kost.
"Pasti kak Santi sudah pulang dari pulau" Batinnya tapi kenapa dia tidak menghubunginya.
Arvi berjalan lurus menuju tempat kost yang terbuka. Langkah kakinya ia percepat. Tak sabar ingin memeluk teman dekatnya. Betul saja Santi ada duduk diruang tamu. Santi tumben sekali lekas balik biasanya sampai tiga Minggu. Belum ada seminggu ia sudah balik lagi.
Melihat Santi, Arvi berlari memeluknya. Tidak biasanya Arvi menyambutnya dengan Isak tangis. Santi ingin mengintrogasinya. Apa yang sebenarnya terjadi pulang kerja dengan mata sembam. Arvi terlihat kecewa dan sakit hati sekali. Seribu pertanyaan ingin ia hujankan tapi melihat Arvi menangis ia urungkan. Santi mencoba untuk menenangkannya dengan memberikannya segelas air untuk diminum.
Sejak dari pulang kerja Arvi tertunduk lesu dan murung Lalu Santi memintanya untuk mandi. Bergegas Arvi membersihkan diri dan tak lupa ia menjalankan kewajibannya untuk ibadah sholat magrib. Beberapa kali panggilan masuk atau pesan lewat Whatshup tapi ia tak menyentuh Hp baru yang diberikan Sakti. Ia hanya terdiam di kamar. Tak ingin temannya larut dalam kesedihan. Santi mencoba mengajaknya bicara.
"Arvi yuk kita cari makan! Sudah lapar aq"
"Kak Santi makan sudah saya masih kenyang"
"Arvi kamu kenapa jangan siksa diri gitu pake gak mau makan segala. Ada masalah apa coba cerita?"
Arvi tertunduk diam sesekali ia menyika air mata yang jatuh di pipi.
"Ceritakan semuanya kalau bisa membuatmu sedikit tenang" Pinta Santi.
"Aq tidak tahu harus mulai dari mana. kalau dengar ceritaku pasti kamu akan merendahkanku juga" Sahut Arvi masih bersedih.
"Arvi aq ini temanmu kenapa kamu bicara seperti itu?"
__ADS_1
Sela Santi duduk di sampingnya.
"Aq sakit hati sekali Santi" Suara tangisnya kembali pecah tidak terbendung lagi. Santi kembali memeluk temannya. Beribu pertanyaan ingin ia utarakan tapi Arvi masih menangis sedih.