
Begitu sampai dirumah Pak Hartono uring-uringan mengetahui jika anaknya hampir kehilangan janinnya. Bahkan ia sempat memarahi anak mantunya.
Diruang kerjanya Pak Hartono bicara empat mata dengan dokter Richat.
"Mengapa kalian tidak memberi kabar sepenting ini pada ayah" Ucap Pak Hartono setengah menyudutkan dokter Richat.
" Maaf ayah kami tidak ingin mengganggu waktu istirahat ayah" Jelas dokter Richat.
"Bagaimana bisa dia pendarahan? Kamu tidak bisa menjaga istrimu dengan baikkah!" Ucapnya dengan ketus.
"Aq paham dokter apa yang kamu rasa. Sebagai laki-laki tentu kamu menuntut hakmu tapi bersabarlah dia sedang hamil aq tak ingin cucuku kenapa-kenapa" Lanjutnya.
Dokter Richat terbelalak kaget jika sang mertua akan menggiringnya ke topik itu. Malam pertama yang tak pernah ia cicipi. Ia hanya menelan ludah. Bibirnya kelu tak tahu harus jawab apa.
"Boro-boro menuntut hak sebagai seorang suami. Menatap saja ia ogah seakan-akan Arvi jijik melihatku. Jika yang diingat hanya Sakti. Beruntungnya Sakti dicintai olehnya sedangkan aq? Oh Tuhan rumit beginilah jalan hidupku"Jelasnya dalam hati tanpa berani mengungkapkan perasaannya. Dokter Richat bicara sendiri dalam hati tanpa memperhatikan omongan mertuanya.
"Dokter Richat aq minta maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan" Ucap Pak Hartono membuyarkan lamunannya.
"Tidak apa-apa Ayah. Oh ya saya balik ke kamar dulu untuk melihat Arvi" Pintanya undur diri.
"Dokter jika perlu apa katakan saja ayah sangat senang jika dokter mau bicara" Sergahnya menghentikan langkahnya.
"Tidak ada ayah. Everything It's okey" Serunya tersenyum membohongi diri.
"Mungkin dokter sungkan. Tapi yakinlah Arvi bisa diarahkan. Semoga dokter Richat tidak putus asa menghadapi sikapnya yang keras kepala. Ayah harap dokter Richat mau bersabar sedikit lagi" Ucap Pak Hartono meyakinkan.
"Iya ayah" Jawabnya singkat lalu keluar dari ruang kerja Pak Hartono.
******
Dikamar.
"Tok"
"Tok"
"Tok"
Suara ketukan pintu dari luar terdengar. Tidak terdengar sahutan dari dalam. "Dia tidurkah keluar?" Bisiknya bertanya sendiri. Bergegas dokter Richat menarik handle pintu kamar yang tidak terkunci.
Dengan langkah hati-hati doktet Richat masuk ke kamar. Ia tidak menemukan istrinya di tempat tidur.
"Kemana lagi dia bikin orang pusing aja" Batinnya lirih.
__ADS_1
"Mungkin di kamar mandi?" Batinnya menerka-nerka keberadaan Arvi. Sebab seingatnya dia tidak keluar dari kamar sejak pulang dari rumah sakit.
"Arvi!"
"Arvi!!" Panggilnya mendekat ke kamar mandi yang ada diruangan.
"Iya dok! Saya ada di dalam" Sahut Arvi dari dalam.
Tidak berapa lama Arvi keluar dari kamar mandi.
"Ada apa ya dok?" Sapa Arvi keluar dari kamar mandi.
"Selalu memanggilku dengan formal berapa kali sih harus kukatakan panggil nama saja" Batinnya memprotes.
Dokter Richat mencoba membantu Arvi. Tapi buru-buru tangannya ditepis.
"Kumohon jangan menolakku aq takut kau jatuh" Jelasnya.
"Aq sehat koq tidak apa-apa" Jawab Arvi dengan entengnya menolak niat baiknya.
"Doktet sudah makan?" Tanya Arvi.
"Belum. Kamu juga belum makan toh" Sahutnya
"Belum lapar. Dokter makan duluan sudah" Jawab Arvi menghindar untuk makan bersama.
"Aq juga belum lapar" Seru dokter Richat berbohong. Arvi tahu jika suaminya pasti sudah kelaparan sebab dari tadi pagi belum makan. Arvi merasa bersalah sekali mendengar jawaban suaminya. Dengan cara apa ia harus membalasnya
"Kenapa jadi ribet gini"Gumamnya penuh perasan bersalah.
Arvi mencoba ingin menebus rasa terima kasihnya pada dokter Richat atas kesigapannya tadi pagi membawanya ke rumah sakit. Sehingga janinnya dapat selamat. Hanya janin inilah kenangan yang tersisa dari Sakti.
Arvi mencoba memberanikan diri untuk bicara pada dokter Richat tanpa menatap matanya. Jika ia fokus menatap matanya ia takut khilaf.
"Dokter biar aq minta bibik siapin makan siang mu" Ucapnya mencoba berani bicara. Keduanya terlihat kaku.
"Baiklah kalau kau tidak keberatan menemaniku makan siang" Serunya tersenyum.
"Tentu tidak" Jawabnya penuh semangat. Ia juga tidak menyangka dokter Richat mengerti akan maksudnya.
"Istirahatlah biar aq saja yang suruh bibik bawa makan siang ke kamar" Ucap dokter Richat memberi saran. Ia tak ingin Arvi terlalu beraktivitas. Arvi menyetujui saran suaminya tersebut
******
__ADS_1
Bibik membawakan dua porsi makan siang buat mereka berdua ke kamar.
"Makasih ya bik!" Seru dokter Richat
"Iya dok. Sama-sama. Bibik ke belakang dulu mau nyetrika" Jawab bibik dengan sopan dan meninggalkan keduanya untuk makan siang.
Dengan telaten dokter Richat mengambilkan menu makan siang untuk istrinya.
"Sudah cukup ini terlalu banyak" Seru Arvi menolak sebab porsi yang diberikan dokter Richat porsi jumbo.
"Bumil harus makan banyak biar janinnya sehat" Jelas dokter Richat membujuknya.
"Tapi tidak sebanyak ini mas!" Keluhnya kaget.
Mendengar arvi memanggilnya dengan kata mas. Sontak bibir dokter Richat tersenyum dengan manisnya.
"Aq senang dengan sebutan itu!" Ucapnya
"Maksudnya?"Tanya Arvi belum ngeh dengan maksud perkataan dokter Richat.
"Iya Aq seneng jika kau memanggilku mas dari pada memanggilku dokter terlihat formal dan kaku. kesannya aq tua sekali" Jelasnya tanpa basa basi.
Arvi tercengang dengan penuturan dokter Richat barusan.
"Mulai sekarang dan seterusnya panggil aq mas saja. Sekarangkan aq jadi mas Jawa kalau balik ke Papua jadi Mas Papua" Goda dokter Richat mencoba untuk bergurau agar suasana tidak terlihat garing.
"Ga lucu ya?? Aduh kurang pinter melucu saya" Keluhnya kecewa sebab Arvi tidak begitu menikmati candaannya. Yang ada terlihat tampak bingung dengan canda sang dokter.
"Makanlah! Atau perlu aq suapi" Tutur dokter Richat kembali ke topik awal soal makan.
Arvi menggelengkan kepalanya. Tidak setuju dengan permintaan suaminya itu.
"Aq bisa makan sendiri!" Tukasnya yang langsung menyendok makanan yang telah doktet Richat sodorkan.
Ketika Arvi menikmati makan siangnya doktet Richat hanya diam memandanginya.
"Dokter kenapa tidak makan?" Suara Arvi membuyarkan lamunannya.
"Aq ingin kamu makan dulu baru sisanya aq yang kasih habis" Jawabnya dengan santai tidak terlihat kaku.
Arvi makin heran dan terlihat canggung mendengarnya.
"Kalau begitu kita makan sama-sama" Ucap Arvi memberi ide.
__ADS_1
"Baiklah kalau kamu tidak keberatan" Seru dokter Richat dengan senang hati.
Akhirnya kedua pengantin baru itu makan sepiring berdua. Walau keduanya masih terlihat canggung, tapi Arvi mencoba untuk menutupi kecanggungan diantara keduanya.