AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA

AKHIR PENANTIAN SEBUAH ASA
Tidak Mau Ngalah


__ADS_3

Begitu di hubungi Mita, Arvi turun bersama Junior Tapi ia tidak membawa Junior bersamanya sebab Mita dan Rio melarangnya. Arvi mengikutinya untuk menitipkan Junior pada keduanya. Tentu ia tidak ingin jika sang anak mendengar pertengkaran diantara mereka. Apa kata dunia? Sudah gila!!!! 😀😀😀


Alangkah terkejutnya dia. Tampak Sakti dan dokter Richat dengan kondisi yang memprihatinkan. Keduanya saling menunjukkan tatapan penuh kebencian. Aroma permusuhan begitu kental terlihat. Untuk mencegah kejadian berlanjut mereka di dudukkan pada kursi yang berjauhan agar tidak saling menyerang.


Arvi masuk ke ruangan management hotel. Rasa kikuk makin mendera tatkala dua laki-laki yang ada di hidupnya sedang berselisih hingga baku hantam tidak terelakkan.


Arvi menatap keduanya dengan tatapan campur aduk. Antara kasihan atau ingin marah. Tapi mau marah? Siapa yang akan dimarahi? Apakah Sakti atau dokter Richat? Lalu siapa yang disalahkan?


Jika kasihan? Siapa yang mau di kasihani? Keduanya sama-sama salah menimbulkan keributan ditempat umum.


Yang jelas jika Junior tahu tentu banyak pertanyaan yang akan menjurus kepadanya. Tentu Arvi harus menjelaskan semuanya. Sebab Junior tergolong anak yang cerdas. Rasa ingin tahunya begitu tinggi. Apalagi jika melihat kondisi sang Deddy yang lebam akibat banyak pukulan.


"Selamat siang!" Sapa Arvi memberi salam.


"Siang!"


"Maaf anda siapa ya?" Tanya pegawai hotel berjas hitam dengan potongan rapi dan penampilan maskulin.


"Saya keluarganya"


Arvi meminta maaf pada pihak hotel atas kejadian tersebut. Ia menjamin kejadian perkelahian tidak akan terulang lagi hingga membuat gaduh seisi pengunjung hotel.


Akhirnya pihak hotel bersedia menerima permintaan maaf dari Arvi. Dia juga bersedia membayar kompensasi atas ketidak nyamanan yang diakibatkan Sakti dan Richat. Sebab jika tidak Pihak hotel akan membawa kasus tersebut ke jalur hukum.


Arvi juga tidak mau membuang kesempatan yang ada. Arvi meminta waktu dan kesempatan secara pribadi pada Pihak Hotel. Untuk bicara kepada dua lelaki yang berselisih memperebutkannya. Tentu permintaan tersebut di kabulkan.


"Mumpung mereka berdua ada sudah saatnya bicara" Batin Arvi. Sebab untuk mempertemukan keduanya tanpa Kehadiran Junior. Memang terkesan egois tapi itu pilihan yang harus ia ambil.


"Entah jadinya kayak apa maju saja dulu, akhir belakangan" Ucapnya membatin saja. Sebab ia juga delema sendiri. Ia mencintai Sakti tapi tidak mungkin ia membuang dokter Richat yang telah banyak berkorban untuknya selama Sakti pergi.

__ADS_1


Sebagai wanita yang telah dewasa ia harus tegas menentukan akar persoalannya. Ia juga tidak ingin gegabah.


Ruangan terasa hening. Ketiga orang itu duduk berjauhan. Ketiganya diam dengan pikiran masing-masing. Keakraban itu berubah menjadi aroma permusuhan. Dua sahabat dari satu daerah saling bermusuhan.


Sekitar lebih dari lima menit. Arvi memutar otak untuk memulai percakapan diantara mereka. Suka tidak suka ia harus bicara. Jika diteruskan tidak ada titik temunya. Harus diselesaikan dengan kepala dingin.


Rupanya inisiatif Arvi didahului oleh Sakti. Padahal keduanya tidak janjian.


"Bagaimana.."Ucapan keduanya serentak namun segera terputus sebab dokter Richat mendelik.


"Mereka rupanya kompak!" Gerutu dokter Richat dalam hati.


"Kamu duluan arvi!" Pinta Sakti mempersilahkan Arvi untuk bicara.


"Mas duluan yang bicara" Seru Arvi terlihat malas menatap keduanya.


"Lady first" Sahut Sakti menoleh ke arah Arvi yang sepertinya enggan menatapnya.


Dengan menahan rasa sakit ia bicara


"Aq tahu Arvi ini sangat sulit bagimu tapi pertimbangkan baik-baik. Ingat ada ayah" Lanjut dokter Richat setengah mengintimidasinya dengan membawa-bawa ayahnya. dokter Richat tahu jika sang ayah sangat mendukungnya selama ini.


Entah apa yang ada dipikirannya dokter Richat kenapa ingin mempertahankan rumah tangganya? Padahal ia tahu jika Arvi tidak mencintainya. Bahkan mereka tidak pernah berhubungan badan selama menikah. Tapi ia sangat menyayangi Arvi dan Junior.


"Stop dokter intimidasi istriku" Pekik Sakti tak senang dengan cara dokter Richat membawa-bawa ayah Arvi.


"Sakti kamu kira aq tidak tahu akal bulus mu. Jika kamu laki-laki kenapa kamu tidak meminta izin pada ayahnya sewaktu menikahinya? Kamu tinggalkan dia begitu hamil" Ungkit dokter Richat.


"Tahu apa kamu tentang kami!" Seru Sakti berdiri ingin memukul dokter Richat yang membuatnya emosi.

__ADS_1


"Justru aq ingin menuntutmu telah menikahi istriku" Lanjutnya penuh penekanan. Sebab ia tak terima ia menikahi istrinya.


"Jika dia istrimu kenapa engkau biarkan dia sendiri. Seharusnya engkau mencarinya bukan berdiam diri. Setelah tujuh tahun baru muncul"Sindir dokter Richat pada Sakti


Mendengar sindiran dari rivalnya auto Sakti mendekat ke arah dokter Richat dan ingin memukulnya kembali tapi dengan sigap Arvi melindunginya. Arvi berdiri dengan berani dihadapan Sakti mencoba untuk melindungi Richat yang sudah babak belur di hajar Sakti.


Ingin rasanya ia memukulnya tapi nyali Sakti ciut menatap sorot mata Arvi.


"Hentikan mas dia teman karibmu ayahnya Junior" Pekik Arvi dengan amarah yang tak terbendung lagi.


"Aq ayah Junior bukan dia! Hentikan omong kosong ini" Seru Sakti tak mau terima dengan pernyataan Arvi barusan.


"Mas jika terus memukulnya mas Richat bisa mati! Kamu dipenjara lalu Junior? Mau hidup tanpa ayah!" Ancam Arvi tak kalah sengit.


"Kamu mencintainya? Hingga kamu mau menikah dengannya? Kamu tidak mengingatku sedikitpun" Tanya Sakti penuh slidik. Sakti terlihat kecewa.


"Justru sebaliknya kemana saja selama ini tujuh tahun baru muncul? Ku akui aq salah menerima pinangan dokter Richat kala itu. Sebab saya tidak punya pilihan. Kepulanganku saat hamil membuat ayahku malu. Jika mas Sakti mau menyalahkan salahkan aq saja tidak perlu mas Sakti memukuli dokter Richat" Jelas Arvi panjang kali lebar.


Sementara dokter Richat duduk tertegun mendengar ucapan Arvi barusan.


"Dia menikahiku karena ingin menyelamatkan nama baik keluargaku mas. Semula aq menolaknya pengorbanan dirinya terlalu besar untukmu. Tidak seharusnya kamu menyalahkan dokter Richat. Bahkan kamu telah menyakitinya mas!" Ucap Arvi berurai air mata.


Ucapan Arvi barusan membuat dokter Richat berada di atas angin. Ia tak menyangka jika Arvi akan mengatakannya.


"Jawab aq!! Apa kamu mencintainya? Jawab!!" Sakti meraih kedua bahu Arvi dan intens menatapnya. Sebab ia butuh kejujuran dari Arvi saat ini. Apakah cinta Arvi telah luntur?


Arvi menarik nafas panjang. Ia tak ingin berkata jujur pasti akan menyakiti dokter Richat. Ia menghargai perasaan dokter Richat.


"Maaf mas!! Aq tidak bisa menjawabnya" Ucap Arvi tanpa menatap Sakri. Arvi tertunduk.

__ADS_1


"Lalu kenapa engkau mau kusentuh jika kamu mencintainya?" Pertanyaan Sakti lolos begitu saja dari mulutnya. Tanpa filter sedikitpun Sakti bicara.


Pernyataan Sakti barusan mendapat sorot tajam dari Arvi. Memang Sakti mencari perkara kali ini


__ADS_2