
Sakti berlahan menghampirinya sontak Arvi terbangun dari duduknya. "Kakak cari saya?". Sambut Arvi dengan suara lembutnya. Sakti mengangguk pelan. " Saya jenuh didalam ingin cari suasana segar" Jelasnya kembali duduk menikmati pemandangan sekitar rumah yang adem. " Kenapa gak dimakan? ". Tanya Sakti duduk disampingnya karena jatah makan siangnya masih ada diatas meja tidak disentuh sama sekali. Arvi tersenyum kecut. " Aq sudah kenyang kak" Sahutnya yang masih pucat. Sakti meraih dahinya dan Arvi berusaha menghindarinya tapi dengan sigap Sakti menarik tangannya. Arvi teriak kesakitan ia lupa kalau yang sakit lengan kanannya." Aduh sakit ...!!!" Jeritnya kesakitan memeganginya sambil melotot ke arah Sakti. Terlihat lucu ketika gadis muda ini melototinya "Sorry...Sorry lupa " Bujuknya tersenyum menggodanya. Tak disangka Sakti meraih tubuh Arvi mendekapnya dengan erat. Arvi hanya diam terpaku atas sikap atasaannya itu. Ingin menolaknya tapi ia abaikan dari bahasa tubuhnya ia pun menginginkannya. Ia menyukai aroma tubuhnya yang wangi. Perlahan ia lepaskan takut kebablasan orang punya anak. "Aq minta maaf ". Sakti memohon maaf atas kejadian tadi. Menyadari hal yang tidak sepatutnya mereka lakukan bergegas Sakti berjalan kedalam rumah. Arvi ditinggalkan begitu saja diteras belakang dengan perasaan campur aduk.
Rasanya ingin lebih lama lagi suasana seperti ini, rasanya jiwa mudanya kembali bangkit menggelora. Entah sudah berapa puluh tahun ia tidak mendekap seorang kekasih. Dia laki-laki normal yang tetap butuh kehadiran seorang pacar atau kekasih untuk memenuhi kebutuhan seknya. Dia tidak mencari pacar atau kekasih tapi mencari istri yang mau menemani hari-hari tuanya nanti.
Arvila perlahan masuk kerumah tapi terdengar bunyi motor keluar. Arvi menarik nafas dalam-dalam ga tahu harus ngapain tuan rumahnya pergi ga kasih pesan mau kemana. Bergegas ia masuk kekamar dan menutup pintu kamar dengan rapat. Arvi merebahkan badannya dikasur pikiranya melayang memikirkan kejadian tadi. Miring ke kanan kekiri tidak jenak. Pikiran tambah kacau dirumah ini. Arvi menghela nafas dalam mencoba untuk menjernihkan otaknya kayak ada yang konslet. Karena dalam pikiran Arvi, dia pria yang telah beristri dan memiliki anak jadi buang jauh-jauh pikiran ke arah sana. Apa kata orang tuanya jauh-jauh merantau ke Papua kalau hanya mau jadi pelakor. "Apa kata dunia????" Gerutunya menggeleng-gelengkan kepala menolak tidak terima.
__ADS_1
Ketika otaknya mencoba berpikir keras., terdengar suara seseorang memanggil-manggil nama atasannya samar-samar. Rupanya ada tamu datang. Sebetulnya ia malas keluar dan tidak ingin melayani karena sang tuan rumah tidak ada ditempat, tapi rasa itu dibuangnya jauh-jauh. " Iya..." Sahutnya keluar dari kamar melewati ruang tengah menuju ruang tamu. Arvi menyambut tamu atasannya dengan senyum manisnya. Alangkah tamunya terkejut melihatnya keluar dari dalam rumah. Mana pake baju milik tuan rumah. Tamunya dua orang laki-laki dan perempuan sepertinya suami istri. Arvi sama sekali tak mengenal tamu yang baru datang itu, tamunya yang kaget lalu membalas dengan tersenyum masih berdiri dimuka rumah" Adek...Sakti adakah dirumah?" Tanya tamu laki-laki mengamatinya dengan seksama. " Maaf Pak sya tidak tahu kemana perginya. Beliau keluar dari tadi tapi ga kasih tahu mau kemana?". Jawabnya dengan sopan dan lembut "Oh...Lah adek ini siapa?". Timpalnya bertanya penasaran. " Ini...Anu saya asisten dirumah". Jawab Arvi tergagap bingung mau jawab apa. Keduanya mengangguk-angguk saling menatap Arvi jadi risih sendiri gak enak hati. " Ini ada titipan buat dia tolong sampekan yah". Celetuk sang istri mencairkan suasana dengan menyodorkan satu kotak kue yang masih terasa hangat sewaktu menerimanya. Dengan senang hati Arvi menerima kotak kue yang dititipkan. "Maaf Bapak ibu dari mana ? Nanti kalau beliau bertanya ". Selanya menanyakan karena ia tidak mengenal tamunya " Bilang dari kakak dia su tahu itu siapa yang suka antar kue " Sahut istrinya tersenyum. " Kita tidak lama sudah sore anak-anak gak ada yang jaga. Kami permisi dulu " Pungkasnya mengakhiri percakapan sore itu. Dan keduanya pamit pulang.
Arvi menunggu kedatangan Sakti tak kunjung pulang. Padahal udah lewat magrib. "Kemana ini Pak Kabag?". Pertanyaan itu terus muncul diotaknya ga ada hentinya. Dia tambah bete kalau dia dicuekin gini mending dirumah kost mau ngapain aja bebas ini palah suruh jaga rumah orangnya pergi ga tahu kemana. Sempat menghubungi Hpnya tapi ditaruh dirumah. "Maunya apa sih ini orang saya disuruh jaga rumah sendiri padahal aq lagi sakit. Mau pulang ke rumah dilarang. kalau aq pulang lalu gimana ini rumah" Gerutunya jengkel dengan Pak Kabag. Arvi menarik nafas dalam-dalam mencoba untuk menenangkan pikiran yang kalut. "Kalau gini aq dirumah palah tenang" Lirihnya berkaca-kaca menahan tangis saat sepi mendera jauh dari ortu, saudara dan teman-teman.
Suara motor mulai memasuki pekarangan rumah. Rumah terlihat gelap hanya lampu teras yang Arvi nyalakan karena ia gak mau lancang masuk sembarangan dirumah orang. Bergegas ia parkir motor berjalan menuju rumah. Sempat memberi salam tapi tidak ada balasan. Raut paniknya luntur seketika melihatnya tertidur pulas di sofa. Sepertinya ia letih sampai tidak mendengar kedatangannya. Ia tersenyum sendiri melihat secangkir kopi. Rupanya Arvi tahu ia penikmat kopi. Sempat dibukanya kotak kue yang ada dimeja. Melihat jenis kue marmer tak ada orang lain selain iparnya yang datang. "Kenapa ga dimakan?" Tanyanya lirih tersenyum memandangi gadis ayu yang tertidur pulas. Lalu Sakti segera bangkit meluncur ke kamar pribadinya untuk mandi badannya udah lengket sekali.
__ADS_1
Selesai mandi badan terasa segar dan harum ia keluar dari kamar pribadinya. Melihat tidur Arvi yang lelap Sakti tidak ingin membangunkannya. Bahkan sempat ia mengecek kamar tamu yang ditempati Arvi. Dia terkejut bukan main makanan itu tidak disentuhnya sama sekali masih sama seperti tadi pagi. Sakti merasa bersalah sekali rupanya dari tadi siang ia tidak makan dan menunggunya pulang. Sejenak ia merenung mengamati wajah ayu yang terlihat pucat. Sakti mengambil selimut untuk menutupi tubuh Arvi, tanpa sengaja tangannya menyentuh asbak dimeja. Begitu kerasnya asbak itu jatuh kelantai hingga membuatnya terbangun. Secara reflek Sakti meraih tangan Arvi untuk membuatnya tenang. Yah mata mereka kembali bertemu hanya saling menatap tanpa kata. Perlahan Arvi mencoba menghindari tatapan matanya dan melepaskan genggaman tangan Sakti yang begitu erat. " Maaf saya ingin pulang Kak !!".Suara Arvi penuh emosi melangkah menuju kamar tamu tanpa menatapnya. Bergegas ia masuk mengambil tas dan Hp yang ada dikamar. Sakti masih berdiri ketika melihat Arvi keluar dari kamar menenteng tas lalu menarik tubuhnya. Seketika Arvi kaget terjatuh dalam peluknya. Seribu pertanyaan berkecamuk dalam dadanya. " Apa sih yang diinginkan laki-laki ini?" Pertanyaan ini selalu menggelayuti ya. Sakti memeluk tubuhnya dengan erat hingga lengannya terasa sakit." Kak please sakit...!"Suara lirihnya menyadarkan Sakti Buru-buru Sakti melepasnya dan mencoba untuk melihat bekas lukanya. " Maaf aq tidak sengaja. Mari kita ke dokter" Tuturnya mencoba menariknya untuk pergi ke dokter. Lalu Arvi menepisnya,Sakti menoleh ke belakang Langkahnya terhenti seketika. " Saya tidak butuh dokter saya hanya ingin pulang... Saya hanya ingin pulang ". Protesnya sembari menangis seperti anak kecil. Sakti mencoba meraih kedua tangannya tapi ditepisnya. " Iya kita pulang. Anggap saja ini seperti rumahmu bebas mau ngapain aja... "Bujuk Sakti mencoba menenangkannya tapi tiba-tiba tubuhnya roboh tak sadarkan diri. Sakti lalu membawanya ke kamar.
Flassback
Rupanya Sakti pergi belanja mencari baju untuk Arvi di Toko Afdalia Modis yang cukup terkenal di Kota D. Sakti sengaja pergi tidak memberi tahu karena dirumah tidak ada baju perempuan. Dia membeli dua buah baju tidur yang berbeda motif dan beberapa baju dalam ia tak tahu ukurannya cuma mengira-ngira dan penjaga toko pakean yang memilihkan. Waktu masuk ditoko ia agak malu karena toko itu hanya menjual busana wanita. "Untuk istrinya pak? " Tanya Penjaga toko tersenyum ramah padanya. "Saudara mbak" Sahutnya berbohong. " Mbak saya tidak tahu ukurannya mbak pilih sudah pasti pas" Lanjutnya meminta penjaga toko untuk memilihnya. Bergegas penjaga memilih sesuai kriteria yang diinginkan si pembeli. Tidak berapa lama baju yang diminta telah ada ditangan. Sakti tersenyum lega, bergegas ia menuju tempat parkir. Tanpa sengaja ketemu Dino yang sedang nongkrong diCafe. Lama gak ketemu mereka asyik ngobrol sampai lupa tujuan awalnya hanya membeli baju.
__ADS_1