
Melihat ponselnya yang hilang satu seat dengan dokter Richat sungguh hal yang diluar rencana. Arvi tidak terima tuduhan sang dokter menggugurkan janin yang ada dirahimnya. Arvi hanya ingin mempertahankan hidup dengan caranya sendiri.
Sarapan yang disajikan crew cabin pun tidak disentuhnya sama sekali. Perutnya tidak terasa lapar ia hanya ingin memejamkan matanya.
Tanpa terasa perjalanan udara selama empat jam cukup menguras energi. Selama dalam perjalanan Arvi sempat tertidur pulas di bahu sang dokter. Tanpa Arvi sadari sebab ia terlihat capek sekali. Richat hanya tersenyum dengan ulah bumil yang shock jual mahal. Bahkan Richat melepas jaket yang ia kenakan untuk menyelimuti tubuh Arvi. Ia tahu jika AC di cabin pesawat sangat dingin. Sementara Arvi tidak mengenakan jaket layaknya orang bepergian jauh. Sebetulnya Richat ingin kepo tapi Arvi keburu ngambek kayak anak kecil.
"Sayang bangunlah pesawat sudah lending tinggal kita yang tersisa! Atau kamu masih marah tidak mau pulang?" Bisik Richat ketelinga Arvi sambil tersenyum manis sebab tinggal mereka berdua yang tersisa di cabin pesawat. Crew cabin tersipu malu melihat keduanya.
Begitu membuka mata Arvi merasa malu jika sedari tadi ia tidur bersandar di bahu sang dokter yang baik hati itu. Menyadari hal itu Arvi lalu memperbaiki duduknya. Ia tambah spicles jaket yang menutup tubuhnya. "Ada harus tubuhnya terasa hangat rupanya ada jaket dokter?" Batinnya berbisik.
"Sayang ayo kita turun kasihan mbaknya nungguin kita dari tadi" Suara lembut Richat membuyarkan lamunannya. Sebetulnya ia ingin ngamuk mendengar panggilan sayang tapi ada crew cabin memperhatikan mereka.
Arvi hanya mengangguk setuju. Arvi lalu melipat jaket itu dan menyerahkan pada yang punya.
"Terima kasih!" Ucapnya lirih. Akhirnya mereka berjalan keluar dari cabin pesawat secara bersama.
Diruang tunggu.
Arvi ingin segera bergegas keluar dari bandara. Ia merasa jika sang dokter mencoba memanfaatkan keadaan.
"Kenapa buru-buru arvi?" Tanya Richat penuh slidik padanya.
"Ah tidak apa-apa saya hanya takut ketinggalan" Jawabnya berbohong sebab jadwal kereta yang ia pesan berangkat jam sembilan malam sementara sekarang masih jam sebelas siang.
"Ini!" Dokter Richat menyodorkan sebuah ponsel.
Tak lain tak bukan itu adalah ponsel miliknya yang tertinggal di bandara. Ia hafal betul casing warna ponselnya itu. Arvi tidak menduga jika sang dokter yang membawanya. Arvi terdiam mematung. Dia tidak menyangka jika orang yang dituduhnya memanfaatkan keadaan itu berhati mulia.
__ADS_1
"Terima kasih sudah menemukannya"Arvi terlihat berbinar-binar menerima ponselnya itu.
"Boleh aq meminta sesuatu?" Dokter Richat tiba-tiba menatap dalam wajahnya.
"Apa itu? Boleh asal tidak memberatkan" Sahut Arvi mencoba untuk akrab.
"Tidak memberatkan? Maksudnya???" Tanya Richat kepo.
"Iya tidak minta gendong toh?" Ucap Arvi los tanpa ekspresi. dokter Richat sempat terheran dan mencoba mencerna kata-kata Arvi barusan.
"Pikirannya jangan yang ngeres-ngeres?" Celetuk Arvi menunjuk ke arah dokter sambil tersenyum menggoda.
"Rupanya anak ini kepala bermain juga" Bisiknya dalam hati.
"Aq lapar bisakah kita makan dulu" Suara dokter mencoba mengingatkan jika sedari pagi ia tidak melihatnya sarapan.
"Baiklah aq juga sudah kelaparan" Sahut Arvi berjalan mencari tempat makan tanpa mempedulikan Richat yang mengekor dibelakang. Ia hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah bumil.
Selesai makan dokter mencoba menggali informasi tentang keberadaan Sakti tapi Arvi tidak menyaut.
"Oh ya dok saya permisi dulu buru-buru takut ketinggalan kereta" Pamitnya menyudahi makan siang mereka. Tentu membuat dokter bujang lapuk itu tambah jengkel sejengkel-jengkelnya. Kayak tidak merasa bersalah. Bukan soal besarnya harga makanan yang telah mereka nikmati.
"Betul sudah yang Sakti bilang jika istrinya itu unik suka bermain petak umpet" Batinnya berbicara sendiri.
"Hanya segitu saja responmu terhadapku? Busset mimpi apa aq semalam ketemu perempuan jawa ini? Aq gak habis pikir apa istimewanya kamu Dimata Sakti?" Gerutu Richat penuh jengkel. Arvi membulatkan mata ke arah lelaki yang tidak berbeda jauh usianya dari Sakti.
"Pak dokter keberatan bayarnya? Aq bisa bayar semuanya koq. Tenang aq gak suka yang gratis jika buntut-buntutnya ada modus yang tersembunyi" Sahut Arvi tanpa mempedulikan dokter Richat yang ganas akan sikap egoisnya bumil itu.
__ADS_1
"Ih..Ih Ih..!!! Modus? Apa ini maksudnya?" Sela dokter Richat tidak terima.
"Apa namanya kalau bukan modus? Maaf Pak dokter biar saya janda juga punya harga diri" Sahut Arvi masih sewot. Melihat sikap Arvi yang gak jelas itu memancing emosi sang dokter setengah tua itu.
"Whaaat???" Matanya membulat lebar menatap Arvi yang mau beranjak dari kursi duduknya.
"Pantas saja Sakti kabur kalau sikapmu kayak gini?" Lanjutnya dengan nada yang gak kalah ketus dari Arvi.
"Baru maunya dokter apa? Pake bawa-bawa nama mas Sakti segala. Emang saya orang Jawa kenapa ada masalah?" Jawabnya sewot dan ketus gak enak didengar.
"Bisa nggak turunin egomu!! Diiikit aja" Ucap sang dokter memberi kode jarinya. Ia tahu jika bumil ini lagi bete.
Arvi menarik nafas panjang macam dia habis berlari jauh.
"Mungkin mas Sakti juga tidak menginginkan anak ini makanya ia pergi. Jika aq bertahan dirumahnya tamat riwayatku. Aq ingin hidup dengan anakku. Aq gak tahu kesalahan apa yang diperbuat mas Sakti hingga mereka melenyapkannya?" Protesnya menahan emosi yang sedari di dalam pesawat ia tahan.
"Sebagai teman seharusnya anda peka bukannya menyudutkan ku terus menerus. Jika Pak dokter sudah tahu tidak usah tanya-tanya karena itu sangat kenyakitkan" Protesnya pergi menuju meja kasir. Richat pun tak kehabisan akal ia mengikuti bumil.
"Berapa mbak totalnya?"Tanya Arvi pada petugas kasir tempat mereka makan siang.
"Jangan. Biar aq yang bayar tagihannya" Sela dokter Richat melarang Arvi mengeluarkan uang yang ada di dompetnya.
"Tidak usah dok! Saya tidak mau hutang budi" Jelas Arvi menolaknya.
Sementara petugas kasir di bikin bingung dengan kedua pelanggannya yang sama-sama ingin membayar tagihan makan.
"Apa sih maksudmu? Biar saya aja yang bayar ini istri saya" Suara Richat memaksa membayarnya dengan mengeluarkan beberapa lembar uang merah dari dompetnya. Arvi tambah jengkel jika Richat mengaku-ngaku sebagai suaminya di hadapan orang-orang yang mereka temui.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" Protes Arvi tidak terima. Dengan senyum memaksa Richat tersenyum kepada petugas kasir saat memberikan uang kembalian.
"Terima kasih atas kunjungannya!" Ucap sang kasir begitu ramah kepada keduanya yang berselisih paham.