
Sakti bergegas mandi untuk siap-siap pergi ke kantor. Sebelum ke Kantor ia sempatkan ke Apotek membeli salf kulit pereda nyeri. Setahu dia salf merk ini lumayan manjur untuk meredakan luka memar akibat jatuh atau dipulul. Tak lupa ia membelikan Arvi untuk makan siangnya nanti karena ia akan pulang sore hari. Sebetulnya ia tidak tega membiarkan dirumah sendiri, tapi tidak ingin melepaskan kesempatan yang ada. Pikirnya kapan lagi ada waktu selain di Kantor yang formal. Ia ingin mengenalnya lebih jauh bukan hanya sebatas ASN dan tenaga baru honor. Sambil menyelam minum air he he he.
Begitu diolesi salf barangsur sakitnya berkurang. Sakti memintanya untuk istirahat dirumahnya. Soal kantor ia akan memintakan izin ke Pak Ketua.
Arvi sendiri dirumah karena ia sakit hanya berbaring dikasur. Sebetulnya ia menolak tak ingin merepotkan orang apalagi istri dan anaknya tak ada nanti yang ada jadi bahan gunjingan orang-orang di kantor pikirnya. Mana lagi sakit di perantauan keluarga jauh tidak ada mama bapak ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜.
__ADS_1
Ditepisnya pikiran buruk itu bergegas ia mandi untuk menyegarkan badan dan pikirannya. Setelah mandi ia bingung mau ganti baju apa, terpaksa baju tadi ia pake kembali. Dia tersenyum-senyum sendiri dengan kaos yang kedodoran ini. Untungnya gak ada orang yang lihat cuma si tuan rumah. Teringat dengan baju ia masih penasaran dengan siapa yang gantikan bajunya semalam. "Ya Tuhan ampun kalau itu Pak Kabag yang ganti? Dia udah melihat duluan tubuhnya" Bisiknya tertegun bercampur aduk. "Kalau bukan dia lalu siapa yang gantikan? Mau tanya tidak enak" lanjutnya bisik sendiri. Lalu ia meraih bubur yang telah Sakti siapkan dimeja. "Baik hati juga itu Pak Kabag mau masakin bubur dengan telur rebus" Perlahan ia menyantap bubur yang masih hangat itu dengan lahapnya karena semalam ia gak makan perutnya terasa pedis meronta-ronta minta diisi dulu. Melihat perlakuan Pak Kabag terhadapnya Arvi tersenyum bangga "Istrinya beruntung sekali dapat suami idaman" Lanjutnya tanpa ia sadari Arvi mengagumi sosok Sakti sebagai suami idaman.
Sesampai dikantor Sakti melapor kejadian semalam ke Pak Ketua via Hp. Beliau sangat terkejut dan memintanya istirahat sampe sembuh dulu. Beliau prihatin atas kejadian yang menimpa Arvi. Bahkan beliau marah sama Sakti kenapa tidak buat laporan ke Kepolisian biar ditangkap pelakunya, tapi Sakti menjelaskan Arvi tidak nyaman.
Kegiatan Rapat Bapemperda berlanjut seperti kemarin cuma hanya sampe jam dua siang. Banyak Anggota Dewan yang tidak hadir sehingga hanya dibahas sebentar akhirnya diskors dulu gak memenuhi forum. Buru-buru Sakti bergegas pulang ke rumah pikirannya gak tenang selama di kantor.
__ADS_1
"Ah tidak... Bukan itu?" Selanya tersipu malu
"Disini saja aq akan bertanggung jawab kalau ada apa-apa" Suara Sakti menegaskan. "Siapa yang akan menjagamu temanmu lagi ke distrik luar" Lanjutnya.
"Tapi mas saya gak enak repotin Pak Kabag" Sela Arvi memohon, Sakti mengusap mukanya." Saya ga merasa direpotkan ini masalah tanggung jawab sebagai atasanmu orang yang membawamu kerja. Dari awal aq ingin menolak permintaan Arie atas dasar aq tidak mengenalmu tapi Arie meminta atas dasar kemanusiaan saya bersedia membantumu. Baru satu Minggu adek kerja kena musibah apa mungkin saya lepas tangan begitu saja" Sahut Sakti bernada tegas dengan mata tajam kearahnya membuatnya mati langkah. "Kupikir kamu ada hubungan istimewa dengan Arie sahabat yang melebihi keluargaku sendiri " Lanjutnya melangkah dan mendekatnya. Dia utarakan secara langsung tentang perasaannya kepada Arie biar tidak penasaran. Hati Arvi menciut seketika, ingin menatap lelaki berambut putih didepannya tapi ia urungkan. Hatinya berdebar kencang. " Tidak kak Kami hanya te..man.."Suara lirihnya menjelaskan soal hubungan keduanya yang terhenti Ketika saling memandang. Arvi mengangkat wajahnya untuk memberanikan diri menatap atasannya. Spontan ia kaget wajah keduanya begitu dekat saling menatap hampir tidak ada jarak. Degub jantungnya berdetak kencang memburu rasanya ia ingin mencium dan ******* bibir seksi gadis cantik dihadapannya tapi ia batalkan. Perlahan Sakti mundur alon-alon tidak ingin melanjutkan lagi ulahnya. Terlihat Arvi tidak nyaman ia salting. " Suka tidak suka untuk sementara ikuti aturan ku ini perintah...!!!". Sambungnya perlahan mundur berjalan menuju ke kamar pribadinya. Sembari berjalan Sakti tersenyum senang mengingat kejadian tadi. "Masih begitu polosnya ini staf Pak Ketua" Batinnya lirih sembari tersenyum sendiri.
__ADS_1
Sakti bergegas kekamar pribadinya untuk ganti baju rumahan hanya memakai kaos dan celana pendek seperti biasa. Ia keluar dari kamar ingin makan siang. Sebelum ia pergi Sakti berjalan untuk mengecek kamar yang ditempati Arvi terlihat terbuka dan kosong. Hp nya pun tidak ada. "Kemana nih orang jangan-jangan dia pulang ngambek gak pamit" Gumamnya kawatir. Tidak ada orangnya dikamar Seketika Sakti panik cepat-cepat ia cek seluruh ruangan dirumah dari kamar mandi, ruang tengah, ruang tamu, teras depan sampe halaman parkir tapi ia tidak temukan. Akhirnya ia masuk ke dalam rumah lagi. Langkahnya terhenti ketika ia memasuki dapur yang letaknya disamping rumah terlihat Arvi duduk di teras belakang duduk bersandar di kursi panjang. Wajah pucat dan lusuh masih terlihat. Seketika perasaan lega dan tenang. Sakti hanya memperhatikannya dari dalam. Mungkin Arvi ingin merenung sendiri tidak mau diganggu. Tidak berapa lama terlihat dia menelpon seseorang. Entah siapa yang dihubungi tidak begitu jelas dan kedengaran dari dalam rumah. Sakti juga tidak ingin kepo dengan segala hal yang dilakukan Arvi dirumahnya.
Halaman rumah Sakti lumayan luas dan bersih. Kalau hari libur Sakti sempatkan membabat rumbut dan membersihkan pekarangan rumahnya. Ia lebih suka menanam buah dari pada harus menanam bunga butuh perawatan khusus dan ekstra. Gak heran dikala musim buah teman kantornya datang kerumah untuk memanen buah. Mulai buah jeruk manis, jeruk ikan, jeruk nipis, rambutan, pohon durian, pisang , mangga ada disekitar rumah. Baginya pohon yang ada disekitar rumah merupakan pelindungnya. Melihat mereka berbuah ada kebanggaan tersendiri secara ekonomis ia tidak perlu membeli buah dan ia suka berbagi dengan tetangga dan teman-teman kantor. Bibit ia peroleh dari Kakaknya yang ahli pertanian. Menanam buah ga perlu makan biaya banyak hanya butuh lahan yang luas tidak seperti menanam bunga butuh waktu ekstra dan perawatan khusus seperti urus anak bayi butuh perhatian.