AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
Sakti Di Eksekusi


__ADS_3

Dalam perjalanan ke Kota D


Mobil yang ditumpangi Sakti mendadak berhenti. Entahlah sopir tiba-tiba menghentikan laju mobil. Padahal perjalanan masih panjang. Terlihat sang sopir turun membuka kap mobil. Sopir sempat berbincang dengan seseorang. Tapi hari telah gelap sehingga ia tidak terlihat dengan jelas siapa yang diajak ngobrol. Bahkan obrolan keduanya terdengar samar. Sepertinya kedua penumpang itu ikut turun.


Sakti masih berpikir positif. Sebab sewaktu dia naik ada dua penumpang yang duduk di luar. Mungkin sopir ngobrol dengan kedua penumpang tersebut. Lalu Sakti mencoba untuk turun dari mobil menghampiri sang sopir untuk membantu mengecek apanya yang rusak.


"Kenapa berhenti Pak? Apanya yang rusak?" Tanya Sakti menatap Punuh tanda tanya keduanya. Tidak ada rasa curiga sedikit pun dibenaknya.


"Sabar Pak ini gak tahu kenapa tiba-tiba mesinnya berhenti" sahut Pak Sopir menjelaskan.


"Coba saya lihat siapa tahu saya bisa bantu" Sakti mencoba mendekat ke arah sang sopir.


"Mana perjalanan masih jauh?" Sahut salah satu dari mereka mencoba mengalihkan perhatian.


"Bisa-bisa kita bermalam disini" Sahut Sakti tanpa curiga sedikit pun.


"Tunggu saya perbaiki dulu" Ucap Sang sopir meyakinkan kedua penumpang tersebut.k


Tiba-tiba seseorang memukul punggungnya dari belakang sebanyak tiga kali yang mengakibatkannya tersungkur tak berdaya.


"Buuks..Buuks...Buuks!!!" Tanpa ada rasa iba lelaki itu memukul belakang Sakti sebanyak tiga kali. Rupanya ketiganya saling kenal dan bekera sama untuk mengeksekusi Sakti.


"Auuh!!!" Teriak Sakti meringis kesakitan dan seketika keseimbangan tubuhnya hilang. Tubuhnya seketika roboh tiada daya.


"Bruuk" Tubuhnya jatuh tersungkur ke tanah.


"Kenapa tidak kamu pukul di bagian kepalanya dengan kencang? Bagaimana kalau dia masih hidup? Tidak mati" Tanya sang sopir menegur kawannya.


"Yang penting dia roboh duluan baru kita ekskusi lagi" Sahut pria bertubuh tegap.


"Ini namanya kerja dua kali. Bisa-bisa boss kurangi bayaran kita.


"Yang penting jangan cerita. Boss tahunya pekerjaan kita beres gak ada yang tahu"


"Kamu Kenal ini orang?"

__ADS_1


"Tidak. Kenapa boss nyuruh kita menghabisi dia?"


"Kalau dilihat-lihat kasihan tapi apa boleh buat orang punya perintah harus kita laksanakan"


"Sikat aja yang penting dapat duit. Siapa suruh berani melawan bos!"


"Eh kalau kasihan tidak usah kerja? Boss kasih kita uang DP besar loh"


"Siapa mau kasih uang?"


"Itu lagi. Saya yakin orang ini pasti mati"


"Eh sudah jangan ngobrol lebih baik kita buang orang ini sebelum ada orang lain lewat" Sang sopir mengingatkan keduanya.


"Iya tapi mau di buang kemana?"Tanya temannya yang berkulit gelap.


"Buang ke kali saja gak akan ada yang menemukan jasadnya" Jawab rekannya memberi ide.


"Terlalu jauh kalau buang ke kali. Buang di jalan gimana biar ditabrak mobil yang lewat" Teman satunya lagi memberi ide.


"Iya kalau mobil yang lewat laju kalau pelan bisa-bisa diamankan"


"Buang saja ke hutan biar binatang buas makan. Pemukiman masih jauh koq" Cetus pelaku menoleh kedua temannya.


"Kita tetap ikuti perintah boss yang penting jasadnya jangan sampai ketemu" Tutur sang sopir mengingatkan kedua rekannya.


"Buang ke jurang" Lanjutnya.


Kemudian mereka bergegas mengangkat tubuh Sakti bersama-sama dan membuangnya ke pinggir jurang yang letaknya tidak jauh dari tempat mereka menghentikan mobil.


Sang Sopir memberi aba-aba agar mereka serentak membuang tubuh Sakti.


Samar-samar Sakti masih mendengar percakapan mereka. Tapi tubuhnya tak berdaya untuk melawan. Jangankan melawan bergerak saja susah. Tidak berapa lama ia merasakan tubuhnya terlempar kebawah. Ingin rasanya matanya terbuka tapi tidak ada daya.


Ketiga orang itu melempar tubuh Sakti ke jurang yang ada disisi jalan. Tempat mereka membuangnya jauh dari pemukiman warga. Dasar jurang itu cukup dalam tidak akan ada orang yang melihat. Sementara barang bawaan Sakti ikut mereka buang juga. Dalam benak mereka "Mustahil orang ini akan selamat terlebih dahulu mereka telah lumpuhkan"

__ADS_1


Setelah mengeksekusi tubuh Sakti ke jurang mereka kembali melanjutkan perjalanan. Mereka melajukan mobil mengikuti petunjuk big boss.


Dirumah Sakti.


Menjelang malam Ponsel Sakti pun tidak dapat di hubungi. Arvi gelisah sekali. Ia tak tahu harus menghubungi suaminya lewat siapa. Sebab ia tidak tahu nomor ponsel Pak Sekwan. Sementara Ponsel Pak Ketua tidak aktif juga.


Arvi dilanda galau tingkat dewa. Santi mencoba menghiburnya tapi pikirannya ke Sakti terus.


"Arvi makan dulu ya?" Bujuk Santi mengajaknya makan. Arvi tersenyum kecut wajahnya pucat.


"Kamu bisa sakit kalau nuruti Moody " Lanjut Santi mulai kawatir sebab temannya itu makin kurus.


"Iya nanti aq makan" Jawab Arvi melempar senyum seolah-olah tidak ada beban dipikirannya.


"Kamu mau makan apa nanti aq pesan lewat online" Santi mencoba menawarinya tapi tiba-tiba Arvi berlari kecil ke kamar mandi.


"Huuek Hueek"


Santi pun mengikutinya dari belakang. Santi mencoba membantu memijat tengkuk arvi dari belakang. Ia tidak tega dengan kondisi Arvi yang mengalami morning sickness berlebih. Tidak pagi siang atau sore tetap muntah. Ia tak menyangka Arvi tahan. Padahal ia tahu Arvi anak yang cengeng dan juga manja. Mungkin setelah menikah dan hamil jiwa keibuannya muncul.


"Begitu menderita seorang wanita jika hamil trimester pertama harus mengalami morning sickness gini. Bikin saya takut hamil. Jangan mikir dulu soal hamil. Punya pasangan saja statusnya ngegantung gini mikir hamil. Tuhan Tolong ampuni aq" Batinnya memprotes.


"Aq tidak apa-apa. Ayo kita makan" Suara Arvi sedikit agak enakan setelah mengeluarkan cairan kuning yang ada di lambungnya. Terasa lega walau tenggorokannya terasa sakit.


Lalu Santi menyodorkannya segelas air hangat untuk menetralkan perutnya. Dengan senang hati Arvi meminumnya. Santi sangat perhatian pada Arvi. Ia sudah berjanji ada Bu Hartono untuk menjaga dan memperhatikan Arvi disitu.


Keduanya melangkah menuju meja makan yang tidak jauh dari ruang tengah.


Santi meraih piring dan mengambilkan makanan yang telah ia sajikan di meja.


"Aq ingin kamu makan yang banyak biar dedek bayi sehat" Ucap Santi menepuk bahu Arvi.


"Iya tapi tidak sebanyak ini juga kak" Protes Arvi sebab porsi yang diberikan terlalu banyak.


"Eh jangan protes kamu tidak sayang dengan dedek yang ada dirahimmu. Dia butuh asupan gizi yang lengkap biar dia sehat kuat dan cerdas seperti ayahnya" Gerutu Santi penuh semangat.

__ADS_1


"Dari nada bicaramu sepertinya kamu pengalaman dalam mengurus orang hamil?" Sela Arvi tersenyum nyengir melihat cerewet Santi keluar kayak nenek-nenek yang nasehati cucunya.


"Oh tentu saya kan pernah ngurus kakakku yang lagi hamil. Macam kamu ini susah makan ngikuti moody. Sebagai pegawai distrik kadang melakukan penyuluhan ke kampung-kampung untuk mama-mama yang lagi hamil untuk terus menjaga kesehatan agar bayi yang ada di kandungan sehat kuat dan cerdas tentunya. Wah aq hafal banget kalau kasih wejangan buat bumil" Gerutu Santi dengan super pedenya. Gak kalah dengan ibu bidan di rumah sakit.


__ADS_2