
"Dia ayah Junior" Suara Arvi terdengar lirih tapi membuat kedua orang itu terhenyak bukan main. Makin kepolah keduanya. Biar keduaya berbeda jenis kelamin tapi soal berita atau gosip mereka paling antusias sekali.
"Whaatt??? Apa aq tidak salah dengar?" Seru Rio penuh pertanyaan jiwa kepo nya meronta-ronta bak seorang infotaimen sejati. Biar laki-laki Rio ember juga anaknya suka ngegosip anaknya gaul abis. Dimana ada Rio suasana jadi heboh beda banget dengan Danuarta orangnya kalem.
"OMG??? Ada harus Junior gantengnya maksimal papanya ganteng gitu" Celetuk Mita masih memuji Sakti yang tampan.
"Lalu dokter Richat itu siapa??" Tanya Rio penuh tanda tanya.
"Ceritanya panjang?" Jelas Arvi singkat melirik Rio yang intens menatapnya.
"Jiss ada aq kamu puji terus itu laki-laki yang suka bikin sakit hati wanita-wanita" Gerutu Rio penuh semangat.
"Kenapa kamu iri sama dia??" Celetuk Mita tiba-tiba.
"Secara gitu loh aq kan kaum Adam wajar jika aq cemburu memang di dunia ini hanya dia yang tampan! Buat apa tampan kalau nyakitin hati Arvi. Sok kegantengan sih dia kira-kira beti (Beda tipis) wkwkwk sama aq "Kilah Rio membandingkan dirinya dengan Sakti.
"Pede banget loh siapa yang bilang kamu tampan? Muka dibawah standar aja bikin diri ganteng. Ngaca-ngaca!!! Ganteng dari Hongkong atau dilihat dari tugu Monas pake pipet teh kotak" Sindir Mita sengit. Walau hanya sebuah candaan tapi Rio gak mau kalah dari Mita.
__ADS_1
"Ye suka-suka aq lah muka-muka aq kenapa kamu sewot? Kenapa kamu dirugikan? Bilang saja jika kamu naksir" Sindir Rio dengan super super pedenya jika ia merasa kalau dirinya memang tampan.
"Huek huek huek!!" Ucap Mita pura-pura muntah meledek Rio yang sok kegantengan banget. Ga tahu kenapa Mita dan Rio jika sudah kumpul bawaannya ribut terus gak jelas.
Melihat kedua rekan kerjanya yang ribut sendiri membahas Sakti menambah pusing pikirannya. Mau usir tidak enak. Mereka berdua lah teman se kantor yang paling kocak.
"Teman sedih bukannya di hibur dicarikan solusinya eh ribut sendiri gak kelas" Cibir Danuarta yang tiba-tiba datang mengagetkan mereka bertiga.
"Sudah malam istirahatlah besok kegiatan!" Lanjut Danuarta dengan tenang.
"Kalian jalanlah dulu!" Suara Arvi meminta mereka duluan.
"Arvi masuklah udara malam tidak bagus untuk kesehatan ingat Junior dan dokter Richat menunggumu di rumah" Suara Danuarta penuh ketegasan. Entahlah Danuarta memang tipekal orang yang gak mau tahu soal masalah orang lain. Tapi dia pendengar yang baik. Walau belum menikah tapi sebagai sahabat dan rekan kerja dia bisa di andalkan.
Akhirnya Arvi kembali ke kamar bareng dengan Mita dan Rio. Mita merangkul dan menepuk punggung Arvi seolah memberi semangat jika Arvi kuat menjalaninya.
Rupanya Sakti memperhatikan percakapan mereka sedari tadi. Sebenarnya ia tidak tega melihat Arvi hujan air mata. Yang ada jika ia muncul tambah ribut bisa-bisa ia kena sasaran amarah dari mereka.
__ADS_1
Malam ini akan jadi malam yang sangat melelahkan. Walau rasa kangennya sudah terobati tapi kabar tentang desas desus yang berhembus di kantornya rupanya benar adanya. Jika istrinya telah menikah dengan dengan sahabatnya sendiri. Ada rasa penyesalan di benaknya tapi tidak bisa ia pungkiri. Akibat peristiwa tujuh tahun silam membuatnya sakit berkepanjangan hampir dua tahun lamanya ia berada di rumah keluarga Markus.
Belum apa-apa dia kalah dulu sebelum berperang. Gimana tidak minder jika lawannya sahabat sendiri. Sahabat sepermainan walau beda jurusan satu memilih dunia kedokteran sementara ia hanya seorang ASN.
Dalam benaknya dokter Richat menang dalam segala hal dari titel, restu orang tua, tanggung jawab selama ini dan yang utama Junior. Anak itu pasti lengket dengan dokter Richat. Sejak lahir laki-laki itu yang selalu menjaga mommy nya.
Rasa takut mulai menghinggapi perasaannya. Bukan ingin lari dari masalah tapi selama tujuh tahun ini ia seperti patah arah. Ia habiskan hari-harinya dengan bekerja. Hingga ia lupa jika ia pernah jatuh cinta punya anak dan istri. Ia ingin bahagia bersama orang yang ia sayangi di hari tuanya. Rupanya doa itu tidak tercipta untuknya. Ia merasa takdir mempermainkannya. Ia tidak bisa menyalahkan istrinya. Sakti sadar diri ini semua karena peristiwa itu.
Mengingat masalah rumah tangganya yang begitu rumit. Seperti di cerita novel-novel yang biasanya laki-laki yang beristri dua tapi ini wanita yang bersuami dua. Aneh tapi nyata itulah hidup gak ada yang bisa menebak nasib orang. Kepalanya jadi pusing. Belum dua puluh empat jam ketemu wanita yang mampu meluluhkan hatinya tapi persoalan berat sudah nampak di pelupuk matanya.
Hari menjelang pagi tapi matanya tidak bisa terpejam. Ada rasa bahagia yang terselip dihatinya rupanya sekarang ia menjadi seorang ayah. Dia memiliki seorang putra. Sakti sempat meminta Arvi untuk mengirimkan foto-foto bocil yang menggemaskan itu. Mendadak bahagia itu sirnah oleh dokter Richat.
"Haruskah kupinta anakku? Walau hanya melihat lewat foto di ponsel pintarnya ya Junior anakku. Wajahnya foto copy diriku sewaktu masih seusianya" Batinnya tersenyum miris.
"Inikah nasibku Kalah sebelum berperang mendapatkan istri dan anakku yang kutinggalkan tanpa kabar berita? Pengecutnya diriku selama ini" Batinnya menyalahkan keadaannya.
******
__ADS_1