
Berita yang penuh kontroversi dan sensasional muncul di media online.Tidak butuh waktu lama berita tersebut menggelinding bak bola liar. Entah siapa yang menyebarkan pertama kali kabar itu hingga menjadi trending topik di Kota D?
Siapa yang tidak malu dengan pemberitaan tersebut.
****Seorang oknum ASN inisial SPS Kabag persidangan Sekwan Kabupaten D tertangkap basah telah melakukan tindakan asusila di hotel**** ****diwaktu jalan dinas****
Bahkan ada berita yang lebih membuat mata terbelalak lagi bikin geleng-geleng kepala.
Sakti Kabag Persidangan Kabupaten D yang begitu berdedikasi rupanya pelaku tindakan asusila di mana korbannya adalah teman ******sekantornya******.
Oknum ASN di Pemda Kab D berkelakuan bejat dilaporkan ke Kantor Polisi oleh sesama rekan kerjanya karena melakukan ruda paksa
Sudah pasti karena berita itu menyita perhatian teman, rekan kerja Sakti serta masyarakat di Kota D hingga menjadi headline koran lokal.
Walau kota Kabupaten D terletak di wilayah Papua informasi tersebut begitu cepat menyebar baik media cetak ataupun elektronik.
Ditempat terpisah.
Arvi yang tak tahu menahu soal berita tersebut kena imbasnya juga. Arvi berencana masuk kantor sebab sudah dua hari ia ijin tidak masuk kantor karena sakit. Arvi juga tidak betah dirumah sendiri tidak bikin apa-apa. Jiwa kerjanya memberontak. Walau ia hamil muda tapi mampu mengerjakan semuanya.
Hari itu Arvi masuk kantor seperti biasa. Tidak terbesit sedikit pun berita miring tentang suami dan Putri Keuangan. Sewaktu memasuki lobi kantor. Ada pemandangan yang tak biasa dilihatnya. Entah kenapa sewaktu sampai di lobi rekan kerjanya berkumpul di beberapa titik. Mereka tampak asyik bergosip ria. Terdengar gelak tawa setengah mengejeknya.
"Apa sih yang mereka bahas tampaknya serius sekali?" Batin Arvi bertanya-tanya.
"Pagi-pagi sudah bergosip ria macam tidak ada pekerjaan saja" Lanjutnya dalam hati melihat lurus kedepan tapi dari percakapan mereka tertuju untuknya.
Terdengar seseorang menyaut dengan kencang.
"Tidak sesuai dengan penampilan sok berwibawa padahal Ca**l"
"Mungkin dia tak tahan jauh dari istrinya yang lagi hamil hingga harus Meruda paksa putri keuangan"
Sindirnya dengan lantang dan angkuh.
__ADS_1
"Percuma juga punya istri muda cantik ternyata suaminya tukang selingkuh"
"Ha ha ha...!" Tawa mereka beramai-ramai.
Arvi menoleh dengan pandangan penuh tanda tanya.
"Apa maksud mereka?? Apa aq yang terlalu baper? Kata orang wanita yang lagi hamil sangat sensitif sekali" Batinnya berkata penuh rasa. Hatinya dag Dig Dug gak karuan.
Tiba-tiba dari arah belakang Adi menepuk bahunya. Tentu membuyarkan pikirannya yang agak kacau. Rupanya Adi memperhatikan Arvi sejak tadi. Adi mendengar sindiran rekan-rekan kerjanya.
"Selamat pagi Arvi "
"Hai..Kak Adi bikin kaget saja. Selamat pagi juga" Sahut Arvi tersenyum dengan manisnya. Sejak malam itu mereka tidak pernah ngobrol.
"Eh aq ada sesuatu untukmu!" Ucap Adi mencoba mengalihkan pandangan Arvi ke rekan-rekan kerja yang asyik bergosip.
"Apa itu kak? Jangan bikin aq penasaran?" Tanya Arvi yang masih terlihat manja menggoda. Hal itu yang membuat Adi jatuh hati padanya.
"Baiklah mari kita keruangan" Ajak Arvi dengan penuh semangat. Mereka berdua berjalan beriringan.
"Suami ada jalan dinas sang istri tak mau kalah bermain api dengan yang lain. Pasangan yang sempurna dasar tukang selngkuh apa saja dilahap gak tua atau muda mau saja" Sindir wanita itu menggebu-gebu.
"Hahahaha"
"Macam dia pura-pura bodoh atau dungu dengan pemberitaan ini?"
"Cantik-cantik tapi materialistis. Seleranya bos-bos" Lanjut sindirnya diiringi gelak tawa mereka.
Arvi menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah wanita itu bicara.
"Ya Tuhan apa yang di maksud itu aq??" Tanyanya dalam hati. Arvi sangat penasaran sebab sedari tadi masuk lobi kantor. Sindiran demi sindiran mengarah padanya.
"Arvi Ayo kita ke ruangan!" Ajak Adi mengingatkan Arvi.
__ADS_1
"Memangnya ada apa toh kak Adi koq dari tadi yang kudengar suaranya bikin sesak?"Tanya Arvi lirih tapi masih terdengar ditelinga Adi.
"Entahlah aq sendiri juga tidak tahu? Jangan dengar omongan mereka" Pinta Adi mengajaknya ke ruang kerja mereka.
Akhirnya Arvi dan Adi terus melangkah meninggalkan rekan kerja yang asyik bergosip ria. Walau terdengar suara-suara sumbang. Keduanya terus berjalan menyusuri lorong Kantor DPRD yang begitu megah dan mewahnya.
Walau ada rasa ragu dan was-was dipikirannya. Arvi berusaha untuk membuangnya sejauh mungkin. Karena ia yakin dan percaya jika Tuhan selalu ada bersamanya.
Sesampai di depan pintu ruang kerja Pak Ketua Adi mengeluarkan sesuatu dari tas kerjanya. Sebuah bungkusan kantong plastik hitam. Tidak tahu apa itu pasti Arvi sangat menyukainya.
"Apa ini kak koq berat ?"
"Aq yakin kamu menyukainya"
Arvi mencoba ingin membukanya tapi Adi melarangnya.
"Jangan buka di sini didalam ruangan khusus untuk kamu. Spesial buat bumi" Seru Adi tersenyum hangat.
"Terima kasih kak. Ternyata kak Adi tidak berubah" Celetuknya dengan senyum sumringah.
"Walau aq tidak bisa memiliki hatimu setidaknya aq menjadi teman terbaikmu" Suara Adi mengingatkan akan kejadian tempo hari dimana ia pingsan. Arvi tersenyum malu. Ada perasaan bersalah yang menyeruap dihatinya.
"Aq tahu tidak ada pertemanan yang sejati antara laki-laki dan wanita yang sama-sama dewasa yang ada hubungan sesuatu yang lebih dari itu. Tapi saya tidak merasakan itu di kak Adi. Kak Adi baik. Sangat baik. Beruntung sekali wanita yang menjadi istrinya" Tutur Arvi dengan wajah sendunya. Adi menghela nafas panjang. Terasa berat dan sesak di dada.
"Begitupun dirimu Arvi kamu sangat cantik dan juga cerdas. Beruntung sekali Pak Sakti memilikimu. Hingga aq yang ganteng dan muda ini tidak mampu memikat hatimu" Ucap Adi masih tidak percaya dengan hubungan Arvi dan Sakti yang telah menikah.
"Kuakui aq kalah dari dia" Lanjutnya dengan rasa kecewa.
"Kak Adi tidak kalah. Kak Adi aja yang tidak mau membuka hati dan pikiran untuk orang lain?" Sindir Arvi tersenyum. Sinar matanya yang begitu teduh membuat siapa saja larut ke dalam.
"Jangan membuatku geer Arvi" Kilah Adi masih berharap ada keajaiban datang padanya.
"Jika begitu terus kapan Kak Adi akan menemukan pujaan hati. Tapi terima kasih loh hadiahnya" Suara Arvi mencoba mengalihkan percakapan mereka. Sebab sosok Rina terlihat mendekat ke arah mereka dari pantulan kaca yang ada di samping. Hal itu pun di sadari oleh Adi rekan kerjanya di Komisi A.
__ADS_1