AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
Prananda Sakti Junior


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul dua malam perutnya terasa sakit. Suaminya tidur dengan pulasnya. Arvi tahu jika sang suami juga capek. Ia tak ingin mengganggu waktu istirahatnya . Tapi rasa sakit itu kian menyerangnya. Ia tak tahan.


"Mungkin ini yang setiap wanita rasakan mau lahiran normal" Gumamnya menahan sakit. Arvi mencoba miring ke kanan ke kiri tapi tidak ada perubahan. Dengan menahan sakit yang luar biasa ia meraih tangan dokter Richat.


"Mas bangunlah! Bantu aq sepertinya aq mau melahirkan" Seru Arvi menggigit bibir bawahnya menahan sakit.


Kontan dokter Richat pun terjaga dari tidurnya. Ia menggosok kedua matanya untuk memperbaiki pandangannya. Segera ia meraih kacamata yang ada diatas meja. Ia melihat istrinya mengerang kesakitan.


Tanpa pikir panjang dokter Richat lalu membopong sang istri keluar dari kamar. Sepertinya Arvi mau lahiran mengingat usia kandungan yang sudah menginjak sembilan bulan.


Mendengar gaduh dari kamar mereka. Bibik pun terbangun. Ia mendengar Arvi kesakitan. Menyadari anak majikannya mau lahiran. Segera ia berlari membawakan tas yang telah mereka persiapkan jika sewaktu-waktu Arvi lahiran. Pak Hartono pun ikut menyusul dari belakang. Sementara dokter Richat, Arvi dan bibik lebih duluan berangkat menuju rumah sakit.


****


Diruang VVIP


Bayi mungil berjenis kelamin laki-laki tampak tertidur dengan pulasnya. Sang bunda dengan kasih terus mendekapnya. Rasanya ia tak rela melepaskan dari dekapannya. Sementara suaminya tertidur di sofa dengan Sononya.


"Mas Sakti anak kita sudah lahir hanya ini yang tersisa. Aq janji akan menjaganya dengan setulus hati.

__ADS_1


"Walau engkau telah tiada didunia Sakti junior akan selalu bersamaku. Aq yakin engkau dapat mengerti dan memahami keadaanku saat ini. Sampai kapan pun aq selalu dan akan mengingatmu tanpa batas waktu"


"Seberapa jauh aq melangkah bayanganmu terus menyertaiku. Maafkan aq jika harus mengikuti keinginan ayahku. Semua ini demi buah hati kita"


"Mungkin bagi sebagian orang aq adalah wanita yang tak setia mudah berpaling darimu. Walau kebersamaan kita hanya sesaat tapi aq tidak menyesal telah mengenalmu. Bahkan jika diberi kesempatan hidup kembali aq ingin bersamamu saja. Bagiku semua kenangan itu begitu indah dan berkesan. Perlu kau tahu jika semua ini demi nama baik keluargaku. Kulihat dokter Richat begitu tulus" Ucapnya dalam hati.


Pandangannya ia alihkan pada dokter Richat yang tertidur pulas.


"Maafkan aq dokter Richat jika hatiku tidak bisa berpaling dari Sakti. Aq tak tahu kata apa yang harus kusematkan untukmu engkau begitu tulus menjaga dan merawat kami. Maafkan aq jika tidak mampu membalas semua kebaikanmu. Kau menyelamatkan harga diri keluargaku. Maaf.." Batinnya berkata tapi lidahnya tak mampu berucap. Ia tak ingin menyakitinya lebih dalam lagi. Apalagi dokter Richat sangat perhatian.


Betapa ia sangat memuja Sakti. Ia masih mendekap bayi mungil yang dini hari ia lahirkan secara normal.


Tujuh tahun berikutnya.


"Junior!!" Teriak mamanya kebingungan. Ia takut jika anak si mata wayangnya hilang atau diculik orang. Arvi takut kehilangan dia walau sedetik pun.


"Yes mommy!!" Teriaknya penuh ceria menghampiri mommy nya.


"Ayo kita pulang pasti Deddy sudah menunggu kita dirumah" Jelas sang bunda memeluknya dengan sayang.

__ADS_1


"Mommy junior masih ingin main" Rengek Junior menolak permintaan mamanya.


"Tapi Deddy menunggu kita dirumah"Bujuk mommynya dengan lembut. Terlihat junior pasang muka cemberut.


"Mommy gak bohong?"Tanya Junior meyakinkan jika Deddynya ada dirumah.


Arvi mengangguk sambil menyunggingkan senyum bahagianya di hadapan anaknya.


Akhirnya Junior menuruti keinginan mommynya untuk segera pulang ke rumah sebab Deddy nya udah pulang dari tempatnya bertugas. Sebab Arvi sempat membaca pesan dari ponselnya jika ia telah dirumah menunggu mereka.


Perkenalkan bocil itu bernama Prananda Sakti Junior. Usianya belum genap enam tahun. Ia tergolong bocah yang cerdas. Wajahnya copy paste dengan Sakti versi bocil tapi kulitnya mengikuti mamanya. Dia jadi anak yang tampan dan menggemaskan. Siapa aja akan menciumnya saking gemasnya. Gen tidak dapat di hilangkan. Sifat dan karakter Junior mirip dengan Sakti. Tentu saja dokter Richat tahu jika apa yang ada di dalam Sakti menjelma di diri Junior.


Sengaja Arvi memakai nama Sakti bagaimanapun dia adalah ayah biologisnya. Semula Pak Hartono keberatan dengan nama itu, tapi atas nasehat dokter Richat beliau menyetujuinya. Dokter Richat tidak keberatan dengan nama sahabatnya itu. Dia sadar diri nama Sakti begitu merajai dalam hati Arvi.


Seharusnya dokter Richat sudah kembali bertugas di kota asalnya, sebab tugas belajarnya telah selesai. Namun ia belum kembali ke tempat dinasnya. Untuk sementara ia masih bertugas di rumah sakit tempatnya menimba ilmu. Sementara Arvi memilih menjadi seorang Aparatur Sipil Negara yang bertugas di Balai Kota. Ia menolak keinginan ayahnya menjadi pengusaha. Arvi merasa kurang cocok menggeluti dunia bisnis seperti kedua kakaknya.


Arvi belum siap kembali ke Papua. Kejadian tujuh tahun itu begitu membuatnya trauma. Ia pun tidak pernah berkomunikasi dengan sahabat-sahabatnya sewaktu kerja di DPRD. Arvi enggan bertanya kabar dengan mereka. Bukan tidak mengenal jasa dan kebaikan mereka tapi ia takut. Takut dengan kejadian malam itu.


Pernah dokter Richat membujuk Arvi untuk pindah tugas mengikutinya tapi Arvi menolak dengan alasan belum siap. Bukan karena faktor fasilitas di Semarang yang serba lengkap tapi ia masih trauma dengan kejadian itu. Dokter merasa harus lebih sabar dan mengerti keadaan istrinya. Padahal ia sudah dapat surat peringatan dari Kepala Dinas asalnya.

__ADS_1


__ADS_2