
Sakti mengedarkan pandangannya dari jauh ia melihat Richat yang dengan wajah yang tak biasa. Sebagai teman Sakti tahu persis tabiat Richat jika ia bukan perokok seperti dirinya.
Kesempatan inilah yang ingin Sakti ambil. Sebab ia merasa tidak ingin mengulur waktunya lagi. Kehadiran Sakti saat ini tentu membuat hatinya galau dan patah hati. Niat hati ingin mendekatkan diri pada Arvi justru Sakti menghancurkan segalanya. Sakti meluluh lantahkan angan dan harapannya selama ini.
Melihat Sakti berjalan ke arahnya Jantung Richat berdegub kencang. Bukan debaran layaknya orang kasmaran, melainkan gejolak hati yang sedari kemarin siang membuat pikirannya kacau. Richat seperti kehilangan arah ia tak pernah sekacau ini.
Rasa tidak suka menyelimuti hatinya seketika. Ingin menghindar tapi dibilang pengecut. Andai waktu itu ia tak berjumpa dengan Arvi mungkin lain cerita. Tapi Sakti hadir kembali diantara keduanya menambah ruwet saja.
"Inikah akhir dari sebuah penantian? Mungkin ini jawaban dari tete manis yang di atas"
"Sampai kapan main kucing-kucingan? Bagaimana juga harus tegas aq tak ingin mundur sedikit pun"
"Pengorbananku selama ini akan sia-sia saja?"
"Mengapa sesakit ini rasanya?" Batinnya bergejolak bagaimanapun Sakti adalah temannya sendiri.
Tap tap tap
Deru langkah Sakti makin mendekat. Bahkan Indra mereka saling beradu pandang. Dua sahabat yang saling berperang batin mempertahankan ego masing-masing. Sakti ingin mengambil kembali istri dan anaknya, sementara dokter Richat ingin tetap mempertahankan apa yang dimilikinya sekarang keluarga yang utuh.
Masih dengan rokok yang diapit kedua jarinya dokter Richat masih asyik menghisap menikmati kegiatannya itu. Sakti mendekatinya. Dengan wajah biasa ia menghampiri sahabat sekaligus tetangganya semasa kecil.
"Sejak kapan merokok?"
dokter Richat hanya mendengus kesal mendengar pertanyaan Sakti yang terdengar meledeknya.
"Broo! Kamu terlihat aneh jika merokok" Cibir Sakti seraya menggodanya. Sakti tahu jika sahabatnya itu bukanlah orang yang suka merokok.
"Basi" Ucapnya kesal
"Bukankah profesimu seorang dokter mengharuskan untuk tetap menjaga kesehatan. Kenapa kamu melanggar aturan itu" Sindir Sakti setengah bercanda. Ia ingin mencairkan suasana diantara keduanya.
"Dokter juga manusia"
__ADS_1
"TOLONG HENTIKAN SANDIWARANYA!"
"Apa maksudmu dokter Richat"
"Hentikan omong kosong ini! Katakan jika kamu ingin mengambil kembali istri dan anakmu!.... Setelah tujuh tahun lamanya kamu menghilang entah kemana. Jangan harap kamu bisa mengambilnya dariku. Mereka kebahagianku" Hardik dokter Richat mencengkram kerah baju Sakti dengan kuat. Dokter Richat seperti orang kesetanan. Tidak ada angin atau hujan tiba-tiba ia mencengkram kerah baju Sakti kuat dengan tatapan mata yang seakan siap untuk menerkamnya.
Sakti pun tak mau kalah menatap tajam padanya. Dari cara mereka menatap terlihat jelas aura kebencian yang membuncah.
Tangan Sakti mencoba melepaskan cengkraman tangan rivalnya sekaligus teman dekatnya. Tangan Sakti tak kalah kuatnya.
Aliran darahnya seakan mendidih seratus Derajat. Tatapan dokter Richat berbeda dari kemarin. Tatapan kerinduan akan sahabat yang lama tidak berjumpa itu berubah seratus delapan puluh derajat menjadi tatapan kebencian.
Entah kenapa Sakti merasakan sikap dokter Richat berubah tidak seperti kemarin.
"Apa karena ada Junior?" Batin Sakti melihat sikap Richat.
Tapi Kini tatapan matanya menyiratkan kebencian yang luar biasa. Seakan akan ia ingin melenyapkan Sakti tanpa bekas.
"Tapi aq telah menikahinya" Balas Dokter Richat penuh menggebu-gebu
"Sebelum engkau menikahinya dia istriku. Tak seharusnya engkau menikahinya" Jelas Sakti tak mau kalah.
"Aq mendapat restu dari orang tuanya"
"Tapi aq suaminya"
"Aq suaminya sekarang titik...."
Tak mau kalah akhirnya keduanya saling baku hantam. Kedua sahabat itu saling pukul mempertahankan ego masing-masing.
Buuck. buuck buuck
Pukulan bertubi-tubi dokter Richat arahkan ke tubuh Sakti. Tapi Sakti mencoba menghindar. Sebab ia tidak ingin menyakiti sahabatnya itu. Tapi dokter Richat terus menyerangnya sehingga Sakti mengikuti alur permainannya.
__ADS_1
Sakti pun tak mau kalah ia membalas pukulan demi pukulan itu. Jika ia tidak membalas bisa-bisa Sakti mati konyol. Keinginan untuk tidak melawan ia urungkan sebab dokter Richat penuh amarah menyakitinya.
Bahkan dokter Richat yang tidak pandai dalam ilmu bela diri membuatnya terkena beberapa kali dapat bogem mentah Sakti bertubi-tubi. Apalagi semasa remaja Sakti aktif ikut bela diri di sekolah.
Ibarat kata dokter Richat membangunkan singa yang sedang tertidur. Walau ia sudah tidak muda lagi tapi badan Sakti masih lincah mempraktikkan ilmu bela dirinya.
Melihat perkelahian dua pengunjung yang menginap di hotel seperti adegan di film-film laga. Membuat petugas hotel berusaha untuk melerai keduanya. Saking kuatnya hingga petugas hotel kualahan memisahkan perkelahian di lobi hotel.
Tentu adegan tersebut menyita perhatian pengunjung hotel yang lain. Hingga penghuni hotel berkerumun menyaksikan perkelahian tersebut.
"Aduh kasihan masalah apa sampe kayak gitu?" Batinnya penuh tanda tanya.
"Lumayan tontonan gratis kapan lagi lihat adegan langsung" Batin mereka yang seperti antusias menyaksikan perkelahian itu.
"Ini kayak adegan di film action saja"Ucap mereka hanya membatin tanpa berani mengeluarkan uneg-unegnya.
Mungkin dalam pikiran mereka apa ada syuting drama action yang mengambil seting di hotel tersebut. Mereka ditonton banyak penghuni hotel yang kebetulan ada di lobi.
Melihat ada kerumunan Rio dan Mita yang baru keluar dari lift hotel ikutan berjalan cepat menuju keramaian tersebut. Mereka belum melihat secara jelas apa yang di tonton.
Dalam pikiran mereka ada demo atau ada rombongan penghuni hotel yang mau check in. Sebab posisi dokter Richat dan Sakti membelakanginya.
Begitu dari dekat baru mereka sadar jika dokter Richat dalam posisi babak belur di hajar Sakti. Keduanya di lerai pihak security tapi mereka masih terlibat adu mulut dengan sengit.
"Tuhan ampun kenapa jadi begini?" Gumam Mita lirih menyaksikan dokter Richat acak-acakan. Hampir Mita tidak mengenalinya.
"Buset pesona Arvi membuat dua laki-laki itu perang tanding"Batin Rio geleng-geleng kepala seakan tidak mengerti jalan pikiran Sakti dengan dokter Richat.
Penampilan dokter Richat yang selalu rapi ganteng wangi ditambah pembawaannya yang kalem berubah seratus delapan puluh derajat sangat menyedihkan. Dokter Richat tampak lusuh dengan sudut bibir dan hidung berdarah. Entah Sakti pake jurus apa hingga dokter Richat di buat tak berdaya.
Dengan menahan rasa sakit yang luar biasa dokter Richat berjalan teratih-tatih kesakitan memegangi perutnya keduanya di bawa ke ruang management hotel untuk di intrograsi.
Begitupun Sakti mengikuti arahan dari pihak hotel. Ia dikawal security agar tidak terjadi perkelahian lagi. Mereka mau dimintai keterangan sementara Rio dan Mita mencoba untuk menghubungi Arvi agar segera turun ke lobi.
__ADS_1