
Motor melesat kencang menuju arah kota. Tidak berapa lama sampai ke tempat tujuannya Caffe Saudara langganannya. Ia langsung menuju tempat parkir. Sesampai ditempat parkir Ketika hendak mencabut kunci ia baru ingat kalau Hp nya masih dirumah. Tanpa kompromi Sakti mengendarai motor balik kerumah untuk mengambil Hp yang ketinggalan. Motor melaju menusuri jalan gang masuk menuju rumahnya yang selalu sepi. Ketika memasuki halaman rumah sorot lampu motor tertuju pada seseorang yang sedang berdiri sendiri di muka pintu rumahnya. Dari tempatnya berdiri Sakti tidak asing dengan tubuh semampai itu. Yah gadis yang mengusirnya pulang sore tadi. Perlahan Sakti berjalan mendekatinya. Dari sorot matanya sepertinya dia baru menangis. Dia tersenyum kecil sewaktu dihampiri Sakti. Ada rasa minder dan perasaan takut bimbang jadi satu"Sakti tidak habis pikir dengan ini ceweq tadi siang tanpa sebab ditelp jutek disamperi kerumah disuruh pulang. Eh malamnya datang sendiri kerumah pake acara habis nangis kayak drama aja di tv-tv. Emang ceweq susah ditebak pokirannya". Ungkitnya dalam benaknya. Belum sakti menyapanya Dia lebih duluan menegur. " Met malam Pak Kabag maaf mengganggu" Suaranya bergetar ia begitu cemas. Sakti lalu meraih tubuhnya dan mendekapnya erat. Arvi menagis sejadi-jadinya dalam dekapannya. Sakti ingin menginterogasinya tapi ia urungkan. Sebetulnya ia penasaran apa yang menjadi penyebab dia nangis malam-malam datang kerumahnya. Begitu dia agak tenang Sakti membawanya masuk kerumah. Sakti ke dapur mengambil segelas air putih dan menyodorkannya. Arvi pun menerima dan meminumnya. Mereka duduk bersebelahan terlihat Arvi canggung. Sakti tersenyum menggoda untuk mencairkan suasana hatinya yang kalut. " Pak Kabag...."Suara Arvi terhenti Sakti mencium dan ******* habis bibirnya tak tersisa. Begitu brutalnya ciuman Pak Kabag Arvi seperti kehabisan nafas. Nafasnya tersengal-sengal seperti orang berlari jauh. Mereka saling membalas dan menikmati ciuman mesra itu. Jiwanya lagi terbang melayang menikmatinya. Sakti mulai mengalihkan kecupannya ke arah leher dengan sigap Arvi mendorong dan menggelengkan kepala menolaknya. Sakti tersenyum malu dihadapannya. " Jangan Pak ". Suaranya menolak. " Aq mohon kamu berhenti panggil aq Pak Kabag saya tidak suka". Pinta Sakti menggenggam erat kedua tangan Arvi. Nafas panjangnya terasa berat mendengarnya. " Kamu kan orang Jawa masa gak terbiasa panggilan mas atau abang? Setahuku orang Jawa suka memakainya. Oh ya saya gak suka kamu panggil Kakak emang aq kakak pembina Pramuka" Sewot Sakti mengultimatum Arvi soal panggilannya. Sejenak Arvi tersenyum dan menyadari kenapa tiap kali di Panggil Pak Kabag dia suka Jutek. " Loh kan Pak Kabag bukan orang jawa?" Protes Arvi yang dibalas Sakti melotot. " Belum ada satu menit eh... sudah lupa" Protes Sakti masih duduk disampingnya dengan wajah sedikit bete. Arvi tersenyum melihat sikap Sakti yang bete seperti anak kecil meraju tidak dikasih gula-gula. " Mas kenapa tidak angkat Hp?". Suara Arvi memulainya. " Tahu jawabnya masih tanya lagi". Sahut Sakti mencoba ingin mencium bibirnya tapi Arvi melengos yang kena pipinya. Arvi tersipu malu melihat aksi nakal Pak Kabag yang terus ingin melekat. " Please Jangan berlanjut..." Arvi memulai serius " Why..??". Tanyanya sok Inggris. " Saya tidak mau jadi pelakor" Hardiknya menatap tajam. Sakti membalasnya tersenyum kaget " Dia tidak tahu kalau aq belum punya istri dan anak. Sasaran empuk ini" Batinnya. " Dari mana kamu tahu kalau aq sudah beristri ?". Sakti berbalik menatap lebih dalam " Kan tidak mungkin seumur mas yang sudah tu....a ". Ucapnya terhenti membuat Sakti tak terima dibilang tua. " Oh.... Jadi karena aq tua pasti sudah punya anak dan istri ". Sakti emosi dengar kata tua. Dengan polosnya ia mengangguk merasa bersalah atas ucapannya tadi "Dasar anak bau kencur sok tahu!!!". Lanjutnya memarahi Arvi. " Kamu takut bersamaku?". Tanya Sakti menggenggam erat tangannya dengan tenang. Membuat Arvi terdiam sejenak memahaminya. Arvi menarik nafas panjang ia hanya geleng kepala pelan " Umurku memang tak muda lagi sepertimu. Aq hanya butuh kepastian bukan mencari kesenangan semata. Aq cari istri bukan pacar ". Tutur Sakti langsung tanpa ada yang coba ditutupi. Arvi hanya tertegun mendengarnya. Wanita mana yang tidak klepek-klepek mendengarnya. Dia tidak ingin pacaran tapi langsung nikah " Pergi dan manjauhlah jika hanya bermain". Pintanya mencoba meyakinkan. Arvi melepaskan tangannya. Mencoba untuk berpaling sejenak berpikir jernih apa yang diutarakan Pak Kabag ini serius atau hanya buat bercanda. Arvi jadi bimbang. Sakti bangkit dari duduknya melihat anak buah dikantornya yang tidak bereaksi apakah menolak atau menerima. Sakti tahu kalau Arvi ragu. " Mas mau kemana?" Tanyanya pelan mengangkat wajah ayunya tersenyum bimbang " Mengantarmu pulang". Sahutnya berdiri menatapnya. " Aq tidak ingin pulang mas!". Sahut Arvi pelan mengalihkan pandangannya. Sakti menghela nafas panjang. " Lalu kamu ingin apa?". Tanyanya bersikap sabar. " Saya cari teman ngobrol ". Sahut Arvi. " Tidak ada teman dalam kamus besarku untuk seorang wanita. Lebih baik kamu ku antar pulang sebelum aq berubah pikiran". Hardiknya memperingatkannya. Perlahan Arvila bangkit dari tempat duduknya dan melangkah menjauhinya. Dia takut untuk bicara. Jangankan bicara lidahnya terasa kelu. Sakti memejamkan mata tangannya mengepal menahan amarah kecewa. "Gadis itu betul-betul menolaknya" Batinnya kecewa. Ia lelaki tak ingin memaksanya. Arvi berjalan keluar sembari menyika air matanya yang berderai.
__ADS_1
Menyadari Arvi pergi dari rumahnya Sakti berusaha mengejarnya sampai teras.
__ADS_1
Begitu rapuhnya iman mereka. ***** Keduanya tidak tertahan. Yang ada gelora asmara begitu berkibar tinggi ke angkasa. Keduanya berdiri saling menatap satu sama lain. Sakti sandarkan ciuman mesra kebibirnya Arvi pun membalas ciuman mesra itu. Entah sejak kapan mereka saling menyukai satu sama lain. Mereka saling berciuman dan Sakti mencumbunya penuh *****. Arvi lupa diri sampai bajunya mulai terbuka akibat cumbu mesra lelaki yang sedang menggerayangi tubuh sensitivenya!!. Tanpa dikomando Sakti mengangkat tubuh Arvi masuk ke kamar pribadinya. Sakti mencium dan mencumbu tubuh Arvi yang wangi dengan liarnya hingga mereka saling melepas baju dan melemparnya ke lantai berserakan. Sakti menidurkan tubuh arvi dikasur kesayangannya. Yah tanpa ada perlawanan Sakti menindis tubuhnya. Mereka bergumul dikasur hampir setengah jam melepasakan segala hasrat yang tak tertahan lagi. Mereka begitu menikmati suasana romantis malam itu. Arvi begitu terlena dan pasrah dengan apa yang dilakukan Sakti. Tidak ada rasa canggung rasa itu melebur menjadi satu tanpa ada perbedaan. Tubuhnya yang kuat menindisnya tanpa ada perlawanan atau penolakan dari Arvi. Perbuatan itu dilakukan atas dasar suka sama suka. Hingga tanpa ia sadari keperawanannya hilang ditangan Sakti. Pak Kabag telah merenggut kesucian yang selama ini dia jaga dengan gagahnya. Mereka telah melakukan hubungan terlarang itu. Perbuatan yang dilarang dimata agama dan negara karena belum ada ikatan perkawinan yang syah. Malam yang bergairah telah mereka lalui dengan romantis. Kejadian yang tak seharusnya mereka lakukan.
__ADS_1