AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
Seorang Wanita Cantik


__ADS_3

Pandangannya tertuju pada seorang wanita cantik membawa baki berisi secangkir teh buat tamu Sakti.


Dalam benaknya penuh rasa tanda tanya status wanita muda yang ada dirumah Pak Kabag "Buset selera Pak Kabag ternyata daun muda masih pucuk. Kalau istrinya kenapa orang-orang di Kantor tidak ada kasih info? Kalau anak buah Pak Ketua kenapa ada dirumahnya?".


Sikapnya berubah seketika terhadap Sakti begitu Melihat Arvi. Bu Hanna penasaran dengan sosoknya. Emang baru kali ini mereka bertemu di rumah Sakti. Selama tiga bulan di Makasar memang ada yang memberi info kalau ada anak baru orang bawaannya Pak Sakti yang kerja di ruangan Pak Ketua.


"Silahkan diminum tehnya Bu". Arvi menawarinya minum.


Lamunan Bu Hanna buyar seketika saat Arvi menawarinya secangkir teh manis.


"Siapa itu? koq ada dirumah" Tanya Bu Hanna penuh slidik memberi kode mata.


"Itu...."Sakti mencoba menjawab, tapi Arvi memotongnya.


"Saya saudaranya dari Manokwari" Suara Arvi memperkenalkan diri tapi dengan sinis ia tak ingin berjabat tangan dengannya.


Menyadari hal itu Arvi tertunduk dan diam mematung. "Inikah yang dimaksud Putri Keuangan??" Batin Arvi berbisik. Memang baru pertama kali mereka bertemu.


"Saya permisi dulu mas kebelakang" Pinta Arvi pamit ke dalam. Sebetulnya ia jengkel dengan tamu Sakti yang super belagu itu. Sakti gak menyangka kalau Arvi akan keluar bukankah tadi ia akan sembunyi.


"Mungkinkah istriku cemburu?" Batin Sakti tersenyum melihat Arvi bermuka jealous.


"Pak Kabag tinggal serumah dengannya?" Tanyanya lagi ingin tahu.


"Ti..dak. Kebetulan ia main kerumah dia kost" Jelas Sakti berbohong.


"Oh..Saya kira kalian serumah?" Tukasnya dengan nada jealous ke Arvi.


"Emang kenapa kalau kami serumah?"


"Ya pamali Pak Kabag nanti yang ketiga sh***ton "


Sakti tertawa ringan mendengarnya.

__ADS_1


"Pak Kabag mau kemana sih? Saya ikut ya"


"Ada acara dengan teman paling Bu Hanna bosen"


"Kalau dengan Pak Sakti saya ga bosen koq" Dengan pedenya merayunya. Dari ruang sebelah Arvi samar-samar mendengar percakapan mereka.


"Diminum dulu Bu Hanna" Pinta Sakti mengingatkan.


Begitu meneguk tehnya Bu Hanna pamit pulang dengan hati jengkel dan penuh umpatan dihati. Sebab Sakti menolak benda mewah tersebut. Sakti menyuruh membawanya balik. Sakti tak ingin ada imbal baliknya.


Bu Hanna tampak kesal dia uring-uringan di mobil. Pemberiannya selalu ditolak. Segala umpatan ia keluarkan saking jengkelnya dengan sikap Sakti yang menolak pemberiannya. Sebagai ASN Sakti berusaha untuk bersikap profesional tidak sembarang menerima hadiah


Begitu Bu Hanna pulang Sakti bergegas masuk kekamar mencari istrinya tapi tidak ada. Rupanya ada di teras belakang.


"Sedang apa dek?" Tegurnya mengagetkannya.


"Sudah pulang mas tamunya? Kenapa kamu tolak pemberian hadiahnya?"


"Untuk apa kita terima kalau membuat kita susah akhirnya"


"Maksud mas?"


"Kalau sekedar buah tangan kan ga mungkin semahal itu sayang".


"Ntar kena gratifikasi mas ".


"Iya kan bisa jadi grativikasi"


Arvi tersenyum bangga kalau suaminya masih memegang teguh sumpah dan janjinya sebagai abdi negara yang jujur dan setia kepada Pancasila dan Dasar Negara.


"Bagi ASN daerah itu tergolong barang mewah dek"


Sebetulnya ia ingin bertanya lagi tentang Bu Hanna tapi ia urungkan. Ada rasa curiga suaminya punya andil apa sampai dibawakan hadiah semahal itu.

__ADS_1


Malam hari Arvi dan Sakti tidak jadi keluar cari makan. Sepertinya alam tak memberi izin buat mereka. Karena hujan begitu lebat disertai angin kencang. Akhirnya mereka hanya makan nasi dan dadar telur.


Rasanya begitu nikmat makan sepiring berdua.


Sakti begitu lahap menikmati makan malam yang disajikan istrinya. Walau hanya berupa nasi dan telur dadar tapi nikmat rasanya. Apalagi kalau yang buat istri tercinta. Sakti tambah bangga tidak salah ia menikahinya. Rupanya dibalik sifat manja istrinya dia orang yang sabar tidak banyak menuntut. Terlihat dari beberapa bulan sejak mereka kenal. Sikap Arvi yang supel dan ga r


Alarm Hp berdering dengan kencangnya namun ia tetap memejamkan matanya. Ia nampak lelah sekali. Sakti bergegas mematikannya. Sakti bergegas ke kamar mandi membersihkan diri mengambil air wudhu untuk menjalankan ibadah sholat shubuh. Sakti tak ingin mengganggu istrinya yang terlelap tidur.


Selesai sholat Sakti bergegas menjalankan rutinitas seperti hari-hari biasa ke dapur menyalakan kompor masak air untuk buat kopi. Minuman kegemarannya. Sakti hampir tak pernah bertanya apa minuman kesukaan istrinya. Yang ia tahu istrinya suka nonton Drakor lewat smartphone.


Ketika Sakti mengaduk kopi buatannya terdengar suara langkah mendekat. Siapa lagi kalau bukan istrinya. Wanita yang baru tiga hari ini dinikahinya. Senyum manis menghias disudut bibirnya. Sakti pun membalas senyum istrinya. Tanpa dikomando istrinya perlahan mendekat dan memeluk erat tubuhnya. Sakti mencium kepalanya yang tersandar di bahu kanannya. Begitu manja Arvi menggelayutinya. Suasana sepi mulai sirnah dengan kehadiran istrinya. Rasa bahagia terlihat dari sorot mata keduanya.


"Mas hari ini kita sarapan apa?"


"Terserah dek. Emang bisa bikin"


Istrinya melotot mendengar ledekan Sakti yang meragukan kemampuannya masak.


"Kalau capek ya ga usah"


"Tapi ga cukup bahan mas?"


"Yang ada saja"


Arvi mencium kedua pipinya, Sakti tersenyum membalas.


Segera Arvi menjalankan aksinya masak nasi goreng dengan bahan yang seadanya.


Sakti memperhatikan kegiatan istrinya dari belakang. Ia tersenyum bangga rupanya Arvi bisa masak dengan bahan yang seadanya.


"Gak sia-sia aq memilihnya. Memang dia bisa walau gak sepintar chef setidaknya dia menguasai dapur" Batinnya berbangga diri.


Pagi itu keduanya sarapan dengan nasi goreng. Lalu keduanya mempersiapkan diri untuk berjibaku masuk kedunia kantor. Dunia yang serba formal. Yah siap-siap keduanya saling bersandiwara dihadapan satu kantor. Seolah-olah mereka patner kerja antara tenaga honor dengan PNS. Batin Sakti berkata bukan aq yang meminta tapi ini keinginan istrinya. Arvi belum siap dengan cibiran orang-orang terhadapnya.

__ADS_1


__ADS_2