
Rupanya Dinda menghubungi Arvi memintanya untuk pulang sebab ibunya telah tiada. Tapi lidahnya kelu untuk memberi kabar tentang sang ibu. Dinda merasa bersalah tidak mampu menjaga dan merawat sang mamanya. Sandaran hati itu telah berpulang. Tidak ada sambutan hangat dikala ia sungkem ke rumah. Rumah pun sepi tidak ada aktivitas didapur seperti hari-hari biasa ibunya lakukan. Pak Hartono sering menghabiskan waktunya berkunjung ke makam sang istri tercinta.????(
Ditempat terpisah.
Arvi menyempatkan diri untuk belanja. Tidak terasa sudah mau dua bulan Sakti tidak ada kabar. Perutnya pun mulai terlihat berisi. Tak lupa ia membeli kebutuhan untuk bumil. Ketika asyik membeli. Ia diam terpaku dimana lorong sebelah terdengar bisik-bisik membicarakan suaminya.
"Eh tahu tidak dia sengaja menghilang sebab dia terlibat kasus korupsi pembangunan gedung kantornya"
"Sudah mau dua bulan hilang tanpa jejak apa namanya kalau bukan kabur"
"Bisanya dih itu orang shok berwibawa santun macam dia sudah Abdi Negara yang paling jujur di Negeri ini. Rupanya srigala berbulu domba"
"Bukannya ada istrinya?"
"Istri jadi-jadian"
"Hahaha"
"Tapi baikloh anaknya rajin masuk kerja"
"Dia takut dipecat setelah suaminya menghilang gak ada yang kasih makan lagi"
"Husst jangan gitu kasihan dia lagi hamil"
"Untuk apa kasihan. Dia pantas dapat hukuman anak honor saja moo"
"Dia anak kesayangan Pak Ketua itu"
"Ya iyalah mungkin plus-plus"
"Hahahaha!!!"
__ADS_1
"Dia kira begitu Sakti menghilang dia bisa hidup enak. Salah bisa-bisa rumah itu disita koq Pengadilan"
"Yah dia jadi gembel dong"
"Tentunya. Gembel shok kecantikan dan shock pintar"
"Dia tidak takut itu dengan Putri Keuangan kita Belum tahu siapa boss kita"
"Hahahaha..!!"
"Siapa yang berani akan dilibas habis tak tersisa. Jika ia tidak pintar-pintar dia punya nasib akan sama dengan suaminya yang shock suci hilang tanpa jejak"
"Betulkah itu rumornya jika dia disingkirkan karena kasus mesum di hotel?"
"Bisa jadi kucing dikasih ikan asin mana nolak?"
"Kucing bodoh kalau nolak yang kasih Putri Keuangan ini?"
"Saya kira dulu itu dia penyuka sesama jenis deh sebab paling akrab dengan Iwan eh dengar rumor nikah dengan staf Pak Ketua Dewan. Alamak!!" Cerocosnya memukul testa.
"Gimana gak mau secara Sakti punya jabatan di Kantor punya tempat untuk bernaung. Wanita mana yang nolak"
"Tapi sebelum Sakti dapat kayaknya Adi anak Komisi A juga ada serang-serang dia itu. Pernah saya lihat mereka begitu dekat sekali kayak orang pacaran"
"Bukannya Adi dan Rina juga dekat kayak orang pacaran juga? Eh Rupanya yang di incar Kabag toh"
"Bisa jadi dia umpan Sakti untuk merayu Pak Ketua untuk mendapat kepercayaan dari Pak Ketua. Kamu tidak lihat jika Sakti begitu dekat dengan Pak Ketua?"
"Yang jelas itu Arvi wanita gak benar. Coba kalian pikir jika dia wanita baik-baik dari keluarga terpandang masa setuju nikah dengan pria yang sudah berumur pantasnya jadi bapaknya" Jelasnya penuh dengan nada mengejek.
"Itu lagi. Kalau aq punya anak gadis aq jagain gak sembarangan pria mendekat anakku" Potong salah satu dari mereka.
__ADS_1
"Emang anakmu cantik?" Goda sang teman bercanda.
"Cantiklah mengalahkan Putri Diana" Sahutnya membanggakan sang anaknya jika kecantikannya gak kalah dengan Putri Diana
"Huuuuu!!! Dilihat dari Jayapura pake mikroskop kali" Sindir salah satu dari mereka yang begitu antusias dengan gosipan mereka.
"Emang anakku cantik koq tapi sepuluh tahun yang akan datang" Sahutnya sembari mengelus anak kecil yang ada di sampingnya. Sementara sang anak sudah terlihat bosen dengar gosipan mama-mama rempong yang ada di hadapannya.
"Tapi saya dengar-dengar gosip dia itu anaknya orang kaya loh" Salanya
"Kaya dari mana? Dari Hongkong?? Kalau dia kaya koq tinggal kost patungan dengan teman, minta dicarikan kerja, naik ojek, mau kerja honor. Nah yang aneh ni mau tinggal di kota kecil. Bukannya biasanya orang kaya tinggal di kota besar mewah. Saya curiga dari asalnya itu perempuan gak bener deh"Protesnya penuh semangat menggunjingkan teman sekantornya.
"Siapa tahu toh Putri yang menyamar jadi orang miskin" Sela tamannya menggoda.
"Ih tidak mungkinlah tidak ada yang bisa mengalahkan Putri Keuangan secara gituloh"
"Hahahaha"
"Kita lihat saja jika dia tidak beranjak pergi dia dan anak yang dikandungnya akan bernasib sama dengan Sakti hilang tidak ada jejak. Punah sudah generasinya. Berharap apa disini paling rumah dan tanah itu juga disita koq" Suara wanita berbadan subur sembari menunjuk jari tangannya ke arah dua sahabat gosipnya.
"Betul itu!!" Sahut temnanya.
"Mama jangan cerita terus kapan kita belanjanya?" Protes sang anak sudah dari tadi mendengar gosip-gosip yang tak berfaedah.
"Huusst!" Suara mamanya memberi kode untuk menutup mulut sang anak.
"Tapi saya bosan mama! Cerita itu lagi bikin telinga sakit"Sahut sang anak begitu polosnya sementara sang mama melotot ke arah anaknya.
"Kita sambung lain kali sudah anakmu ada tegur itu!" Ucapnya mengakhiri percakapan mereka. Akhirnya mereka melanjutkan kegiatan belanja mereka masing-masing.
Mereka tidak mengetahui jika apa yang mereka gunjingkan sedari tadi Arvi dengar dari A sampe Z. Titik koma semua Arvi dengar. Begitu jahat dan kejamnya mereka bicara tentang suaminya. Hingga berapa kali Arvi harus mengusap air matanya. Bisa saja Arvi melabraknya mereka secara langsung tapi ia urungkan. Jika ia melabraknya seolah membenarkan gosip tersebut. Jika ia adalah wanita seperti itu. Jika dilayani itu sama saja dia satu kelas dengan mereka tukang gosip.
__ADS_1
"Bukan aq sombong jika aq wanita matrealistis untuk apa aq mau kawin dengan Mas Sakti? seorang Abdi Negara yang gajinya pas-pasan. Aq tinggal minta transferan dari orang tuaku susah apa? Tapi aq urungkan? Aq ingin menunjukkan pada orang tuaku jika aq bisa hidup mandiri tidak bergantung terus menerus dari orang tua. Aq bisa hidup dari bingar-bingar kota yang penuh keramaian. Bahkan aq bisa hidup sederhana tidak perlu memakai segala sesuatu yang bermerk dengan kemewahan dari orang tuaku" Protes Arvi dalam benaknya sendiri.
Seolah ia tidak mendengar secara langsung percakapan ketiga orang sekantor itu. Arvi juga tidak menegur atau mencoba mendekat menghampiri ke arah mereka. Seolah tidak terjadi apa-apa. Arvi hanya tersenyum pahit. Dibalik ramahnya ternyata mereka begitu membenci suami dan dirinya. Entah apa salahnya ia sendiri tak tahu dan tak mau tahu. Yang jelas mendengar kata-kata mereka justru akan menyakitkan hatinya. Arvi tak mau ambil pusing. Orang Papua bilang "Epenkah!!" Bergegas melanjutkan langkah mengambil barang kebutuhan yang akan dibelinya.