
Suasana terasa hening dan kaku seketika. Kedua sahabat yang terpaut dua tahun saling berpikir dengan pemikiran alam masing-masing. Tidak mungkin mereka berdebat dan berselisih paham di depan bocil itu. Apalagi sampe adu jotos. Gawat bisa jadi Junior takut dan tidak mau melihat atau pun mengenal dirinya. Apa kata dunia???? Sudah gila.
Tatapan Sakti tertuju pada bocil ganteng yang menggemaskan. Menyadari hal itu Richat tarlihat gusar. Ada rasa kekawatiran jangan sampai Sakti meminta anak itu. Sebab Sakti sedari tadi mengamati Junior dengan intens. Dari gelagat Sakti, Richat yakin jika keduanya telah bertemu tanpa sepengetahuannya.
"Kapan datang?" Ucap Richat basa basi agar Sakti tidak fokus pada Junior yang duduk disampingnya bergelayut manja. Seolah Richat mempertontonkan keakraban ayah dan anak.
Hati Sakti makin miris dan terasa perih di suguhkan pemandangan seperti itu. Rasanya ingin menelan Richat mentah-mentah lelaki yang telah mengambil istri dan anaknya. Ingin mengambil paksa rasanya tapi tidak mampu.
"Kemarin" Jawabnya singkat tanpa menatapnya. Sakti masih berperang dengan hatinya. Ia merutuki dirinya sendiri.
"Mengapa harus begini? Apa salahku? Haruskah aq mengemis meminta istri dan anakku sendiri? Tuhan rasanya aq ingin melenyapkan Richat dari Junior. Lihatlah tangan kekarnya terus menjaganya!" Bisiknya membatin tanpa ia keluarkan uneg-unegnya.
"Jika tidak ada yang lain kami akan balik ke kamar" Ucap Richat menyudahinya sebab Junior terlihat kelelahan. Walau di kereta sempat tertidur tapi posisi tidurnya duduk tentu kurang membuatnya nyaman.
"Kapan kalian balik?" Sergah Sakti bertanya.
"Mungkin besok" Jawab Richat yang berdiri dari tempat duduknya.
"Cepat sekali. Bahkan kita belum minum bersama" Seru Sakti setengah kecewa mendengar jawaban Richat yang akan pulang besok
__ADS_1
"Aq sudah stop dengan kegiatan itu" Jelas Richat tersenyum getir menatap sahabatnya yang menjaga jarak. Entah gengsi atau dendam yang membentenginya.
"Oh... Arvi melarangmu minum?" Pertanyaan Sakti barusan membuat Richat menelan ludahnya. Sudah di duga Sakti akan bertanya tentang Arvi.
"Pasti keduanya telah bertemu bahkan mungkin keduanya telah memadu kasih tanpa setahuku" Batin Richat mencoba menepis pemikiran yang menjerumus ke arah negatif. Jika itu terjadi wajar keduanya masih suami istri. Tapi bagaimana status dirinya???
"Sial betul aq!" Batin Richat memarahi dirinya sendiri.
"Demi kesehatan" Jawabnya singkat dan padat menoleh ke arah Junior. Sebagai seorang ayah ia ingin memberi contoh yang baik buat putranya.
"Boleh aq memeluknya!" Pinta Sakti berjongkok mensejajarkan dirinya pada Junior.
Richat mengangguk menyetujui jika sang anak boleh dipeluk.
Sakti lalu memeluk erat Junior. Tanpa terasa sudut matanya mengalir butiran air membasahi pipinya yang tak muda lagi.
"Tuhan inikah rasanya memeluk anak sendiri!! Ia anakku darah dagingku" Ucapnya membatin tanpa berani berkata secara lantang.
"Anakku!!" Ucap Sakti lirih menyeka air matanya yang jatuh.
__ADS_1
Mendapat pelukan erat dari pria asing ynag baru di lihatnya tentu membuat Junior tidak nyaman. Rasa sesak akibat dipeluk Sakti membuatnya meronta.
"Om Junior sesak!" Protes Junior tentu Sakti lalu merenggangkan pelukannya. Melihat Sakti menyeka air matanya Junior menatanya dengan intens.
"Mengapa om nangis? Kata Deddy aq laki-laki gak boleh nangis" Celoteh Junior sok dewasa menasehati pria berambut putih yang barusan memeluknya.
Sakti tertawa getir mendengar celoteh anaknya yang sangat tampan dan menggemaskan itu.
"Mata om terkena debu" Kelitnya berbohong pada Junior. Richat tahu jika Sakti sedang berbohong. Rasa haru dan rindu yang menyeruak dihatinya. Tanpa mengeluarkan statemen Sakti tahu jika Junior adalah putranya.
"Deddy ayo balik Junior udah ngantuk!" Pinta Junior yang memang terlihat udah ngantuk banget kecapean di perjalanan.
"Kami balik!" Ucap Richat lirih pamit pada Sakti.
Lalu Richat menggendong sang putra pergi menjauh meninggalkan Sakti yang masih berdiri menatap. Sakti hanya mengangguk ketika keduanya menjauh. Melihat Richat menggendong Junior rasa irinya semakin kuat. Kecewa sedih jadi satu.
Hanya air mata yang tidak bisa ia tahan. Bagiamana pun hatinya sangat sakit melihat pemandangan yang mengiris hati. Andai kecelakaan itu tidak menimpanya dialah yang akan dipanggil Deddy Junior bukan Richat.
Setegar dan kerasnya seorang lelaki dia juga manusia tetap bisa menangis. Lelaki menangis bukan berarti dia cengeng tapi itu merupakan ungkapan dari kesedihan yang terdalam. Adakalanya dengan menangis beban pikiran terasa berkurang. Tentu pikiran akan kembali jernih.
__ADS_1
Akhirnya Sakti putuskan untuk kembali ke kamar. Dia juga sudah capek sekali. Lelah diperjalanan lelah terlalu berpikir semenjak bertemu Arvi. Pesona wanita yang kini berusia 28 tahun begitu kuat mencengkram hatinya. Entahlah siapa yang akan dipilih akhirnya. Penantiannya selama ini tidak sia-sia ia bertemu dengan kekasih hatinya.