
Sampai di tempat kost Santi hanya merenung memikirkan kabar Arvi.
"Jika keduanya dibunuh? Tuhan salah apa keduanya? Arvi sedang hamil Tuhan lindungilah dia" Gumamnya bicara sendiri.
Flass beck
Pulang dari tempat tugasnya di Distrik. Santi langsung naik ojek ke rumah Sakti. Tapi sampai dirumah Sakti ia tidak menemukan siapa-siapa? Rumah kosong Tidak ada orang.
Hari itu ia kecewa sekali tidak menemukan keberadaan Arvi. Sebetulnya Santi ingin turun ke kota tapi banyaknya pekerjaan kantor mengharuskannya tetap stay di distrik. Sehingga ia tidak punya kabar tentang Arvi. Ingin mencari ke rumah ipar Arvi tapi ia tidak tahu rumah.
Sehingga ia putuskan pergi menghadap Pak Ketua. Dengan angan-angan ia akan menemukan kabar berita tentang Arvi dan suaminya. Rupanya Pak Ketua juga tidak mengetahui kabar tentang keduanya.
Flashback off
Hari yang ditunggu pun tiba.
Sesuai dengan rencana Pak Hartono menikahkan Arvi dengan dokter Richat. Acara pernikahan cukup sederhana hanya keluarga dan rekan kerja Pak Hartono. Arvi mengenakan kebaya putih. Terlihat cantik dan elegan.
__ADS_1
"Kamu cantik sekali sayang! Ayah sampe pangling" Puji sang ayah penuh haru menatap anak bungsunya yang terlihat cantik dimoment hari ini.
Arvi hanya tersenyum mendengar pujian ayahnya. Ia tak tahu harus bersikap apa padanya. Hanya senyum yang ia tunjukkan. Pak Hartono tahu jika putri bungsunya sedang menipu diri. Seolah-olah hari ini hari bahagia yang coba ia bangun. Ia seperti boneka hidup. Mau dibikin apa ikut. Ia tak ingin mengecewakan ayahnya. Yang tersisa hanya cincin pernikahan Sakti.
"Lupakan masa lalu bukalah lembaran baru kamu berhak untuk bahagia. Ayah menyayangimu" Ucap Pak Hartono dengan haru memeluk Arvi. Arvi mendekap haru ayahnya.
Arvi hanya mengangguk tersenyum pedih. Dalam jangka satu tahun ia harus menikah untuk yang ke dua kali."Aq ini bodoh atau dungu? Tak seharusnya kulakukan. Maafkan aq suamiku tidak ada pilihan lain" Bisiknya memohon maaf atas tindakan bodohnya ini. Jika ia batalkan bisa-bisa ayahnya mati karena jantungan.
Kenapa hidupnya serumit ini. Ibarat kata jalan tak ada ujungnya. Tapi ia berusaha untuk tegar menerima semua ini, mungkin sudah jalan Tuhan. Ia tak tahu kedepannya gimana? Pasrah ia hanya bisa pasrah dengan keadaan. Walau Sakti telah tiada tapi janin yang ada dirahimnya menjadi bukti cinta mereka berdua.
Sementara Arvi berjalan beriringan dengan Pak Hartono dan diikuti kedua kakaknya Dinda dan Ayu serta suami dan anak-anak mereka menuju kursi ijab qobul.
Pandangan dokter Richat tertuju pada calon istrinya yang terlihat cantik memakai kebaya. Begitu anggun dan mempesona.
"Oh Tuhan begitu cantik dan sempurnanya istri sahabatku ini. Pantas saja Sakti tergila-gila pada wanita ini. Memang dia sangat cantik dan mempesona walau dalam keadaan hamil" Pujinya dalam hati yang terpesona akan kecantikan calon istrinya. Jantungnya tidak bisa berhenti berdetak kencang melihat kecantikan calon istrinya yang jutek.
Dengan langkah pasti wanita itu mendekat ke arahnya. Dokter Richat menarik kursi ke belakang yang ada di sampingnya. Tidak ada penolakan ketika dokter Richat meraih tangan Arvi untuk duduk di sampingnya.
__ADS_1
Akhirnya keduanya duduk bersanding didepan penghulu. Walau ini bukan yang pertama Arvi tampak gelisah. Terlihat tangan Arvi ******* ***** tangannya sendiri. Dokter Richat memperhatikan wajah cemas calon istrinya.
"Yakinlah" Bisik dokter Richat yang masih terdengar jelas ditelinganya. Arvi menoleh ke samping. Tidak ada sedikit pun keraguan yang terlihat diwajahnya. Ia begitu tenang disampingnya. Betapa dokter Richat bersungguh-sungguh ingin menikahinya.
Air matanya ingin jatuh tapi sorot matanya seakan menyiratkan untuk melarangnya menangis.
"Jangan menangis di hari ini. Kumohon itu sangat menyakitkan. Cukup aq yang menangis dalam hati" Bisiknya dalam hati melihat mata Arvi yang berkaca-kaca.
Upacara ijab qobul pun dimulai dengan kidmat. Pak Hartono tampak bahagia ketika dokter Richat melafalkan ijab qobul hanya sekali tidak ada kesalahan sedikitpun. Pak Penghulu pun secara resmi menikahkan keduanya.
Butir-butir air mata memenuhi pelupuk mata kedua saudara Arvi. Suasana haru begitu terasa memenuhi ruangan itu. Arvi mencium tangan suaminya. Walau sedikit agak kikuk. Tak lupa dokter Richat mencium kening istrinya.
Acara tersebut dilanjutkan dengan prosesi foto kedua mempelai dan anggota keluarga yang begitu berbahagia. Sayang di moment itu keluarga dokter Richat tidak bisa hadir.
Tapi dokter Richat sempat meminta ijin jika hari ini ia akan melangsungkan pernikahan. Keluarga hanya bisa mendoakan semoga acaranya berjalan lancar tanpa halangan.
*******
__ADS_1