AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
Keinginan Dokter Richat


__ADS_3

Di Tempat lain keluarga Markus


Melihat kondisi Sakti yang belum membaik juga mereka berinisiatif membawa orang asing untuk itu ke kota tapi mereka terkendala dengan Medan. Akhirnya dokter dari Puskesmas memeriksanya.


"Pak dokter bagaimana keadaannya?"Tanya ayah Markus penuh harap.


"Bapak dia harus dibawa ke kota untuk pengobatan yang lebih baik" Jelasnya.


"Tapi bapak tidak ada ongkos untuk membawanya ke sana. Kira-kira ada cara lainkah?"


"Bapak tidak ada hanya itu jalan satu-satunya membawanya ke kota" Jelasnya lagi.


"Kamu tidak bisa membuatnya bangunkah? Apa gunanya kamu sekolah dokter tapi tidak bisa menyembuhkan?" Protes ayah Markus.


"Yee Bapak Pak dokter kan sudah kasih tahu jika butuh alat-alat yang lebih canggih lagi" Sela Markus paham akan penjelasan sang dokter.


"Markus kemana Marta saya mau suruh dia rebus air bikin teh buat pak dokter" Ucap Ayahnya.


"Bapak tidak usah suruh Marta dia ada pergi" Jelas istrinya penuh rasa prihatin.


"Bapak tidak usah tadi saya sudah minum" Ucap dokter menolak secara halus.


"Lalu bagaimana ini anak dokter? " Tanya Pak Ayub lagi untuk mencari solusinya.


"Kalau dalam Minggu ini tidak ada perubahan kita bawa ke kota bapak nanti tetap kita bantu" Jelas dokter meyakinkan padanya


"Syukurlah kalau begitu sebab bapak punya uang terbatas" Sela Pak Ayub.


"Bapak tidak usah kawatir tetap kita bantu. Ngomong-ngomong bapak bagaimana ceritanya orang ini bisa dengan bapak?" Tanya dokter penasaran ingin mendengarnya secara langsung.


Akhirnya Pak Ayub menceritakan awal muawal bisa menolongnya. Tanpa ada satu hal yang mereka sembunyikan.


Waktu menunjukkan pukul setengah Lima pagi. Kereta telah berhenti di stasiun Tawang Kota Semarang. Cuaca tampaknya kurang mendukung hujan begitu lebat. Dengan hati-hati Arvi melangkah turun dari kereta. Ia tak ingin turun duluan. Ia memilih terakhir turun. Dengan setia dokter Richat menunggunya. Ia bagaikan CCTV yang terus memantaunya.


"Kita turun sudah!"


"Apa kita? Maksud dokter kita?"Tanya Arvi mengulang kata kita dan dokter Richat mengangguk. Arvi menarik nafas panjang. Dia masih berputar dengan jalan pikirannya sendiri. Rasanya ia sudah kehabisan daya.


"Memang kenapa? Tidak mau turun"


"Bukan badanku"

__ADS_1


"Brruuuk" Arvi jatuh pingsan untung ada dokter Richat yang menolong.


Di Sebuah klinik


Arvi terbaring belum sadarkan diri. Dengan tenang dokter Richat menunggu di sampingnya. Ia memperhatikan kondisi Arvi yang masih pucat.


"Sakti alangkah beruntungnya kamu memilikinya? Dia mengandung anakmu. Tapi kenapa kamu tega meninggalkannya. Aq tahu itu bukan sifatmu yang kukenal" Ucapnya lirih.


"Jika harus bertanggung jawab aq rela menggantikanmu Sakti demi anak yang ia kandung"Lanjutnya masih lirih tapi dapat didengar. Samar namun masih terdengar ditelinga arvi yang terbaring.


"Ya Tuhan kenapa dokter Richat mau menggantikan posisimu mas? Kembalilah mas Sakti aq mohon cepat kembali temui aq di sini bukankah kamu pernah berjanji ingin ketemu orang tuaku bukan orang lain yang menggantikanmu" Batinnya bicara sendiri.


"Aq tahu Arvi kamu mendengarku. Bangunlah!! Aq tahu kamu sangat membenciku bahkan dimatamu aq seperti parasit yang memanfaatkan keadaan ini" Ucap Dokter Richat lirih.


"Kutahu waktu ini tidak tepat untukmu? Sebagai teman suamimu izinkan aq membantumu dengan caraku sendiri. Walau kamu tidak menyukai caraku ini" Lanjutnya menatapnya tapi Arvi melengos. Rupanya kebohongannya dengan berpura-pura tidur ketahuan oleh dokter Richat.


"Biar aq jadi pengganti Sakti! Aq bersedia menjadi ayah untuk anakmu tanpa syarat" Ucapnya pelan tanpa ragu sedikit pun.


"Kamu anggap aq ini apa? Barang yang bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain?" Sela Arvi


"Jangan salah paham dulu. Aq ingin melindungi mu" Jelasnya meyakinkan.


"Tapi tidak hatiku. Maaf aq tidak menyukainya. Carilah wanita lain yang mau menerimamu. Bukan aq" Arvila menolaknya.


Sementara Arvi hanya terpaku mengalihkan sudut matanya yang berair.


"Mendua bukanlah pilihan terbaik"


"Mudahnya dokter berkata seperti itu aq bukan mainan"


"Aq tak ingin memaksamu coba renungkan"


"Maaf dokter saya tidak bisa" Ucapnya kekeh dengan pilihannya.


"Baiklah kuhargai keputusanmu jangan sungkan-sungkan menghubungiku nomorku ada di ponselmu"


Arvi tidak bergeming ia masih dengan jalan pikirannya sendiri.


"Bisa aq mampir ke rumah?" Pinta dokter mengalihkan topik.


"Ngapain?"

__ADS_1


"Silaturahmi aja!"


"Oh???"


"Dilarang toh?"


"Dilarang sih tidak? Cuma jaga-jaga aja!"


"Sebegitu nya kamu menaruh curiga sama aq??" Pelototnya


"Antisipasi saja"


"Emang aq virus yang harus dicegah dan dihindari?"


"Dokter bisa saja mengalihkan topik"


"Bukan mengalihkan tapi menghiburmu biar tidak stress"


"Tapi aq tidak gila?"


"Itulah hebatnya kamu"


"Kenapa??" Tanya Arvi penuh penasaran


"Karena kamu cantik"


"Stop deh ngegombal karena itu tidak akan berpengaruh di aq!"


"Oh ya?? Tidak salah Sakti memilihmu. Saya jadi kepo Sakti pake jampi-jampi apa untuk mendapatkanmu! Saya ingin belajar dari nya?"


Arvi tertawa merasa terhibur dengan candaan sang dokter ganteng itu.


"Ketulusan hatinya!"


"Woow hebatnya dia meluluhkan hatimu. Aq kalah langkah"


"Sudah ah aq ingin segera pulang ketemu orang tuaku mereka pasti merindukanku"Ucapnya mengingatkan sang dokter. Perlahan ia bangkit dari tempat tidur di klinik. Dengan penuh sabar ia membantunya tapi Arvi menolaknya


"Jangan dok! Saya rasa cukup sampe disini tidak lebih. Kuharap dokter mengerti itu"Lanjutnya menolak.


"Arvi biarkan aq mengantarmu sampe rumah jangan menolakku" Pinta lagi dokter.

__ADS_1


"Berapa kali sih aq jelaskan? Sudah ah aq tidak mau ribut buang-buang energi yang gak penting" Sahutnya melangkah tanpa mempedulikan orang yang sedari kemarin menolongnya terus.


Sang dokter tidak mempedulikan dengan penolakan Arvi. Ia tetap mengikutinya. Sebab ia tidak ingin Arvi jatuh pingsan lagi.


__ADS_2