AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
Mencari Istri Tercinta


__ADS_3

Hari telah sore Sakti bergegas pulang kerumah. Sesampai dirumah terlihat sepi. Sakti lupa jika istrinya tinggal ditempat kost. Akhirnya ia memutuskan untuk menjemputnya sehabis magrib. Ia sudah rindu dengannya. Seharian di kantor ia tidak bertemu.


Sakti melepas sepatu kantornya, mencoba bangkit menuju ruang tengah. Rumah terasa sepi dan hening. Biar ia telah menikah suasana rumahnya tetap sepi. Sambutan istri sepulang dari kantor pun tak ada. Atau suara tangis canda tawa anak-anak pun tak ada.


Ia menarik nafas dalam-dalam teringat kejadian di Kantor yang seharian ia alami. Begitu nyesek didadanya. Ingin Ia curahkan isi hatinya selama seharian ini di Kantor tapi pada siapa ia bercerita orang tercinta tidak ada kabar beritanya. Sakti mencoba menghubungi istrinya pun tidak aktif lagi.


Segera Sakti masuk ke Kamar untuk mandi membersihkan diri. Suara Azan pun mulai berkumandang menandakan panggilan untuk sholat.


Selesai mandi segera Sakti mengambil air wudhu untuk menunaikan ibadah sholat magrib. Selesai sholat tak lupa ia berdoa dan membaca alfatihah untuk keselamatannya dan juga orang-orang terkasih yang telah berjasa kepadanya. Terutama Ayahanda yang telah tiada. Ibunya pun telah lama sakit-sakitan. Menambah rasa rindunya pada beliau.


Tidak berapa lama motor meluncur membelah jalan ketempat tujuannya bertemu sang istri tercinta. Ia tak sabar ingin menemuinya. Dari luar tampak sepi.


"Tok tok tok..."Suara pintu di ketuknya.


Lama tak ada respon dari dalam. Didalam pun gelap hanya ada lampu luar yang menyala.


"Ceklek"


Terdengar suara pintu terbuka dari tetangga kost Arvi.


"Mas barusan dia keluar dengan temannya" Jelas Ibu itu sembari menggendong anaknya.


"Kira-kira kemana ya Bu keluarnya?" Tanyanya penuh harap


"Kurang tahu mas tapi temannya laki-laki" Jelasnya dengan ramah.


"Dia ga titip pesan apa-apa Bu?" Tanya Sakti.


"Enggak tuh mas. Dari kemarin juga ga pulang. Ga tahu kemana? Siang tadi baru datang. Saya gak berani tanya mas" Jelas ibu itu dengan ramah menjelaskan.

__ADS_1


"Saya hubungi Hp nya tidak bisa Bu" Sakti terlihat gusar mendengar penjelasan tetangga kost Arvi jika pergi dengan teman laki-laki.


"Kalau dia pulang Bu tolong sampaikan saya mencarinya" Sakti meminta izin pamit.


Di sebuah Caffe Arvi tampak duduk dengan santai penuh canda tawa menikmati makan malam bersama Adi dan beberapa rekan kerjanya yang ada di Komisi. Kebetulan selesai pulang kerja Adi menjemputnya dengan motor.


Arvi memesan nasi goreng spesial serta jus alpukat begitu pun Adi. Keduanya kompak memesan makanan yang sama. Bahkan teman-temannya mengira kalau keduanya sedang dalam masa pendekatan. Arvi hanya tersenyum saja ketika teman-teman menggodanya. Sikap Adi pun mengiyakan seolah-olah mereka memiliki hubungan spesial. Sikap Adi begitu perhatian pada Arvi membuat siapa saja akan mengira kalau keduanya sedang pacaran.


"Kak Adi nanti pulangnya ikut ya?" Setengah berbisik Arvi pada Adi disela-sela menikmati makan malam di Caffe.


"Iya pasti aq antar bang ojek siap antar jemput" Seru Adi membuat suasana makan rame diikuti teman-teman ikut tertawa.


"Apaan sih?" Celetuk Arvi tersenyum menimpali Adi.


"Arvi tenang aja kalau ada Adi semua beres" Tambah Firman menyaut.


"Yoo Hambur terus!!" Seru Adi berkelakar.


"Kawan kamu mau apalagi? Mumpung ada yang single ambil sudah" Bujuk Firman tertawa menggoda Adi.


" Emang barang?" Celetuk Rina.


"Minta toh di Pak Ketua selaku wali nikah" Seru Markus memberi ide pada Adi.


"Bukan cuma di Pak Ketua tapi Pak Kabag Persidangan juga" Sela Firman.


Arvi hanya tersenyum mendengar celotehan teman-temannya di Komisi. Mereka tahu kalau Adi sangat menyukai Arvi yang tenang dan cantik. Bahkan Baru kali ini Adi terlihat agak agresif. Rina yang satu ruangan pun di buat heran.


"Bagaimana Pak Kabag Persidangan mau jadi Wali nikah kalau dia sendiri masih bujang Tara laku kalah saingan dengan yang muda-muda, terlalu bepilih" Suara Markus diikuti gelak tawa mereka.

__ADS_1


"Ha hahaha."


Mendengar suaminya jadi bahan ejekan Arvi merasa bersalah sekali. Ia diam tak ikut tertawa. Menyadari hal itu Adi sempat memperhatikan raut wajah Arvi yang terlihat murung dan berubah.


"Kamu kenapa? Mereka hanya bercanda" Suara Adi mencoba menghibur.


"Gak pa-pa kak ".Sahut Arvi tersenyum padanya.


"Eh saya antar Arvi pulang dulu takut kemalaman besok kita ketemu di Kantor"


"Oh ya sudah hati-hati. Jaga itu Adi anak orang" Sahut Rina menggodanya.


"Dasar kalian kalau bukan anak orang anak apa? " Suara Adi menimpali sembari bercanda.


"Anaconda" Sahut Firman berkelakar.


"Kami pulang duluan kak"Suara Arvi pamit pada rekan kerjanya sembari berjalan melambaikan tangan kearah mereka menuju kasir.


"Iyo sudah sedikit lagi kami juga pulang". Sahut Firman tersenyum menyambut lambaian tangan Arvi.


Waktu menunjukkan jam sembilan lewat empat puluh menit. Arvi dan Adi sampai di tempat kostnya. Adi bergegas pamit langsung pulang apalagi sudah malam teringat esok hari harus ke kantor. Tak lupa Arvi ucapkan terima kasih atas traktiran makan malam tadi. Adi pun tersenyum dengan senang hati.


Tanpa pikir panjang Arvi bergegas masuk kedalam kamar kos membersihkan diri untuk menunaikan ibadah sholat isya yang tertunda. Selesai sholat dia baring di kasur mencari ngantuk. Di raihnya Hp itu di meja pikirannya tertuju pada suaminya. Tidak berapa lama rasa kantuk tidak dapat ia lawan. Akhirnya ia tertidur dengan membawa rasa bersalahnya pada Sakti. Pikirnya Sakti juga sudah tidur pasti.


Flasbeck dulu


Di Kantor tadi pagi Arvi dan Adi serta beberapa rekan kerjanya duduk di lobi. Mereka tampak asik ngobrol. Arvi jarang bergabung dengan mereka. Sebab kalau ada waktu luang Sakti memintanya kerja diruangan. Mereka sepakat makan malam di Caffe. Sebab mereka habis terima uang lembur Sidang dari Kantor. Arvi bersedia ikut mengingat ia orang baru di Kantor.


Ga ada salahnya ikut bersosialisasi dengan mereka teman kerja di Komisi. Akan tetapi ia lupa kalau dia sudah menikah punya suami. Suaminya pasti mencarinya. Sebetulnya ia kepikiran belum memberi kabar pada suaminya. Hp nya juga lagi error' belum sempat ia perbaiki di konter.

__ADS_1


__ADS_2