AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
Kenyamanan


__ADS_3

Dijalan dokter Richat melihat penjual mangga yang berjajar sepanjang jalan. Padahal hujan lebat ia segera menepikan mobil membeli mangga. Dalam benaknya Arvi pasti sangat menyukai buah ini. Ia tidak menghiraukan guyuran hujan yang begitu lebat menyerangnya. Bisa memberikan sesuatu untuk yang terkasih rasanya luar biasa tentunya.


Dirumah.


Dengan baju basah kuyup ia pulang ke rumah. Ia terlihat menggigil menahan dingin. Melihat pemandangan itu Arvi merasa iba dengan pengorbanan dokter Richat. Padahal ia tidak memintanya untuk beli buah mangga kegemaran bumil. Buru-buru Arvi menyiapkan air hangat untuknya.


"Mandi mas sudah aq siapkan air hangat!"


"Aq mandi dulu!" Ucapnya menahan dingin hingga bibirnya gemetar.


"Saya takut kamu sakit. Lekaslah mandi mas" jelasnya memberikannya handuk untuknya.


Rasa dingin itu begitu menusuk sampai ke sum-sum tulangnya. Bibirnya bergetar menahan dingin. Dokter Richat pun bergegas masuk kamar mandi mengikuti arahan istrinya. Sambil ngedumel dalam diri


"Coba aq ini dipelukkah? Eh suruh mandi sungguh tidak ada rasa prikemanusiaannya" Batinnya mengharap pelukan istrinya.


Selesai ia membersihkan dirinya rupanya Arvi telah menyiapkan baju gantinya. Segera ia mengganti baju yang telah Arvi siapkan untuknya. Karena rasa dingin tidak kunjung hilang ia berbaring menutup tubuhnya dengan selimut tebal.


Diatas meja secangkir teh dan kue sus telah tersaji. Tapi dokter Richat tidak memperhatikan. Arvi pun tidak kelihatan di kamar. Entah dimana bumil itu berada. Ingin rasanya ia mencari keberadaan sang istri tapi rasa dingin yang menusuk membuat ia urungkan niatnya.


Tidak berapa lama dokter Richat akhirnya tertidur dengan menahan dingin. Walau sekujur tubuhnya telah berbalut selimut tidak mengurangi rasa dingin yang sedang ia rasakan.


*****


Didapur bibik dengan telaten mengupas mangga yang dokter Richat beli. Arvi tidak tahan ingin menikmati enaknya mangga harum manis. Entah berapa puluh kali ia menelan ludah. Hampir air liurnya menetes ingin segera melahap mangga dari suaminya.


"Non ini sudah selesai!" ucap bibik menyodorkan mangga sepiring dengan garpu diatasnya.

__ADS_1


"Makasih bik!" Serunya langsung meraih piring pemberian sang asisten. Sudah dari tadi ia tak sabar ingin menikmatinya. Ketika ia memasukkan mangga ke dalam mulutnya. Seketika ia teringat dengan orang yang membelinya. Lalu ia menghentikan kegiatan makan mangganya.


"Bik simpan dulu aq ingat mas tadi sudah selesai apa belum ya? Aq ke kamar dulu" Ucapnya lalu pergi meninggalkan bibik.


Sesampai di kamar ia clingak clinguk mencari keberadaan sang suami. Pikirnya pasti telah usai mandi. Lalu ia pergi ke balkon mencarinya tak ia jumpai juga suaminya.


"Kemana ini mas dokter? Apa punya ilmu ngilang?" Gumamnya sendiri. Matanya teralih ke tempat tidur. Dimana ada seseorang yang tertutup selimut tebal. Tanpa pikir panjang Arvi berjalan mendekat Tidak ada pikiran aneh pada dokter ganteng itu.


"Mas makanlah kue sus buatanku enak koq rasanya" Ucapnya menawarkan kue sus buatannya.


"Aq juga sudah buat teh hangat. Mas minum biar perutnya!" Lanjutnya duduk membelakangi tubuh dokter Richat. Tapi tidak ada respon atau sahutan dari dokter. Ia diam sejenak menunggu. Lalu ia beranikan diri untuk membuka selimut tebal yang menutupi tubuh kekar dokter Richat.Terlihat dokter Richat tidur telungkup mengenakan kaos abu-abu warna kesukaannya.


"Dokter makanlah dulu pasti kamu lapar" Suara Arvi memintanya lagi tapi tidak ada respon. Lalu ia menyentuh tubuhnya. Alangkah ia terkejut rupanya dokter Richat demam.


Menyadari ada seseorang yang menyentuhnya perlahan ia membalikkan badan. Ia merintih menahan sakit.


"Aq mohon temani aq!" Lirihnya tanpa membuka bola matanya. Sebetulnya ia ingin menolak tapi rasa iba menyelimuti perasaannya saat ini. Walau ia merasa risih dipeluknya.


"Apa aq menyakitimu?" Tanyanya lirih masih menutup mata. Suaranya terdengar serak.


"Eee..Tidak. Aq hanya tidak biasa" Serunya


"please kali ini saja!" Pintanya lirih tapi pikiran Arvi sudah kemana-mana.


"Tetapi??"


"Aq rasa demam"Ucapnya pelan dengan bibir sedikit bergetar.

__ADS_1


"Iya Aq tahu" Sahutnya membenarkan. Arvi dapat merasakan apa yang dokter Richat alami. Dokter Richat tahu Arvi merasa malu dipeluk olehnya.


"Kamu malu?"Tanyanya pelan. Sontak pertanyaan itu membuat Arvi klimpungan wajahnya memerah.


"Atau kamu jijik menyentuhku?" Lanjutnya. Wajah yang semula memerah berubah drastis seratus delapan puluh drajat jadi masam.


Arvi diam dengan pikirannya sendiri. Rasanya ia ingin memukul kepala lelaki yang memeluknya dengan semen satu sak dikepalanya. Kata-katanya gak mengenakan ditelinganya.


Menyadari wanita yang dipeluknya berubah dan mencoba untuk berontak dari pelukannya segera ia membuka mata.


"Kenapa?"Tanyanya pura-pura tidak menyadari akan ucapannya tadi.


"Tidak aq hanya..."Ucap Arvi terhenti sebab Dokter Richat makin mengencangkan pelukannya hingga ia seakan susah bernafas.


"Jangan tersinggung akan ucapanku tadi! Aq suamimu jika bukan karena jijik lalu apa yang membuatmu tidak mau menyentuhku? Bukankah aq tampan? atau kamu sedang berpikir keras mencari jawaban" Ucap dokter Richat dengan frekuensi pede yang luar biasa.


Arvi tertegun menyimak setiap perkataan lawan bicaranya yang mulai ngelantur. Ia tak ingin terbawa suasana.


"Aq ambilkan obat penurun panas" Sela Arvi mencoba menghindar ia tidak ingin terperangkap ucapan dokter Richat.


"Aq tidak butuh itu. Aq butuh dirimu! Aq membutuhkanmu bukan obat itu" Sahutnya masih memeluk Arvi dengan mata terpejam.


"Tapi kamu sakit mas" Ucap Arvi tapi dari bahasa tubuhnya ia tak menghiraukan perkataan Arvi. Ia terus memeluknya. Sepertinya ia menemukan kenyamanan yang selama ini ia cari. Tidur disamping istrinya.


Dokter ganteng itu betul memeluknya dengan erat. Arvi berusaha untuk menurunkan egonya. Bagaimana juga ia suaminya. Dia sudah banyak berkorban untuknya. Kalau toh sekarang dokter Richat sakit sudah menjadi tanggung jawabnya untuk menjaga dan merawat. Apalagi dokter Richat sangat perhatian padanya.


Tidak dapat ia pungkiri jika dokter Richat memang tampan dan berkarisma. Walau usianya tidak muda tapi dia tampan. Jika dibandingkan sebelas dua belas dengan Pak Kabag Sakti. Umur mereka pun terpaut dua tahun. Dokter Richat lebih tua.

__ADS_1


Arvi tidak menolak atau melawan dokter Richat yang tertidur dengan memeluknya. Mungkin dengan memeluk istrinya rasa demam dan gundahnya selama ini akan menghilang dengan sendirinya.


__ADS_2