
Dokter Richat rupanya tidak main-main dengan tindakannya. Ia memantapkan diri ingin menikahi Arvi yang sedang berbadan dua saat ini. Dalam benaknya ia ingin menggantikan posisi Sakti sang sahabat yang belum diketahui rimbanya.
Dokter Richat sadar diri jika Arvi tidak menyukainya baginya tak masalah. Ia hanya ingin menolong istri sahabatnya. Entah Arvi memahami atau tidak. Wanita cantik itu berkepala batu juga susah dibilnagin persis dengan perkataan Sakti. Jika istrinya susah dibilnagin.
Semula Pak Hartono ingin membuat acara pernikahan anak bungsunya berlangsung megah dan mewah. Secara beliau kan seorang pengusaha yang sukses dan kaya. Tapi atas saran Dinda dan Ayu meminta agar pesta tersebut diadakan secara sederhana saja cukup keluarga terdekat.
Dokter Richat pun menyetujui saja sebab keluarga besarnya semua berada di Papua. Mereka juga tidak dapat hadir.
Kepindahan dokter Richat ke Semarang pun membuat kaget. Sebab banyak pasiennya yang kecewa. Sebab keinginannya untuk melanjutkan sudah sejak dulu ia tunda. Sekitar tiga tahun lalu. Entah kenapa pikirannya terbelah sejak bertemu Arvi istri Sakti. Rencana hanya ingin mengambil tugas belajar bergeser menjadi nikah.
Batinnya berkata"rencana yang tidak terduga. Dimana keinginannya untuk menikah tahun lalu batal sebab sang kekasih memilih orang lain. Kini ia ingin menikahi istri sahabatnya sendiri Sakti. Mungkin aq ini dokter bodoh dan nekat tapi aq hanya ingin menyelamatkan wibawa Arvi dan anak Sakti. Semoga engkau mengerti tujuanku Salti" Batinnya lirih meminta maaf pada Sakti.
Sore itu Arvi duduk termenung. Sudah dua hari ini dokter Richat diminta Pak Hartono untuk tinggal dirumahnya di kamar ruang tamu. Sebetulnya dokter Richat menolak tapi Pak Hartono setengah memaksa sebab rumahnya banyak kamar yang kosong tidak perlu ngekos. Apalagi sebentar lagi mereka akan menikah.
"Arvi! Arvi!!" Panggil dokter Richat kala itu dia sehabis dari kampus tempatnya menimba ilmu.
Arvi menoleh dengan tatapan tanpa daya. Senyum cantiknya seakan mati. Betapa beruntungnya Sakti memiliki hati Arvi. Walau keberadaannya tak tahu rimbanya Arvi tetap mencintainya.
"Andai aq dicintai seperti Sakti beruntungnya aq??" Ucapnya dalam hati.
Melihatnya tanpa daya membuatnya merasa bersalah padanya. Hatinya teriris-iris. Tak seharusnya ia memaksakan kehendaknya, jika Arvi tidak menginginkannya.
Dokter Richat melangkah mendekat ke arah Arvi. Ia mencoba menebalkan mukanya dihadapan Arvi yang seakan tidak peduli padanya.
__ADS_1
"Bagaimana keadaanmu?" Sapanya dengan lembut dan sopan. Arvi menoleh lalu menunduk.
"Kenapa harus mendekat?Menjauhlah dokter dariku karena sampai kapanpun posisimu tetap sebagai teman Sakti" Batin Arvi bicara.
"Arvi!!! Kamu sudah makan? Mumpung di Semarang temani aq jalan-jalan!" Bujuk dokter Richat mencoba mencari perhatian Arvi. Agar senyum manisnya terbit.
"dokter mau kemana?" Suara lembut Arvi mulai keluar. Dokter Richat merasa lega kalau calon istrinya tidak mogok ngomong.
"Nah gitu ditanya menyaut jangan diam terus" Protes dokter Richat mencoba mencuri pandang Arvi yang berparas cantik.
Arvi setengah melotot merasa risih dengan cara dokter Richat menatapnya.
"Saya gak nyuruh dokter tanya" Suara ketus Arvi.
"dokter jalan sendiri sudah! aq gak enak badan" Sahut Arvi menolak ajakan dokter Richat barusan.
"Kamu demam!" Tanya dokter mencoba ingin menyentuh kening Arvi untuk mengecek suhu badan Arvi tapi buru-buru Arvi menghindar.
"Aq gak demam!" Keluh Arvi menghindar. Dokter Richat pun menarik nafas dalam melihat sikap Arvi yang menjengkelkan.
"Kalau begitu baiklah. Aq kemar dulu. Maaf sudah mengganggumu" Ucap dokter Richat sadar diri jika lawan bicaranya tidak membutuhkannya. Dia bangkit dari kursi tempatnya duduk barusan. Baru berjalan beberapa langkah terdengar suara Arvi.
"Dokter kapan jalan aq titip lumpia ya"Suara Arvi menghentikan langkahnya.
__ADS_1
Ia tahu Arvi tidak bisa kemana-mana sebab Pak Hartono melarangnya keluar.
"Kamu ingin makan lumpia? Ayo aq antar kalau mau!!" Sahut dokter Richat tersenyum menoleh ke arah Arvi.
"Serius dokter antar aq?" Tanya Arvi seakan tidak percaya jika dokter Richat akan mengantarnya membeli lumpia kesukaannya.
"Iya serius? " Jawab dokter meyakinkan jika ia akan mengantarkannya membeli lumpia makanan khas Semarang yang begitu populer. Ia sendiri juga belum sempat untuk mencicipinya.
"Kalau begitu aq ganti baju dulu. Takut kamu muntah cium bauku" Lanjut dokter Richat takut jika Arvi mual tiba-tiba.
"Niat antar gak sih? Kalai gak niat tidak usah?" Protesnya mulai.
"Niatlah maksudku aq mandi dulu baru antar kamu. Soalnya gerah dari kampus. okey!" Jelas dokter Richat menjelaskan sembari mencoba untuk tenang. Tumben tumben Arvi memintanya. Ia tidak ingin membuang kesempatan yang ada didepan mata saat ini.
Arvi tersenyum senang jika keinginannya akan terpenuhi. Sebab selama hamil pingin makan tapi tidak dipenuhi Sakti sebab di Papua tidak ada yang jual seperti yang ada di kota Semarang. Kalau ada yang jual rasanya beda.
Melihat senyum Arvi yang mulai terbit dari lubuk hati yang paling dalam dokter Richat ikut senang. Cerianya kembali muncul tidak terbebani oleh rencana pernikahan.
Akhirnya Arvi dapat izin keluar rumah oleh ayahnya. Sebab Pak Hartono sangat protek begitu tahu Arvi berbadan dua. Entah mengapa Pak Hartono begitu percaya dengan dokter Richat. Jika dipikir padahal mereka kenal hanya beberapa hari saja. Tapi rasa kepercayaannya begitu tinggi terhadap dokter Richat.
Dokter Richat meminta izin pada Pak Hartono. Setidaknya dokter Richat ingin membuat hati Arvi sedikit refres dengan jalan-jalan mencari lumpia makanan yang di idamkan bumil.
Dokter Richat pergi membawa mobil milik bumil. Semula Arvi ingin membawanya sendiri, tapi gak etis. Sebab ada lelaki gagah yang dua puluh empat jam siap melayani dirinya ada di sampingnya untuk saat ini. Arvi duduk didepan sementara dokter Richat jadi sopir🤭🤭
__ADS_1
Mobil pun melaju keluar dari kediaman Pak Hartono. Selama Arvi tidak ada dirumah mobil kesayangannya hanya terparkir di garasi. Sesekali Sopir Pak Hartono membawanya untuk mengantar almarhum sang istri sekedar belanja di swalayan.