
Hari itu Arvi tampak shock dengan penjelasan Pak Sekwan. Rasanya ia ingin menangis tapi hanya bisa ia tahan. Arvi tidak ingin terihat cengeng di depan atasan sang suami.
"Kemana perginya Sakti? kenapa tidak memberi kabar? Dia tidak tahukah betapa aq sangat mengkawatirkan dirinya? Mungkin ini yang dimaksud ayahku. Oh Tuhan inikah cobaan atau aq yang terlalu menganggap ini berlebihan " Gumamnya bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Semakin banyak pertanyaan dihati membuatnya pusing.
"Jika ia pulang kerumah mama mertua kenapa harus padam ponselnya. Ya Tuhan aq bisa gila jika terus menerka-nerka keberadaan suamiku. Mungkin ini yang mas Sakti bilang harus sabar sabar sabar. Tapi sampe kapan aq di buat bingung seperti ini?" Gerutunya bertanya dalam hati tanpa henti.
Menunggu ketidak pastian kabar sangatlah melelahkan menguras hati dan pikiran. Arvi patut berbangga diri. Ia memiliki Santi yang sangat pengertian. Ia tak tahu jadinya jika tidak ketemu Santi teman sejatinya berbeda dua tahun darinya.
Orang yang mengisi kekosongan hatinya telah pergi tanpa kabar berita.Tentu menambah beban pikirannya. Terlebih kondisinya sekarang yang berbadan dua. Arvi mudah lelah dan seringuntah. Berulang kali ia mengusap perutnya yang masih rata. Seakan ingin mengatakan kepada sang jabang bayinya untuk selalu sabar "Sabar ya nak pasti ayah kembali menemui kita"
Sengaja Arvi pulang sendiri ia tidak ingin merepotkan orang lain. Arvi pulang naik ojek ke rumah. Bang ojek langganan pun menjemput sesuai dengan permintaannya. Dengan sigap bang ojek mengantar Arvi ketempat tujuannya.
"Bang sudah pernah pulang kampung?" Tanya Arvi memulai pembicaraan. Sementara bang ojek tetap fokus kedepan mengendarai motor metic nya.
"Alhamdulilah sudah mbak dua kali" Sahut bang ojek tetap fokus kedepan.
"Seneng ya bang kalau pulang kampung"
"Pastinya mbak. Cuma malu mbak kalau pulang gak bawa uang banyak" Suara bang ojek dengan polosnya.
Arvi tersenyum mendengar jawaban polos bang ojek langganannya.
"Emang kalau merantau harus bawa duit banyak bang?"
"Pinginnya mbak tapi biasanya gitu menurut orang-orang. Mbak mau pulang ya?" Bang ojek balik tanya. Sebab sudah cukup lama langganannya ini tidak memakai jasanya antar jemput ke kantor.
"Ah tidak bang" Sahut Arvi
__ADS_1
"Saya kira mbak tanya-tanya mau pulang kampung"
"Lagi hamil gini bang malu kalau pulang tidak dengan suami apa kata orang nanti" Jawab Arvi terlihat tegar. Akan tetapi jawaban Arvi mengejutkan bang ojek hingga ia menghentikan laju motornya. Ia tahu kalau Arvi sudah menikah.
"Loh suaminya kemana mbak?" Bang ojek menoleh kebelakang penuh curiga.
Arvi menarik nafas panjangnya. Mencoba untuk serilek mungkin.
"Panjang ceritanya bang. Sudah dua hari ini gak ada kabar berita. Bang jalan nanti gak sampe-sampe rumah" Jawab Arvi mengingatkan bang ojek untuk melanjutkan perjalanan mereka ke rumah.
"Aduh maaf ya mbak". Suara bang ojek melanjutkan kembali perjalanan mereka yang sejenak berhenti.
Akhirnya bang ojek melajukan motor metic andalannya dengan hati-hati sesuai permintaan pelanggannya. Motor metic andalan bang ojek memang tiada duanya. Bang ojek sudah biasa mengantar jemput Arvi sewaktu masih ngekos dengan Santi.
Selama suaminya jalan dinas. Dirumah ada motor tapi Sakti melarangnya mengingat Arvi berbadan dua. Sakti tidak ingin sang istri tercinta capek kesana kemari dengan motor. Sakti tahu jika sang istri bisa bawa motor tipe apa saja.
Keberadaan Sakti yang hilang tanpa jejak membuat keluarga panik dan dengan berat hati membuat laporan ke Kantor Polisi tapi belum ada hasil. Menunggu kabar Sakti hari demi hari cukup menyita pikiran.
Pandu selaku kakaknya dibikin pusing juga. Sebab tidak biasanya Sakti begitu. Pikiran keluarga mengarah ke satu sosok yang terakhir bermasalah dengan dia. Ya Bu Hanna adalah orang yang bermasalah dengan Sakti. Tapi mereka tidak ingin gegabah menuduh sembarangan. Mereka lebih berhati-hati jangan sampai mereka menuntut balik sebab Putri Keuangan itu terkenal licik dan banyak pelindungnya.
Pandu dan Arie terlihat serius duduk di sofa bersebelahan di rumahnya Mas Pandu.
"Lalu apa rencana kita mas?" Suara Arie terlihat serak berapa kali ia menarik nafas panjangnya untuk mencari ide.
"Entahlah aq juga bingung keluargaku sudah melapor tapi belum ada tindak lanjut" Jawabnya mengangkat kedua bahunya yang terasa berat.
"Jika ia telah meninggal dimana jasadnya? Sebab akhir-akhir ini perjalanan ke sini mulai rawan banyak begal" Suara sang istri ikut nimbrung percakapan kedua lelaki yang berbeda umur tujuh tahun. Mas Pandu mendengar omongan sang istri jadi sewot tidak terima jika sang adek meninggal.
__ADS_1
"Bicara takaruang saja jangan bikin aq emosi dek" Suara Mas Pandhu memarahinya ia tak peduli ada Arie disebelahnya. Tentu Arie membela istrinya. Arie mengerti maksud pembicaraan istri mas Pandu barusan.
"Mas aq bicara bukan mendoakan agar Sakti cepat mati tapi sebagai ipar aq prihatin karena hampir seminggu lebih belum ada kabarnya" Protes sang istri menatap suaminya.
"Iya Aq tahu tapi jangan bicara soal jasad. Aq yakin dan percaya jika adekku masih hidup. Dia harus hidup apapun keadaannya dia harus hidup. Kasihan calon bayi yang ada di perut Arvi" Jelas Mas Pandhu kekeh dengan keyakinannya.
"Mas Pandu tapi kita harus berbesar hati jika kemungkinan terburuknya itu" Sahut istrinya
"Aq tidak terima itu?? Akan kucari dia sampe dapat" Pandu terlihat gusar
"Mas Pandu jangan salahkan Kakak Ipar. Kemungkinan terburuk itu yang kakak ipar bicara, tapi kita tidak boleh menyerah begitu saja. Semoga Tuhan masih melindungi Sakti" Ucap Arie mencoba menengahi kedua suami istri tersebut.
"Semoga saja ada keajaiban dari Tuhan" Sahut Mas Pandu seakan menyemangati dirinya sendiri.
"Amin mas. Semoga Sakti lekas balik kumpul dengan kita. Dia harus balik kumpul dengan istrinya yang lagi hamil. Dia sangat dibutuhkan" Ucap sang istri menirukan air matanya. Pandu lalu mengelus bahu sang istri yang sedih menunggu kabar keberadaan Sakti.
"Mas dan mbak saya harap kalian saling menguatkan. Terutama Arvi istri Sakti saya kawatir kabar ini akan mengganggu kandungngannya" Ucap Arie mengingatkan.
"Itu lagi. Semoga ada keajaiban Tuhan untuk bayi itu" ucap istri Pandu mengusap air matanya.
"Kakak hari sudah larut aq pamit dulu pulang ke rumah" Arie pamit pulang ia sempat melihat arloji ditangannya yang menunjukkan jam dua belas lewat.
"Iyo sudah hati-hati. Kasihan istri dan anak?anakmu dirumah" Sahut Pandu
"Baiklah kakak. Assalamualaikum!"
"Waalaikum Salam!" Sahut keduanya kompak memberi salam pada Arie yang begitu care pada Sakti. Walau mereka bukan saudara sekandung tapi mereka begitu dekat.
__ADS_1
Arie bergegas pulang melajukan mobilnya menuju kediamannya. Sebab istri dan anak-anaknya menunggu dirumah.